Kepemimpinan Perempuan

Iin Karita Sakharina

Oleh: Iin Karita Sakharina (Dosenn Fakultas Hukum UNHAS)

KHITTAH.CO — Dewasai ini anggapan bahwa perempuan belum layak menjadi pemimpin,atau anggapan bahwa pimpinan suatu institusi atau organisasi haruslah laki-laki, sudah ketinggalan zaman, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan juga pemahaman dalam masyarakat, maka anggapan-anggapan tersebut berhasil ditepis bahkan dihilangkan. Terbukti sudah banyak pemimpin perempuan dalam suatu Institusi bahkan Negara. Walaupun di Indonesia, anggapan seperti ini masih tetap ada di sebagian masyarakat, namun paling tidak kita sudah pernah memilki Presiden Perempuan, Megawati Soekarno. Di lingkup Perguruan Tinggi sendiri, sudah banyak perempuan yang menjadi pimpinan, baik sebagai Rektor dalam suatu Universitas, seperti Universitas Hasanuddin yang sudah dua periode di pimpin oleh Rektor Perempuan, yaitu Prof Dwia Aries Tina, juga dalam fakultas-fakultas, seperti Fakultas Hukum Unhas yang juga sudah dua kali dipimpin oleh Dekan Perempuan, salah satunya, Dekan Prof Farida Patitinggi, masih menjabat sebagai dekan hingga saat ini dan juga sudah masuk dalam periode beliau yang kedua memimpin Fakultas Hukum Unhas.

​Perempuan dalam memimpin cenderung lebih effektif dibanding laki-laki, karena perempuan itu memiliki sifat yang lebih detail terhadap segala sesuatunya lebih peka terhadap situasi disekillingnya, lebih powerful jika harus mengambil keputusan yang tegas, lebih lembut jika hadapkan dalam situasi yang Keras. Selain itu perempuan juga dalam memimpin berikap lebih toleran dan terbuka dalam memperlakukan semua anggotanya walaupun datang dari kelompok yang berbeda-beda termasuk jika ada perbedaan keyakinan diantara anggotanya. Perempuan bisa memperlakukan semua angotanya dengan lebih baik karena sifat-sifat keperempuan yang dimiliki oleh setiap perempuan namun juga bisa lebih tangguh jika dihadapkan pada situasi yang lebih sulit karena perempuan terbiasa mengurus anggota keluarganya, sejak kecil perempuan diajarkan dan tumbuh menjadi orang yang lebih berempati dalam masyarakat.

​Namun ada beberapa tantangan yang harus dihadapi jika perempuan ingin menjadi pemimpin. Tantangan Pertama itu datag baik dari diri perempuan itu sendiri yaitu ketidakpercayaan diri yang cukup, apakah dirinya bisa menjadi pimpinan dalam satu organisasi/kelompok/ Institusi. Ketidak percayaan diri dari seorang perempuan ini sendiri yang menjadi tantangan utama, karena bagaiamana seorang perempuan mau maju menjadi pemimpin jika dia sendiri tidak percaya akan kemampuan dirinya untuk memimpin. Sehingga hal pertama yang harus ditumbuhkan adalah kepercayaan diri dari seorang perempuan bahwa dirinya pun bisa menjadi pemimpin. Dalam meningkatkan kepercayaan diri seorang perempuan, maka tentunya dia juga harus berusaha keras untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dirinya, mengetahui dengan baik potensi yang dimilikinya, berusaha keras untuk menggali semua potensi dalam dirinya, berusaha memaksimalkan semua potensi yang dimiliki dalam dirinya, disamping itu seorang perempuan dalam mempersiapkan dirinya maka dia juga harus mengetahui kelemahan yang ada di dalam dirinya, terbuka dengan kritikan yang datang padanya dan berusaha untuk memperbaiki semua kelemahan-kelemahan yang ada padanya, untuk menambah dan meningkatkan kemampuan dirinya.

