Logika Rasa dalam Tembakau Rokok

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Advertisement

 

“Yang penting rasanya Bung”! “Pria Punya Selera”. “Rangkaian teks tertulis menyusul di bagian bawahnya nampak absurd. Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Begitulah bunyi dari salah iklan rokok tanah air. Tembakau rokok tidak dapat dipisahkan dari bahasa yang menegaskan penulisan benda-benda. Tembakau menjadi rokok membuat tanda-tanda permulaan baru; seseorang sebagai perokok tulen bukanlah seorang penghambur momentum yang sia-sia dan membatasi petualangannya di hadapan seluruh tanda-tanda alam. Tetapi, mereka yang menghabiskan dan mengulangi seluruh tanda rahasia rasa yang tidak semestinya memiliki rahasia. Tembakau diubah menjadi rokok kembali pada apa-apa yang akan diberikan untuk dirinya dan orang lain, ia menandai akhir dari ketidaksetujuan antara kehidupan dan pemborosan. Petualangan perokok tembakau membentuk ambang batas dan titik perbedaan yang tidak dibatasi secara samar-samar atau mencapai tonggak identitas tertentu. Dari sini, bahasa lebih dari itu, tembakau rokok memiripkan dirinya bahkan ia adalah tanda; kata-kata menjadi infografis yang singkat sebagai peringatan bagi yang tidak merokok tembakau. Satu kata atau huruf yang muncul sebagai merek dan pesan menghilang dalam medium paling sederhana berupa kemasan bungkusan dari tembakau rokok kretek dan filter atau mengisap tembakau dari cerutu dengan pipa pengisapnya. Kata-kata atau susunan huruf-huruf yang ditulis tidak diambil dari halaman terbuka, karena kemasan bungkusannya tidak memiliki halaman seperti buku yang tercetak, melainkan batang tembakau rokok sebagai isi yang tertata di bagian dalam. Ia memiliki cerita setelah dinikmati atau dialami menjadi cerita yang dapat ditulis. Tembakau rokok menulis dirinya sendiri, keluar dari realitasnya, berpetualang ke seantero dunia diantara penulisan benda-benda dan tanda-tanda bahasa. Rasa yang nikmat dari tembakau rokok memang selalu berbeda-beda bagi setiap orang bergantung pada ide dan indera pengecapnya melalui pengetahuan kita. Sebagaimana lainnya dalam bentuk padat, seluruh kemasan bungkusan yang menarik sekalipun dari tembakau rokok bukanlah eksistensi dirinya. Apapun bentuk dan sumbernya, rasa atau selera dan kenikmatan merokok tembakau secara konstan menunjukkan bahwa ia sesungguhnya bagian dari tanda alam, yang kadangkala seseorang tidak mampu menggambarkan kenikmatan merokok.

Sebagaimana tanda-tanda bahasa dari mana datangnya, seorang perokok tembakau didukung dengan lapisan rasa yang nikmat darinya telah menyediakan satu atau lebih tawaran tertulis bagi petualangannya, persis kata-kata yang mengembara. Pilihan pada tembakau rokok menelusuri sela-sela udara yang diitari asap, dari kedalaman selera ke permukaan batang rokok akan menjadi multiplisitas rasa yang dimaterialisasi melalui kemasan bungkusan, dimana ia meninggalkan satu atau lebih tanda dan jejak dalam petualangannya.

