Khutbah Kiai Jalal : Gerhana Matahari Sadarkan Kita Kemahakuasaan Allah

kiai jalal
KH Jalaluddin Sanusi saat membawakan khutbah shalat gerhana di Masjid Ilham, Rabu (09/03/2016) foto: khittah.co
ADVERTISEMENT

KHITTAH.co- Pelaksanaan shalat gerhana yang juga disertai dengan khutbah di Masjid Ilham Bara-Barayya, pada Rabu (09/03) pagi, dipimpin oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kota Makassar, Drs KH Jalaluddin Sanusi.

Melalui kesempatan tersebut, Kiai Jalal mengajak jamaah untuk menjadikan fenomena alam bernama gerhana matahari itu sebagai momentum untuk banyak bersyukur akan karunia dan rahmat Allah SWT sebagai penguasa dan pemilik jagad raya ini. “Hendaknya melalui gerhana ini kita senantiasa kembali menyadari kemahakuasaan Allah Swt. bahwa ialah yang menciptakan langit dan bumi, matahari dan bulan, siang dan malam, Allah maha mengatur segalanya dengan begitu apik.”

Kemudian, tambah Jalal, atas apa yang diperlihatkan Allah SWT, manusia juga dapat menjadi lebih takut dengan mendekatkan diri kepadanya serta mengharap ridho dan pertolongannya. “Coba kita pikirkan bagaimana seandainya terjadi gerhana matahari terus menerus maka jadilah malam tanpa ada siang, begitu pula sebaliknya,” urainya.

Ketua Mejelis Tarjih PWM Sulsel 2015-2020 ini, juga menjelaskan, bahwa atas fenemona langka tersebut, sebagai umat Islam gerhana mesti dianggap sebagai tanda kekuasaan Allah, juga sebagai suatu ilmu pengatahuan. “Hendaknya kita kaum muslimin senantiasa belajar dan menghargai ilmu pengetahuan, tanpa ilmu manusia akan jauh dari nilai-nilai keislaman. Gerhana bisa diketahui jauh sebelum terjadinya karena adanya ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan hendaknya senantiasa menjadi dasar dalam beramal kita, sholat gerhana juga berdasarkan ilmu, tanpa ilmu kita tidak tahu bagaimana cara Rasulullah beribadah ketika terjadi gerhana,” jelasnya.

Mudir Ponpes Ummul Mukminin ini juga mengingatkan, dalam beribadah hendaknya didasari atas perintah dan petunjuk dari agama, seperti itu pula dalam menghadapi gerhana matahari disyariatkan menunaikan sholat, berdoa, bersedekah, karena tidak ada ibadah lain seperti pesta dan festival yang masih banyak dilakukan oleh orang banyak, begitu pula kepercayaan-kepercayaan lain tentang hidup dan matinya seseorang, musibah maupun bahagianya seseorang.

kr