LAUTAN OPTIMISME DI ”KAMPUNG HALAMAN” (Memoar Immawan Bahar)

Hadi Pajarianto/Alumni IMM Sulawesi Selatan

Rasa takut itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman, dan rasa takut itu kemudian menjalar kepada bebagai wilayah aktifitas manusia. Lebih jauh lagi, rasa takut itu kemudian melahirkan anak-pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. Esensinya ialah sikap penolakan akan kematian karena kematian itu selalu diidentikkan dengan tragedi, sakit, ketidak berdayaan, kehilangan dan kebangkrutan hidup (Komarudin Hidayat)

Pada tahun 2010, seorang kawan saya bercerita ketika mengikuti interview pada lembaga PBB United Nations Children’s Fund (UNICEF). Seorang interviewer yang konon penganut Agnotisme bertanya “what is definite in life”  (apa yang pasti dalam hidup), kawan saya langsung menjawab satu kata “death” (mati). Sontak bule tersebut menimpali “congratulation”, sebagai sinyal bahwa kawan saya tersebut lulus. Rupanya, jawaban singkat tersebut merupakan penentu kawan saya bekerja pada Badan PBB yang mengurusi anak tersebut. Kelulusan kawan saya, dapat dimaknai sebagai runtuhnya rasionalitas-sekuler, yang selama ini banyak dianut oleh orang atheis dan agostig. Sekaligus menumbuhkan spiritualitas tentang kematian sebagai gerbang dan jalur cepat menuju perjumpaan dengan Tuhan.

Menurut Komarudin Hidayat (2015: 103), tidak ada misteri yang selalu mengguncang akal dan batin manusia, kecuali misteri kematian. Meski perkembangan teknologi terus berkembang dan merangkak menuju puncak eksistensinya, namun sampai saat ini masih tidak ada yang bisa mengungkap misteri dari kematian, termasuk juga misteri dari ruh manusia. Pengetahuan tentang ruh ketika masih di dalam tubuh saja tidak tahu, apalagi tentang ruh ketika keluar dari tubuh akan ke mana tentu saja masih menjadi misteri yang tak terungkap.

Tanggal 11 Juli 2017, Whatsapp di Grup KAMI IMM Geng Millenium berdering, seorang anggota group memberikan informasi bahwa Baharuddin Mapparenta (Bahar) salah satu kawan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah memenuhi takdir Tuhan-Nya, wafat dengan tenang didampingi isteri, anak, ibu, dan beberapa kawan yang setia memberikan support moril dan materil. Setelah itu, komentar di group tersebut dan group lain mencapai ratusan ditambah ucapan belasungkawa di facebook, dan media online yang dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah. Bahu kiri saya seakan miring menahan beban kesedihan, tetapi bahu kanan saya membisikkan rasa optimisme, karena saudaraku Bahar telah tunai melewati tanggungjawabnya sebagai kader, suami, tulang punggung keluarga, dan seorang pendidik. Plus seorang ayah bagi puteri kecilnya yang akan meneruskan darah “Muhammadiyah” ayahnya. Semangat pengabdian tidak pernah berkurang karatnya walaupun kanker ganas telah menggerogoti raganya yang semakin ringkih.

Bagi kader IMM di Sulawesi Selatan, mengenal Bahar adalah sosok yang tegas, ulet, dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diemban. Tidak jarang, sering tidak tidur ketika ditugaskan sebagai instruktur pada acara Darul Arqam Dasar, dan perkaderan di level yang lebih tinggi. Saya belum pernah bertugas satu tim dengan beliau, tetapi cerita dari sahabat yang lain dan banyaknya kerabat dan sahabat yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir, menyiratkan Bahar adalah pribadi yang renyah dan riang dalam berkawan. Pemihakannya terhadap militansi nilai yang diperjuangkan, masih dapat dilihat pada postingan di beranda facebook-nya. Setiap persoalan, khususnya umat Islam disorotnya, melalui komentar singkat, meupun tautan situs. Mungkin, sosoknya perwujudan dari Rausyan Fiqr yang oleh Ali-Syari’ati diterjemahkan sebagai intelektual yang tercerahkan, mampu membaca setiap persoalan hidup masyarakat, plus melakukan pemihakan dalam sikap yang jelas.

Sebagai kawan, saya mencoba membangun lautan optimisme dari air mata sahabat-sahabat almarhum yang jumlahnya ribuan, seraya membayangkan Bahar tersenyum di “kampung halaman” bersama pundi amal yang ditumpuknya selama di IMM dan Muhammadiyah. Ia telah berkumpul dengan aktivis IMM yang telah syahid menjemput takdirnya, kembali ke kampung halaman. Immawan Bahar dan Immawan yang lain, telah menulis peta perjalanan pulang kampung menghadap Tuhan-Nya, melalui amal nyata. Tiada amal yang paling mulia, selain menjaga kesinambungan kaderisasi agar tiada terputus. Itulah makna perkaderan, tempat Immawan Bahar dan kawan-kawan lain yang telah syahid, menulis jejak memoar kehidupan untuk diperhadapkan kepada Tuhan-Nya.

Saya yakin, Immawan Bahar saat ini tersenyum, tadi siang telah tiba di “kampung halaman”, dan Tuhan telah membisiki akan menunaikan janjinya memberikan Mafaaza (tempat kembali orang yang diberikan kemenangan) sesuai firmannya pada QS. An-Nabaa: 31. Selamat jalan sahabatku, bahagialah di ujung doa melalui jari-jemari sahabatmu, Ibumu, isterimu, dan Tita anakmu. Tita, lanjutkan perjuangan ayah-mu Nak. Kami sahabat ayahmu akan menyokongmu dalam doa dan ikhtiar.

————————————————————————————————–