Wujud yang diharapkan menjadi seperti rasa tidak terkira seperti melayang-melayang tanpa substansi atau esensi merupakan bagian dari tanda-tanda menyerupai energi selera otomatis yang bersifat abstrak. Di balik wujud tembakau rokok bukanlah substansi atau esensi, melainkan rasa. Rasa yang berlipat ganda dalam wujud nyata melebihi permukaan batang rokok yang terbuat dari tembakau. Seluruh tanda yang melingkupinya atau seluruh aroma yang melekat darinya, maka tidak satupun yang memiripinya, tanda-tanda bahasa mereka tidak mengenal hari bahkan status, tetapi mengisap tembakau diisterahatkan. Cobalah kita melihat fenomena dari orang-orang desa mengisap tembakau sambil duduk santai di tanah pertaniannya; mereka semuanya tidak terkubur rasa atau selera merokok dalam keseluruhan dunia yang tidak dibebani. Pada suatu ketika, kita berbicara tentang tembakau rokok dan perokok yang dialami oleh mereka dari orang-orang desa nampaknya lebih sehat dan kuat dibandingkan orang-orang kota. Karena orang-orang desa nyaris setiap hari mereka bekerja dengan mengucurkan keringat dan kurang beban hidupnya, sehingga tindakan merokoknya pun mampu menetralisir bibit-bibit penyakit. Tetapi, tidak seremeh yang kita bayangkan. Seluruh tanda dari rasa atau kenikmatan di balik tembakau rokok menawarkan pada mereka suatu pemikiran; tembakau memang menjadi kekuatan tanda yang diberkahi tanpa nikotin, ditopang dengan realitas tanda tanpa pesan sebuah iklan. Begitulah mengapa kepuasan tidak begitu berarti, kenikmatan dan selera dari tembakau rokok yang memberikan bekas, jejak dan tanda pada kita. Ketidakhadiran zat-zat berbahaya dalam tembakau rokok membuktikan apa yang dikatakan oleh ahli mengenai tanda alami yang dikandung dalam tembakau yang tersedia di permukaan bumi adalah benar semakin nyata rasanya.

Kita mengatakan bahwa dunia ini tidak hanya cukup berarti, tetapi juga cukup bagi dirinya sendiri dan dunia rasa. Lebih jauh dari itu, rasa begitu dekat dengan sensualitas kita. Sebaliknya, rasa dengan seluruh penilaian tentangnya bergantung pada aliran bolak-balik dan penyebarannya dalam pengetahuan. Dunia mengacu pada wujud sebagai esensi yang melampaui kelenyapan atau ketidakhadiran; ia bukanlah dunia sebagaimana digambarkan dengan dunia yang dapat dipahami, tetapi layaknya rasa yang berbeda dan sama dalam dunia. Yang jelas, kita menemukan kekuatan rasa dalam sebuah tanda, tatkala tanda bahasa betul-betul sesuai dengan dunia lain yang mereka tampilkan. Rasa yang nikmat dari obyek tertentu diharapkan sesuai dengan obyek yang berbeda dari dunia lain yang direpesentasikan dengan selera, kenikmatan dan imajinasi. Rasa tidak datang dari dunia lain. Kata lain, seseorang berbicara dengan tema yang sama adalah juga dari mereka berusaha ragu pada apa yang tidak tergambarkan. Agar tanda bahasa bersesuaian dengan hal-hal yang berada dalam dunia yang membuktikan rasanya, sekalipun tidak dapat ditampilkan wujud sejati secara bulat menurut indera. Satu-satunya hal yang dapat membuktikannya, ketika mereka menandai pada sesuatu yang tidak tergambarkan, apa bentuk dari rasa mengisap tembakau rokok. 

Terhadap sesuatu yang tidak tergambarkan bentuknya justeru itulah wujud nyata dari rasa. Seluruh petualangan rasa tembakau rokok merupakan penjelajahan bagi kenikmatan. Rasa adalah wujud nyata, berarti pengetahuan sejati merupakan pengetahuan tentang ‘yang Berbeda’, seperti rasa yang melarutkan keadaan akhir dari subyek universal. Peringatan mengenai merokok dapat menghancurkan kesehatan, merokok membunuh atau kawasan bebas rokok merupakan kata-kata atau pernyataan yang ringan untuk mengalihkan tanda-tanda terkatung-katung penggunaannya, yang harus dipikirkan kembali hingga ia berbicara tegas ke luar dari dirinya. Kata-kata dari suatu daftar atau kemasan bungkusan rokok yang kosong ditransformasikan untuk mencari bentuk lain yang memungkinkan dapat mengisinya. Menempatkan ulang sebuah relasi sederhana antara rasa dan tanda, selera dan teks. Pengetahuan tentang alam, yang menyemaikan dan membudidayakan tembakau sebagai bagian dari teks yang terbuka untuk dibaca, yang mengundurkan dirinya dari kategori dinamika kehidupan dan dianggap gagasan yang tidak masuk akal. Ia ditempatkan pada halaman-halaman depan hasil laporan dari institusi tertentu sepanjang hal itu menyangkut bahaya penggunaan tembakau rokok di atas permukaan bumi. 

