Literasi Setengah M(H)ati

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

Literasi telah menjadi salah satu kata penting saat ini. Bahkan menjadi semacam obat generik yang sering digunakan oleh para pembicara di forum-forum diskusi, sebagai penyembuh berbagai macam persoalan, dari soal ekonomi hingga ektremisme agama. Hingga seringnya istilah “literasi” diucap, sampai-sampai kata tersebut, sudah mulai terasa “basi” di telinga. Kenapa bisa demikian ?, bukan karena literasinya yang tak penting lagi sehingga tidak usah memperjuangkannya hingga setengah mati, tapi kita yang memang terkadang “ber-literasi” setengah hati. Apa yang dimaksud dengan “ber-literasi setangah hati” ?, di medsos kita sok mengutip quotes-qoutes yang memotivasi orang berlajar tapi di sisi lain kita juga tak berhati-hati dalam men-share link berita, di ruang-ruang diskusi kita begitu semangat mendorong orang tuk menulis dan membaca tapi seringpula kita menutup diri dari kritik oleh sesama.

Konon kata literasi berasal dari kata literatus yang artinya “orang belajar”, juga berkaitan dengan kata “literature” dalam bahasa latin. National Institute for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah dalam tingkat keahlian yang diperlukan oleh pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Sedangkan UNESCO menjelaskan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis. Dari kedua pengertian tersebut, kita bisa menarik benang merah, bahwa literasi berkaitan dengan praxis yang dalam bahasa yunani bisa diartikan sebagai “perbuatan”, “kegiatan”, “tindakan” atau “aksi”. Bajik dan bijaknya sebuah praxis sangat erat kaitannya dengan melek atau tidaknya seseorang pada literasi.

Tapi yang pasti, dari beberapa definisi yang ada, literasi juga kait-mengait dengan “ketrampilan”. Literasi tidak diniatkan sekedar untuk bermuara pada hal yang biasa-biasa saja. Karena kemampuan literasi diandaikan ada serta diperlukan karena kita adalah makhlukh yang “ada bersama yang lain”, dengan kata lain literasi menjadi penting karena ke-sosial-an kita. Semakin rumit dan kompleks tatanan sosial sebuah masyarakat, maka akan menuntut kemampuan literasi yang semakin kompleks pula. Dan jika membuka lembar sejarah, hal ini pula yang terjadi di Athena sana, saat masyarakatnya menjadi demokratis, di mana yang dianggap warga negara berada pada posisi yang sama untuk menyampaikan pendapat. Maka keterampilan berpikir dan berbicara kemudian dilembagakan, dari sekedar ­“ngumpul-ngumpul” menjadi konsep pendidikan terkenal dari Yunani Klasik, yang disebut dengan Paideia.

Menurut Bartolomeus Samho dalam Humanisme Yunani Klasik dan Abad Pertengahan (2008). Konsep paideia selalu menjadi kiblat dari humanisme. Paideia adalah sistem pendidikan yang berangkat dengan visi yang jelas, yakni mengupayakan manusia ideal. Bagaimana rupa manusia ideal dalam konsep paideia ? yakni yang tertuang dalam keyakinan etis Sokrates, Plato dan Aristoteles. Manusia ideal bagi mereka bertiga adalah manusia yang telah mencapai eudaimonia (kebahagiaan), dan ini ditandai dengan adanya keselarasan antara jiwa (akal-budi) dengan tubuh (corpus). Nanti akan lahir dalam kurikulum tradisional Yunani Klasik yang dikenal dengan istilah artes liberales, tujuh bidang yang diajarkan dalam rangka mencapai arete (keutamaan). Ke-tujuh bidang itu kemudian dibagi menjadi dua kelompok, pertama ada yang disebut TRIVIUM (pembagian bawah) yang terdiri dari tata bahasa, retorika dan logika, kedua ada yang disebut dengan QUADRIVIUM (pembagian atas) yang terdiri dari matematika, geometri, astronomi dan musik.

Dengan kata lain, kompleksitas masyarakat, menuntut kompleksitas ketrampilan kognisi dan berbahasa. Jika di masa klasik, keselarasan antara pikiran dan tubuh bisa ditempuh melalui sembilan bidang artes liberales, maka mungkin di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, keselarasan antara pikiran dan tubuh akan menjadi semakin kompleks , dan semakin menuntut kemampuan berpikir dan bahasa yang lebih advance pula. Misalnya di masa Yunani Klasik hingga abad pertengahan kemampuan logika sangatlah mencukupi, tapi era kontemporer saat ini kita juga membutuhkan kemampuan “logika komputasional” yang nantinya menghasilkan algoritma, tapi basisnya tetaplah logika. Dan ada semacam asumsi di sini, bahwa “berpikir” dan “berbahasa” adalah dua hal yang saling mengandaikan, tapi dalam kenyataan tidaklah sederhana.