​Tantangan kedua adalah dari lingkungan keluarga, apalagi jika perempuan itu sudah menikah, maka beban dan tanggung jawabnya akan lebih besar lagi, apalagi di Indonesia yang masih menganut budaya Patriaki masih sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat kita, beberapa kepercayaan, bahwa jika perempuan yang sudah menikah itu akan memiliki tanggung jawab lebih dalam urusan domestic rumah tangga. Walaupun Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi CEDAW atau Konvensi Internasional Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Perempuan yang telah di Undangkand alam UU Nomor 7 Tahun 1984 dan juga sudah banyak pelatihan maupun sosialisasi mengenai Pembagian peran antara laki- laki dan perempuan, termasuk dalam urusan domestic, tetap saja sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa Perempuan yang sudah berkeluarga memiliki tanggung jawab lebih terhadap urusan domestic rumah tangganya,seperti mengurus dan melayani suami, mengurus anak, mengurus dan menyelesaikan semua pekerjaan dalam rumah tangganya seperti mencuci,memasak, dsb.Sehingga dengan adanya anggapan ini semua membuat perempuan memiliki tantangan dan hambatan yang lebih besar ketika akan mencalonkan diri menjadi pemimpin karena kadang dihadapkan dengan situasi yang sulit, apalagi jika beban dan tanggung jawab dalam mengurus keluarga di bebankan pada diri seorang perempuan semuany.

​Tantangan ketiga yang selalu dihadapi perempuan jika ingin mencalonkan diri menjadi pemimpin adalah dari lingkungan kerja atau organisasi dimana seorang perempuan itu akan mencalonkan dirinya sebagai pemimpin, karena masih banyak orang yang bersikap resisten terhadap kepemimpinan perempuan, baik laki –laki maupun perempuan itu sendiri, masih banyak anggapan bahwa suatu institusi atau kelompok lebih baik dipimpin oleh seorang laki-laki, ada juga kelompok yang memang tidak mau dipimpin oleh perempuan.

​Melihat dari beberapa tantangan dan hambatan yang telah dipaparkan diatas, maka hal tersebut seharusnya bukan menjadi penghalang bagi seorang perempuan untuk maju dan menunjukkan kemampuan dirinya. Justru hambatan-hambatan ini seharusnya menjadi tantangan bagi seorang perempuan untuk lebih percaya diri dan berani mengajukan dirinya sebagai seorang pemimpin dengan terus memperbaiki diri dan menambah kemampuan dirinya, tentunya seorang perempuan dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin juga harus bisa menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa dia dapat menyelesaikan dengan baik semua tanggung jawab yang dibebankan padanya baik tanggung jawab dalam lingkungan keluarganya maupun tanggung jawab dalam lingkungan pekerjaan, jika hal ini dapat ditunjukkan oleh seorang perempuan, maka saya yakin akan banyak dukungan terhadap dirinya jika ingin mencalonkan diri untuk memimpin suatu institusi maupun kelompok dilingkungan dia bekerja dan berorganisasi.

​Tantangan lain yang dihadapi perempuan biasanya juga datang dari perempuan itu sendiri, seperti yang telah saya sebutkan diatas. Seharusnya dalam memajukan keberadaan perempuan maka kita sebagai sesame perempuan harus saling mendukung dan membantu, kita harus bersama-sama menghilang anggapan di masyarakat bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin dan hanya pantas menajdi anggota saja dalam kelompok masyarakat terlebih karena perempuan memiliki tugas yang lebih berat dalam rumah tangganya. Kita sebagai perempuan, sebisa mungkin harus mengetahu dan paham bahwa kodrat perempuan itu bukanlah untuk mengurus anak-suami atau keluarga karena itu adalah peran yang berikan masyarakat pada perempuan, kodrat perempuan hanyalah sebatas, haid, hamil, melahirkan dan menyusui, karena itu adalah given yang diberikan oleh Allah Swt kepada perempuan, dimana hanya perempuan yang mendapatkan keistimewaan ini, Adapun semua pekerjaan dalam rumah tangga adalah seharusnya menjadi pembagian peran dan kerja bersama antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri.(*)