Rasa yang imanen menjadi bagian pertama dari petualangannya yang dihubungkan dengan tanda dengan indera yang kompleks. Dari tanda-tanda yang menandai obyek kenikmatan bersifat khusus, tembakau rokok sebagai obyek yang terjalin relasi antara tanda dan rasa. Kekuatan tanda yang berkedudukan dalam perbedaan intensitas, sama kekuatannya dengan rasa dalam perbedaan atas dirinya. Ia tidak dapat diubah rasa dari obyek lain. Tanda tidak cukup bagi persepsi indera, tetapi rasa yang mencukupinya sebagai sesuatu yang tetap tidak tergambarkan. Rasa tembakau rokok membuat tidak ada yang mati selama rasa keluar dari lingkaran bayangan nalar yang akan membuatnya kembali pada keadaan kosong untuk digambarkan. Seseorang cukup sebagai wujud di saat merasakan benda-benda atau obyek lain dan terhadap wujudnya sendiri. 

Pembentukan rasa juga tidak bisa dipisahkan dengan tanda, tidak berarti hasil dari relasinya, tanpanya ia tidak bisa menjadi rasa terhadap sesuatu. Rasa yang imanen dalam multiplisitas yang melekat padanya, dari wujud nyata secara total tidak membingungkan karena kenikmatan yang menunaikannya hingga seseorang tetap menghubungkan dirinya dengan obyek tembakau rokok sekaligus menjadi obyek pengetahuan. Multiplisitas rasa tembakau rokok diarahkan pada banyak pilihan, yang salah satunya dari wilayah campur baur materinya. Terhadap materi yang dialirinya membuat energi atau pergerakan rasa tidak dapat diasingkan dengan kenikmatan yang partikuler. Pergerakan dan multiplisitas rasa tembakau yang berkaitan dengan rokok akan kehilangan wujud nyatanya dalam dunia, jika ia tidak melibatkan dirinya pada kekuatan materi. Dimaksud materi disini menyangkut pembentukan rasa yang tidak menuntut adanya secara absolut sebuah dunia indera serba fisik. Mengapa demikian? Rasa yang imanen selalu ada dalam kekuatannya bersama energi abstrak yang menghubungkannya dengan obyek dan persepsi indera. Wajarlah, jika ada X tidak mampu menggambarkan apa itu selera dan kenikmatan mengisap tembakau rokok. Sudah tentu, ia merupakan fenomena dinamis dalam kehidupan tatkala tembakau dengan segala macam aroma dan rasa, lantas diproduksi menjadi rokok kemasan akan memainkan rangkaian tugas dan peran penghubungnya dengan konsumen yang gemar pada tembakau. Di sini pun, tidak ada teori tentang tanda yang dihubungkan dengan rasa mengisap tembakau rokok yang nikmat dan gurih. Ketidakhadiran definisi tentang tanda dan rasa tidak dapat melapiskan dirinya semata-mata pada obyek pengetahuan tunggal, yang seiring tidak dapat dihentikannya selera atau kenikmatan yang direpresentasikan pada wujud nyata sebagai keseluruhan petualangannya.   

Tetapi, apa yang menyebarkan rasa tembakau rokok dan menatanya terhadap kemungkinan adanya ruang terbuka dituntut dengan tegas supaya terbebas dari dunia nyata, suatu dunia yang dekat dengan kekacau-balauan rasa akibat tercemari dengan hal-hal yang serba empiris? Lalu, apa yang dapat menggantikan jika tidak ada rasa atau selera di saat pihak lain tanpa akhir dimana mereka merasakan kehampaan dunia? Dimanakah letaknya pemikiran tentang rasa termasuk rasa tembakau rokok? 