Menurut hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019, seperti yang dikutip oleh Katadata.co.id, pengguna media sosial di Idnoensia mencapai 150 juta atau sebesar 56 % dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20 persen dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial melalui gadget mencapai 130 juta atau sekitar 48 % dari populasi. Penggunaan media sosial yang meningkat pesat, itu berarti interkoneksitas yang begitu tinggi dan cepat, dan juga itu berarti produksi “kata-kata” semakin pesat. Menurut beberapa pakar cultural studies, masyarakat kita telah menjadi “spectacle and comentatory society”, masayarakat tontonan dan komentator. Artinya apa ?, hampir sebagian besar waktu tatapan kita dalam sehari tersedot oleh “layar” , dan hampir sebagian besar produksi kata-kata kita terjadi melalui cara yang senyap tanpa suara, yakni melalui ujung jari yang sibuk mengetik aksara pada keyboard digital.

Lalu satu sisi, di bulan April 2019, Kemenkominfo mencatat bahwa terdapat 453 hoax atau kabar bohong yang beredar di media sosial. Dan 130 di antaranya adalah hoax yanng berkaitan dengan isu politik. Ini terus mengalami peningkatan, dari Februari 2019 dimana hanya ada 175 konten Hoax, lalu naik dua kali lipat dibulan Februari 2019 menjadi 353 konten Hoax, lalu memingkat lagi di bulan Maret dan April 2019. Data di atas hanya menghitung konten Hoax, dan kita kesulitan menghitungnya jika mengikutsertakan berapa kali konten tersebut dibagikan. Di grup-grup FB ataupun WA, kita melihat konten Hoax, berkembang begitu cepat dan berhasil mengelabui orang-orang yang notabene religius bahkan memiliki gelar akademik tinggi. Dengan kata lain, kemampuan kita dalam dalam memproduksi kata-kata, tidak sebanding dengan kemampuan berpikir kita. Secara bahasa bisa jadi kita cerewet, tapi kita punya stamina pendek dalam menimbang-menimbang isu,narasi, berita atau teks tertentu. Bukan hanya itu, cerewetnya kita di medsos, tak berbanding mulus pula dengan penguasaan kita akan tata bahasa, cara kita menyusun kalimat nampak kacau, terburu-buru, tak sistematis apalagi tersusun dalam rupa argumentasi yang rasional. Begitu pula dengan kemampuan retoris kita dalam berkata-kata semakin terdengar berantakan, walaupun Hoax merupakan retorika dalam bentuk tertentu, tetapi beretorika (walapun nantinya digunakan untuk berdusta dan mengelabui orang lain) menuntut pemahaman akan cara berpikir yang benar.

Tahun 2015 silam, ada dua survey Internasional mengenai kemampuan literasi baca. Survey pertama adalah PISA yang dilakukan oleh OECD, dilakukan di 72 negara, dengan informan siswa sekolah umur 15 tahun. Dari indikator-indikator yang digunakan dalam survey PISA, kita bisa melihat bahwa literasi baca tak hanya terkait dengan kemampuan mengenal dan menggabung aksara belaka. Ada dua macam kemampuan literasi baca versi survey tersebut, pertama kemampuan menggunakan isi terutama dari dalam teks, kemampuan ini nantinya terdiri dari beberapa kemampuan yang lebih expert, mulai dari kemampuan menagkses dan mengignat informasi, kemampuan mengintegrasikan beragam informasi yang diperoleh, kemampuan menginterpretasikan hasil integrasi informasi hingga kemampuan mengembangkan pengetahuan yang lebih luas dari hasil integrasi dan interpretasi informasi. Kemampuan literasi baca kedua adalah mengembangkan pengetahuan, terutama dengan menggunakan informasi yang berada dari luar teks, kemampuan ini terdiri dari kemampuan merefleksikan-mengevaluasi isi teks dan kemampuan meredleksikan-mengevaluai bentuk teks. Dari tes PISA tersebut indonesia berada di peringkat 66 dari 75 negara, dengan skor 70.

Lalu ada pula survey PIACC, dimana informannya berada di antara 25-65 tahun, untuk Indonesia, dilakukan di Jakarta. Dan ada kesimpulan menarik nan miris bahwa, sarjana di Indonesia tidak lebih bagus kompetensi literasinya ketimbang lulusan SMP di Yunani dan Denmark. Kata literasi, walaupun sudah mulai membosankan untuk diucapkan, tapi tetap penting untuk di-pikir-kan dan diterjemahkan dalam aksi-aksi cerdas dan tidak membosankan.