Khalifah Usman Bin Abdul Azis Juga Pernah Blusukan, Tapi…

KHITTAH.Co, Umar bin Abdulazis tidak pernah merasa hebat akan jabatannya sebagai khalifah. Jabatan ini justru membuatnya stres. Setiap ia sampai rumah, Umar langsung sujud di ruang khususnya smbil bercucur air mata.  Ucapnya: “Ya ummati. Ya ummati”.

Sejak jadi khalifah, takwanya makin kuat. Sebelumnya, dia masih senang bermewah, makan enak, dan plesiran. Itu pun masih dia lakukan saat jadi Gubernur Makkah, Madinah, dan Thief.

Hingga suatu saat, datanglah sebuah rombongan. Saat mulai dialog, berdirilah anak yang belum 20 tahun. “Yang lebih tua silakan bicara”, pintanya.

Pemuda itu menjawab, “Tuanku, jika usia jadi ukuran, tentu masih banyak orang yang lebih berhak duduk sebagai khalifah ketimbang tuanku”.

Kali ini Usman terkejut. Sambil minta maaf, dipersilakan pemuda itu memimpin.

Taklama kemudian, datanglah seseorang membawa anggur. Lantas,  Usman berkata, “Jual anggur ini ke pasar. Hasilnya berikan untuk makanan kuda itu”.

Tanggung jawab sebagai khalifah, menuntun Usman untuk blusukan. Baginya, blusukan haruslah diam-diam. Jelang tengah malam. Takboleh ada yang tahu, sekalipun pengawalnya. Menyamar, itu caranya.

Setidaknya ada dua tujuan blusukan. Pertama,  tahu kondisi rakyat sesungguhnya. Kedua, blusukan itu jadi bahan kebijakan. Keadilan harus tegak, demi kehidupan rakyat. Itulah alasan keadilan mendekati takwa. Orang yang bertakwa pasti egaliter, dekat rakyat, dan selalu ingat Allah swt.

Bersyukurlah rakyat yang pemimpinnya blusukan. Hanya saja ada syarat, yaitu Tak terang-terangan. Apalagi diawasi pengawal dari kejauhan. Wajah yang blusukan tak boleh dikenali, agar informasi murni. Takada takut, tak ditutup-tutupi. Juga tak perlu jaga perasaan karena takkenal yang blusukan.

Kebiasaan blusukan Usman mewarisi kebiasaan Umar bin Khatab ra, sang kakek. Khalifah yang langsung usung karung di pundak. Khalifah yang hidupnya amat sederhana. Bajunya dihiasi 14 tambalan.

Blusukan Usman juga cerdas, kafilah yang bermalam di tenda-tenda disambangi. Mereka inilah yang tahu kondisi sebenarnya masyarakat. Begitulah saat bincang di satu tenda kafilah. “Masyarakat baik-baik. Beda dengan sebelumnya. Kini mereka tak bicara buruk pada kerajaan”.

“Malah ada peternak yang gembira. Kambingnya tak lagi diterkam serigala. Bukankah janji Allah betul, bahwa saat keadilan tegak, binatang pun taklagi semena-mena. Peternak itu bilang. Ini pasti khalifahnya adil,” jelas yang lain di rombongan itu.

Segera Usman menghilang di kegelapan padang pasir. Sambil menangis,  Usman mohon ampun. Dia khawatir, apa betul yang disangkakan orang. Jangan-jangan, rakyat tetap hidup susah.

Maka Usman pun bertanya pada pembantunya. “Bagaimana kabar, umat?”

“Makin hari makin baik. Kecuali tiga pihak”, jawab pembantunya.

“Siapa?”

“Aku,  kuda tuanku, dan keluarga tuanku”.

Mendengar itu meledaklah tangisnya. “Ampuni aku ya Rabb. Ampuni aku”, lirihnya. Begitu takutnya Usman akan pengadilan nanti. Keluarganya pun kini harus hidup sesederhana rakyatnya.

Pemimpin memang takharus miskin, tapi pemimpin tak boleh buat rakyat susah. Berjuang juga bukan harus berpayah-payah sengsara, namun saat rakyat hidup miskin, pemimpin musti tampil jadi pembela.

Pengusaha tak perlu diurus. Karena juga seperti orang kaya, mereka bisa urus dirinya. Tapi saat orang kaya yang justru diurus negara, bisa-bisa mereka tekuk negara.

(Erie Sudewo, pendiri  Dompet Dhuafa. Dimuat di Republika.co.id)