 

Melalui ketidakhadiran rasa partikuler pada tembakau rokok, maka sebagian orang bahkan ahli memercayai bahwa kehidupan akan sehat dan bersih lingkungan tanpa merokok. Terus, apa yang terjadi atau dapatkah seseorang membayangkan jika semua orang di muka bumi ini, yang pada akhirnya terdapat hikmah dibalik pembatasan atau ada hari tanpa tembakau sedunia? Apa saja yang diperoleh dari tembakau yang berubah menjadi rokok? Salah satu pertimbangan selera yang orang sudah mulai memerhatikannya adalah karena hasil penelitian ilmiah secara seksama menemukan khasiatnya, yang berguna bagi kesehatan.  

Kita mencoba meninggalkan satu langkah ke samping. Lebih penting perhatian kita tentang rasa tembakau rokok bagaimana membebaskan rasa nyata dari rasa lain setelah memasuki proses pencampur-adukkan elemen yang dikandungnya. Rasa ditandai untuk menghilangkan rasa alami dan diganti dengan rasa lain, yang sebelumnya jauh lebih nikmat dan menantang. Paling penting rasa dikonsolidasikan dan dikontaminasikan dengan suasana atau kesan total, misalnya melalui sajian kopi, membaca buku, menulis peristiwa atau menikmati senja di tepi pantai, bukan dengan cara mencampuradukkan pada elemen-elemen lain dalam kekuatan wujudnya yang khas. Dalam pemikiran modern, suatu tanda menuju tanda lain setelah lebih dahulu menghapus jarak rasa atau memasuki dan mengeluarkan selera dari celah waktu hingga kehilangan kesempatannya untuk melintasi langkah demi langkah. Tanda dalam rasa yang memungkinkan obyek atau benda-benda berinteraksi dengan identitas tembakau rokok dan perbedaan selera yang tidak terelakkan secara individual. Setiap orang akan memilih untuk memelihara aroma atau rasa sesuai dengan identitas dan perbedaan internal yang dimilikinya.   

Melalui tanda, rasa bergerak secara berpencar, menggantikan dan menghilangkan satu rasa dengan rasa baru yang sebelumnya melalui energi yang ditandai oleh alam. Ia hanya memasuki masa persilangan tanda, tetapi tidak tergantikan dengan rasa lain. Tembakau rokok konvensional ditandai dengan nilai konvensi tanpa variabel yang diasumsikan padanya. Tanda-tanda menerima a priori rasa tembakau rokok mendahului masa pengamatan atau penelitian ilmiah. A priori rasa tidak bergantung pada tanda-tanda yang dianugerahi alam dan dibentuk oleh manusia, melainkan pada pemikiran sekaligus sumber yang berbeda. Hal ini, membuat tanda menandai rasa tembakau (sense of tobacco) tanpa nilai absolut sedikit pun menyertainya. Berubah-ubahnya dan berbeda-bedanya dunia rasa, tembakau tetap tembakau yang menyatu dengan rokok. Tetapi, seluruh rasa tanpa nilai lebih sekedar dari wujud yang sama dan pemikiran yang berbeda. Ia tidak memiliki keterkaitan dengan perbedaan antara wujud dan pemikiran melebihi kedudukan absolutnya. Bagi pemikiran, satu tanda dalam rasa tidak sekedar wujud nyata yang dipilih dari dunia benda-benda. Satu wujud nyata meninggalkan identitas wujud absolut dari rasa. Dalam proses dan aliran yang tertangguhkan, rasa mengarahkan dirinya pada pergerakan internal dirinya dari kedalaman selera  atau kesenangan ke permukaan bumi dalam kelimpah-ruahan wujud nyata. Rasa sebagai wujud nyata ditandai dengan partikularitas dalam titik akhir dari universalitas; selera pada tembakau yang menyenangkan bukanlah rasa menyenangi obyek, melainkan aliran rasa pada kelenyapan. Dari tiga bungkus rokok berbahan tembakau menjadi satu bungkus rokok dalam sehari dipilih melalui dunia rasa dan dibentuk sebagai jejak dan tanda melalui pengetahuan tentang kelenyapan rasa. Karena itu, tidak mengherankan tembakau rokok membentuk rasa partikuler dalam wujud nyata yang dinikmati. Tanda dalam rasi akan dibatasi secara lentur dan mampu disesuaikan dari bentuk pelarangan yang kaku dan ketat tentang mengisap tembakau rokok. Rasa rentan dengan pembagian dan perpaduan tanda-tanda alam dan yang dibuat secara institusional dan individual yang pada akhirnya tanda dalam rasa yang imanen dan nyata keluar dari prinsip universalitas dari penilaian atau putusan atas selera sebagai salah satu kesenangan. Singkatnya, tanda-tanda bahasa yang mengalir dalam rasa melipatgandakan dirinya bersama sumbu kenikmatan yang imanen dan nyata sebagai hasil dari partikuleritas dengan cara membebaskan dirinya dari nilai universalitas. 

