Literasi, Sensasi atau Solusi

ADVERTISEMENT

Oleh Harlin Palanrangi

KHITTAH.CO – Banyak yang menafsirkan kata literasi berarti sebuah perintah, seperti yang ditemukan dibeberapa ayat dalam Al-Qur’an. Kata Iqra dalam surah Al-Alaq misalnya yang memiliki arti bacalah. Juga di Surah al-Isra ayat 36 yang berbunyi “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu belum ketahui ilmu tentangnya, karena penglihatan, pendengaran dan hati nanti akan dimintai pertanggung jawaban”.

Dari penggalan ayat di atas, tuhan sangat melarang kepada umat manusia melakukan sesuatu yang belum diketahui tentang ilmunya. Juga berarti seruan untuk mencari ilmu terlebih dahulu sebelum amal.

Beberapa tahun belakangan, kata literasi booming dan menjadi fenomena yang tidak hanya dirasakan oleh kalangan elitis tetapi sampai juga pada masyarakat awam. Yang melatar belakangi masifnya gerakan ini beragam. Bisa jadi karena dorongan personal atau bisa juga karena dorongan kolektif yang menganggap gerakan ini sebagai trend kekinian.

Penulis menilai bahwa dalam proses munculnya terjadi banyak sekali bias dan tentu saja gerakan ini menuai banyak kritik. Penulis berpendapat, gerakan literasi masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang seharusnya menempatkan literasi sebagai aktivitas primer. Hal demikian terjadi karena kurangnya pemahaman tentang literasi itu sendiri serta kebanyakan pelaku ”pegiat” menganggap gerakan literasi hanya untuk memenuhi kebutuhan eksistensi. Maka tidak jarang penulis temukan orang-orang atau kelompok yang ”melabeli” dirinya sebagai bagian dari gerakan yang hanya berhenti pada pose jari simbol “L” dibarengi satu, dua, tiga kali jepretan kamera kemudian dijadikan pemanis galeri selfie sosial media.

Ini adalah sebuah refleksi. Seharusya kegiatan literasi tidak hanya dijadikan sebagai ajang seremonial dan sekedar memenuhi kebutuhan eksistensial pelakunya saja. Lebih dari itu, kegiatan literasi seharusnya memberikan dampak pencerahan dan pencerdasan ditengah masyarakat.

Sekedar mereview romantisme sejarah peradaban islam, bahwa telah banyak sudah ulama-ulama salaf yang berkecimpung didunia literasi. dalam banyak catatan, Islam telah memberikan perhatian khusus pada aktivitas literasi. Dalam dunia perpustakaan misalnya, kita bisa melihat perpustakaan “Baitul Hikmah” yang didirikan Khalifah Harun ar-Rasyid menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi dunia Literasi.

Selain itu juga di zaman salafus salih, Ibnu Tayimiah menulis sebuah karya berjudul ”majmu’ul Fatwa”terdiri dari 12 jilid. Ibnu Qoyim Al-Jauzy menulis karya “Al-Fatwa” imam Syafii menulis karya “Al-Um” ini menandakan bahwa buku merupakan identitas seorang muslim, dengan demikian Melihat kejayaan islam berarti tidak terlepas dari dunia perbukuan.

Dengan demikian kita bisa melihat literasi sebagai “Produk” agama, dan dengan harapan kegiatan literasi seperti membaca, menulis, diskusi bahkan riset akan melahirkan solusi karena literasi juga bisa berarti pertukaran Ide dan semestinya bermanfaat bagi masyarakat dikemuadian hari.

Penulis adalah Pimpinan DPD IMM Sulawesi Selatan