Akan ada pergerakan aneh, jika rasa yang imanen dan partikuler digiring dalam perangkap nilai universalitas; rasa akan memalsukan dirinya karena ditopengkan dengan dunia rasa dalam kesenangan universal. Rasa tembakau rokok tidak membunuh X sebagai perokok dan pihak lain, tetapi rasa yang imanen dan partikuler akan membunuh dunianya sendiri. Tanda yang dibuat oleh individu pengisap tembakau rokok adalah tanda yang menciptakan garis patahan atau retakan di pinggir antara dunia rasa dan dunia benda-benda, yang membawa pergerakan tanda-tanda alam dan yang dibuat manusia menghilang dalam dunianya sendiri. Tanda dalam rasa bukanlah sejenis sketsa bagi tanda-tanda alam, melainkan betul-betul menjadai wujud nyata bagi dirinya dan yang lain. Ia tidak diberikan kekuatan oleh tanda-tanda alam dan wujud virtual, karena rasa itu sendiri merupakan kekuatan nyata. Suatu tanda dalam rasa merupakan konsep dan bentuk rasa lainnya tanpa konsep.

Dunia obyektif seiring dengan rasa obyektif; keduanya bukan posisi untuk mendeterminasi sesuatu. Sementara rasa tidak serasi dengan nilai universalitas yang menandai alam sebagai hal yang sama bagi keseluruhan tatanan dunia. Rasa tidak bisa menjadi apapun selain dari tanda, rasa tidak berada di sisi tanda. Setiap pergerakan tanda dalam rasa, yang menandai dunianya dan yang lain. Rasa tidak lagi menjadi representasi bagi imajinasi dan gambar. Kelahiran rasa obyektif ada disekitar kita melalui tanda-tanda yang menghubungkan dirinya dengan pengetahuan tentang sisi lain dari konsep subyetif. Cukup mungkin bagi kita sebagai alasan untuk mengacu pada setiap orang memiliki rasa atau selera yang berbeda-beda tanpa kecuali tembakau rokok. Rasa obyektif nampak tidak tergantung pada perbedaan dan penyebaran titik-titik cemerlang dalam ide kita.

Sesungguhnya cukup menantang, tindakan mengisap tembakau rokok semakin dilarang dan dijauhi, maka pembebasan rasa atau selera justeru berlipat ganda untuk terus menikmatinya. Satu sisi, biarpun berkali-kali dilakukan kegiatan kampanye atau sosialisasi, dimana pengetahuan menyampaikan pada kita tentang bahaya rokok mengandung lebih empat ribu zat beracun, tetapi orang masih menyenangi, kecuali dalam kematian yang menghentikannya. Pada sisi lain industri rokok memberitahukan pada kita, bahwa pabrik bukan sekedar membuat rokok, tetapi sekaligus juga menciptakan rasa, selera atau kenikmatan. Pada kenyataannya, dampak buruk merokok dari bahan tembakau yang menyebabkan kematian jutaan jiwa setiap tahun, tetap saja mereka tidak bisa meninggalkan kebiasaan mengisap tembakau rokok. Satu pertanyaan yang sama dari orang-orang. Mengapa orang masih menyenangi ataukah sulit menghentikan kebiasaan merokok?

Kita tidak habis memikirkan tanda-tanda yang berbeda secara umum, suatu gambar terbalik menyertai bahaya dan pelarangan mengisap tembakau rokok menjadi jalinan paradoks. Dari X berkata: “Adik perempuanku pernah semobil sewaan dengan seorang ibu yang mengatakan kalau sewaktu dia mengidam adalah merokok bukan ngidam karena ingin makan ini dan makan itu. Malah dengan merokok membuatnya kuat dan bersemangat (jadi bagaimana dengan hasil penelitian itu, ya? Bahaya buat janin?)”. …  “Kemudian ibuku sendiri pernah merokok dalam bentuk tembakau karena mengobati dirinya dan adik laki-lakiku ketika sakit panas. Katanya, rokok mengandung obat sehingga hawa rokok bagus untuk dirinya, dan asap panasnya dipakai sebagai media penyembuh dengan meniupkannya ke tubuh si adik laki-lakiku tadi” (Qureta.com, 31/05/2019). Selain itu, ada pernyataan yang cukup umum. “Seseorang merokok (dari bahan tembakau) untuk mendapatkan inspirasi ketika mengerjakan tugas atau lagi mencairkan suasana dengan jalan mengisap tembakau rokok”. Kita menemukan proposisi, seperti: “Aku mengatakan apa yang Aku isap tembakau rokok”, “Aku menyenangi apa yang Aku dapatkan tembakau”, “Anda berpikir apa yang Anda isap tembakau rokok”. “Mereka tertidur ketika mereka mengisap tembakau rokok”. Rasa seakan-akan berada dalam paradoks netralitas bagi seseorang mengisap tembakau rokok sebagai teman hidup; rokok atau merokok sebagai obat peretas kebekuan pikiran dan penyembuh tekanan hidup. Dari kebutuhan ke kenikmatan mereka untuk mengisap tembakau rokok. “Semua orang akan menyenangi kehidupan tanpa dan dengan mengisap tembakau rokok”. Tanda dalam rasa, sekali lagi akan membunuh dirinya sendiri, bukan pada yang lain dengan dan tanpa mengisap tembakau rokok. Bagaimana mendapatkan kemungkinannya? Seorang dokter menganjurkan pada pasien supaya tidak mengisap tembakau rokok, padahal dia sendiri adalah seorang perokok akan terjatuh dalam paradoks absurd, tepatnya terjatuh dalam absurditas. Ciri-ciri utama dari absurditas, yaitu ‘ketidakhadiran simfoni antara diskursus dan tindakan’. Mari kita mencoba untuk menghadirkan di sini teks Spinoza dengan Ethics dan Kant dengan Critique of  Pure Reason dan Critique of Practical Reason. Keduanya mengajarkan tentang kesenangan yang logis dan rasional dan rasa, selera maupun a priori sintesis yang dihubungkan dengan suatu peristiwa dinamis dari rasa tembakau rokok. Apakah tanda dalam rasa memiliki relasi dengan fakta pengetahuan? “Fakta pengetahuan adalah bahwa kita memiliki representasi a priori (yang memungkinkan kita untuk menilai)”, begitu kata Kant (CPR, 1998 : A100-101).

Selanjutnya, dalam paradoks absurd, tatkala kemasan bungkus tembakau rokok dibeli oleh X yang berusaha memiliki indera penglihatan terhadap gambar paru-paru dan gambar tenggorokan bolong. X pun banyak akal dengan cara menutupinya dengan kertas. Seseorang begitu malas melihat gambar mengerikan sebagai dampak rokok pada kesehatan. Tetapi, strategi lain dari X, yaitu mencoba beralih menghisap tembakau dalam bentuk lain. X mulai menghisap cerutu dan beli pipa cangklong. Dia menjadi penghisap cerutu dan cangklong berdasarkan pengalamannya. Semakin banyak pengalamannya, bertambah pulan pengetahuan tentang cara merokok sehat dan sekaligus menikmati tembakau rokok yang berbeda-beda tetapi terbaik dunia. Disitulah muncul sebuah permainan rasa, titik dimana ketidakhadiran petanda transendental, ditambah permainan lidah sebagai indera pengecap. Mereka mengetahui permasalahan tentang mengisap tembakau rokok yang mengandung nikotin, yang terdapat juga produk pertanian seperti kentang dan cabe. Satu alasan X, yang menandai bahaya terbesar rokok dari hasil produksi olahan tembakau adalah terletak pada tar dan senyawa kimia lainnya yang dialirkan ke paru-paru. Suatu sudut pandang yang masih sedikit orang mengetahuinya. Sesungguhnya bukanlah permasalahan dari individu yang mengetahui, melainkan kekuatan diskursus atau analisisnya.

Dalam satu analisis dan dari apa yang kita diketahui tentang bentuk dan isi tidak dipisahkan dengan tanda-tanda dalam rasa yang berdasarkan pada jalinan identitas dan perbedaan. Apakah melalui perantara pengukuran dan pada pijakan menjadi perbandingan berhenti atau bergerak terus  untuk memenuhi kenikmatan mengisap cerutu dan cangklong, sekalipun kadar nikotinnya tinggi? Perbedaaan antara titik kedalaman rasa, selera atau kenikmatan dan produksi permukaan rokok dalam kemasan bungkusan yang menghubungkan individu dengan menghisap tembakau rokok. Jika X mengatakan, bahwa tembakau rokok biasanya asap dilahap ke paru-paru melalui lidah atau bibir sebagai perantara pertama, yang membandingkan dengan cerutu dan nyangklong sebagai perbedaan dampak bahaya. Arah perbedaan terletak pada fungsi penampakan bagaimana dunia ditata, karena rasa melalui tanda-tanda mengisap tembakau rokok sekarang disempurnakan menurut perbandingan wujud nyata. Perbandingan bergerak dari mode merokok untuk tujuan menikmati asap, yang memiliki perbedaan pada permukaan ditandai dengan sebuah cerutu dan cangklong untuk menikmati tembakau. Jejak dan tanda a priori dalam rasa mendahului asap tembakau rokok yang hanya dibatasi dengan tindakan berkumur-kumur saja. Pertukaran tanda-tanda dan jejak-jejak yang ditingglakan rasa atau kenikmatan tidak bergantung pada asap yang hingga memasuki mulut akan menciptakan selera ternyata berdasarkan dari jenis tembakaunya.

Sebagai akibat dari seluruh kerangka epistemik kebudayaan Barat dan Timur yang secara partikuler menemukan tanda dalam rasa dengan lapisan bahasa yang telah dikembangkan lebih kompleks, yang meletakkan bahasa dan benda-benda sebagai selalu jalin menjalin menjadi titik tolak pemikiran. Berbeda dengan pengalaman melalui permainan lidah atau tanda selera terhadap berbagai jenis tembakau dan cerutu yang mereka mencoba menikmatinya. Untuk langkah sekian kali, permainan lidah atau selera dari X pun menetapkan tanda dalam rasa yang diisi dengan menandai pilihan. Bagaimana dunia disempurnakan sesuai dengan tanda dan jejak ganda, yaitu dunia rasa dan pilihan sensasional yang ditata kembali. Seseorang memilih jenis cangklong menurut seleranya yang diarahkan pilihannya pada tembakau burley jenis cevendish. Pikiran dan memang pilihan X pada cevendish, yang permulaan rasa merupakan jalinan konfigurasi apa yang disebut tanaman strain burley bagi tembakau. Secara alami, titik perbedaan-perbedaan yang jelas dan dapat dipikirkan secara pelan-pelan dalam tatanan wujud. Bagaimana pun, sebuah tatanan wujud atau jalinan perbandingan telah diorganisir ke arah inti pengetahuan yang telah dirahi. Pengetahuan yang mampu memisahkan dan menyatukan pembentukan tanda dalam rasa, yang berguna bagi proses pembakaran tembakau pipa secara efektif hingga menjadi kekuatan aroma yang tajam, meninggalkan jejak-jejak dan bekas-bekas sekaligus menandai ketidakhadiran mitos darinya. Tanpa diragukan lagi, rasa tembakau rokok memungkinkan pengetahuan itu sendiri dan mode kehidupan menghindari kekuatan cengkeh dan saos, sebagaimana lazimnya dari seseorang mengisap tembakau rokok. Susunan dan jalinan relasi antara pemikiran dan sumber pengetahuan tentang rasa tembakau rokok telah dimodifikasi; ranah persepsi indera yang dilihat oleh individu mengalami kemajuan dari bentuk dan isi yang lama ke hal-hal yang baru.

Tanda dalam rasa muncul pada perbedaan warna tanaman tembakau rokok; ada tembakau yang berdaun tebal, dari warna hijau gelap hingga warna hijau abu-abu semu. Semuanya adalah bagian dari wujud penampakan bagaimana dunia rasa memiliki tanda dan jejak. Satu hal penting juga, dimana tanda-tanda dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh rasa tembakau tidak memiliki keterkaitan dengan tradisi cerutu dan sigaret dan rasa tidak bergantung pada tembakau kunyah dan tembakau snuff (isap), yang tidak menjamin dunia rasa semakin nyata. Dalam hal ini, tanda dalam rasa mengarahkan dirinya pada ide dan pemikiran tentangnya, yang dihubungkan dengan bagaimana petualangannya tidak berhenti pada satu tanda, sebaliknya langkah demi langkah dari tanda-tanda berbicara pada kita melalui rasa tembakau. Ia menjadikan pengetahuan tentang rasa tembakau berguna bagi setiap orang, bukan untuk dimusuhi. Ia dirancang diantara benda-benda sebagai tanda kehidupan dan memberi kesan total dengan tidak terelakkan pada dirinya berbagai paradoks turut membangkitkan semangat kita untuk meyakinkan dunia yang tidak sia-sia. Jenis dan fungsi pengetahuan sebagai tanda-tanda semata-mata merupakan tujuan antara dari rasa itu sendiri bahkan melebihi fenomena tembakau.

Titik yang ditegaskan melalui tanda dalam rasa, diantaranya bagaimana kita mencoba untuk mengisap tembakau rokok dengan tetap selalu dengan rasanya. Sebagaimana tubuh, tanda dalam rasa bersama selera dan kenikmtan sebagai kekuatan tersendiri. Jika X mengarah pada Y. “Anda tidak tersesat untuk mencari rasa”. Mereka mengetahui persis bagaimana perbedaan bukanlah sebagai akibat dari berbagai macam tembakau rokok dengan kekuatan rasa yang disediakan pada tempat-tempat yang telah diketahui. Kita akan melihat perbedaan rasa menjadi membingungkan karena kita tidak menggunakan tanda-tanda melalui pengetahuan tentang tembakau rokok rasa cokelat, jeruk, mangga, dan seterusnya. Inti pengetahuan tentang tembakau begitu pula terjadi dalam ungkapan. “Nikmati saja!”, “Rasa tambah lagi”. Tanda dalam rasa tidak akan meminjam kepastian dan kemungkinan untuk berubah-ubah selera dan kenikmatan. Hingga sekarang, suatu penggunaan tanda-tanda dalam rasa tembakau rokok tidak hanya berbicara pada kita mengenai prediksinya, tetapi juga pengetahuan melibatkan dirinya secara bersama-sama bagaimana tanda menjalankan fungsi pembebasannya dari kedalaman selera yang kosong atau dangkal. Pada titik ambang batas masa pembentukan tanda berhenti pada apa yang ia tandai dan titik permulaannya dari rasa untuk mengetahui dunianya sebagai teks tertulis dan wujud lainnya.