Lukisan Itu Bernama “Matematika”

6a00d8341bf7f753ef01bb095487f2970d
(Refleksi atas film
The Man Who Knew Infinity)

Oleh : Ma’ruf Nurhalis

Sewaktu masih duduk di kelas sekolah dasar aku adalah anak yang buta matematika. Aku beranggapan bahwa Mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling susah dan guru matematika adalah orang yang paling membosankan. Apalagi jika kombinasi antara guru yang killer menjadi guru matematika. Maka moment menegangkan itu akan menjadi hari yang sangat menyeramkan.

Entah mengapa angka itu begitu menakutkan. Sehingga ketika Ujian Nasional tiba, persoalan hitung menghitung itu jadi momok yang paling menyebalkan.

Adalah Tentang kekakuan rumus, gambar kubus dan segitiga, tentang proses al-jabar untuk mendapatkan hasil angka yang sesuai. Kadang untuk mendapatkan angka kecil, kita harus memutar otak dengan berbagai rumus yang putar balik. Bertikam dengan akar kuadrat. Bergelut dengan logaritma. Sehingga memutuskan untuk mencontek teman sebangku. Dan semua proses itu menjadi pengalaman yang pahit di hidupku.

Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang telah kulewati bersama Matematika. Jika iya. Maka mungkin anda akan merasa tertegun kesal jika telah menonton atau setidaknya membaca sinopsis dari Film The Man Who Knew Infinity yang menayangkan kisah nyata dari jenius Matematika bernama Srinivas Ramanujan yang berasal dari Madras, India.

Film ini secara garis besar menceritakan perjalanan Ramanujan dari pengangguran di Madras sampai menjadi anggota Fellow di Cambridge University yang berlatar perang dunia I. pada umur dua puluh dua tahun ia setara dengan Isaac Newton. Keberhasilannya itu di warnai kisah dramatis bersama rumus-rumus matematikanya, sampai kematiannya di umur 32 tahun di kampung sendiri Karena menderita leukimia.

Setelah saya berani mencoba memahami kisah Ramanujan, saya tersentak dan takjub dengan pengalaman subjektif dari Ramanujan. Ia menuliskan Rumus Nilai negatif fungsi gamma, integral, deret hitung tak terhingga, bilangan prima dan partisi dalam dua buku tebal yang bisa di kerjakan seumur hidup oleh ahli matematika normal. Tetapi Ramanujan yang bersahabat dengan bilangan bulat positif punya daya Intuisi. ia mendapatkan rumus tersebut ketika berdoa kepada Namagiri-salah satu dewa di agama Hindu- yang menuliskan rumus-rumus matematika di lidahnya, saat ia teridur dan berdoa.

Pengalaman ini tentunya amat sulit di terima oleh ahli matematika positif yang menerima kebenaran jika dapat di buktikan. Tetapi Ramanujan telah mendobrak kekakuan matematika itu, dan menjungkirbalikkan otak matematika barat serta memperlihatkan sisi lain yang menakjubkan dari angka-angka. Ramanujan menuliskan rumus- rumus matematika rumit itu seperti seorang pelukis yang sedang menggambar matahari senja di ufuk barat. Bagaimana Ramanujan bisa merasakan keindahan matematika itu?.

Jika menilik sejarah radikal dari matematika, kita bisa sampai kepada sejarah rahasia mistik sains. Ketika Orpheus dengan notasi dalam satu oktaf menciptakan angka-angka dan mengatur matematika sambil memainkan musik yang mampu memesona manusia bahkan juga batu. Orpheus adalah sosok pahlawan mitologi Yunani kuno yang melambangkan bahwa yang kita ketahui hanyalah sesempit pulau kecil di tengah samudra gagasan dan cakrawala khayalan yang luas.

Aku juga jadi teringat dengan Phytagoras yang mampu mendengar musik Semesta lewat ukuran matematika. Phytagoras adalah sosok yang mampu memahami bagaimana intuisi Ramanujan bekerja. Phytagoras berkata bahwa “kehidupan bisa di jelaskan dengan rasional hanya sampai pada titik tertentu sedang selebihnya adalah bagian irasional yang luas”. Ramanujan adalah sosok yang mengalami bagian irasional itu. Rumus matematika muncul begitu saja lewat intuisinya sebagai mana Mozart menulis keajaiban syimphoninya.

Dengan cara yang hampir sama, Rene Descartes bapak Rasionalisme itu telah menulis karya besarnya bejudul De la Methode dengan dasar mimpi visioner akan kamus yang mesti harus di lengkapi saat mengasingkan diri di Belanda. Sehingga lahirlah adagium “ Aku berpikir maka aku ada”.

Newton sebagai “khalifah” dari matematika, kabarnya takjub dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno yang menjelaskan sistem numerik dan kode-kode rahasia dari stuktur alam semesta. Newton percaya akan adanya sil nitrum- sebuah medium halus dari materi- yang mampu mereorganisasi kosmos. Ia meyakini bahwa sil nitrum ini mampu untuk menghidupkan logam. Sehingga ia gembira bahwa benda mati juga punya daya hidup. Sil nitrum ini pada makalah-makalahnya juga di gunakan untuk membantu menjelaskan efek gravitasi.

Ada pula pahlawan Sains yang rela mati atas dasar intuisnya ketika Giordano Bruno dibakar di tiang pancang Karena percaya dengan heliosentris yang berasal dari matematika kuno bangsa Mesir. Sedang Leibniz merumuskan kalkulus dan philophy perennial Karena tertarik dengan misitisisme angka dalam Kabala.

Edison sebagai penemu Listrik dan fonograf meniatkan bahwa penemuanya mampu mendengarkan suara alam rohani. Sebagaimana Emmanuel Swedenborg dari swedia menemukan korteks otak besar Karena perjalanannya menempuh alam rohani.

Ramanujan adalah bagian dari berbagai sosok jenius besar ilmu pengetahuan yang mampu merasakan keajaiban dari buku Tuhan di dirinya. Namun bagaimana kita bisa mengerti bagaimana otak-otak jenius itu bekerja?

Francsi bacon kiranya mampu menjelaskan secara singkat, bahwa jika kita melihat objek-objek pengalaman Indrawi seobjektif mungkin, menanggalkan semua prasangka dan gagasan bahwa semua objek itu ditakdirkan begitu saja, maka pola-pola baru akan muncul. Bacon lebih lanjut mengatakan “bahwa kerajaan pengetahuan manusia tidak mampu mencapai kerajaan langit milik Tuhan jika ia tidak kembali menjadi seorang anak kecil”. Anak kecil itu menandakan sisi kepolosan manusia. untuk menerima dirinya dan dunia agar pengetahuan yang lebih tinggi dapat di capai.

Ramanujan adalah sosok polos yang mengagumi matematika sebagai lukisan tak berbentuk dan tak berwarna. Namun ia melihat keindahan di balik angka- angka yang tidak mampu terdeteksi oleh mata manusia biasa.

Untuk menjadi jenius rupanya kita harus kembali ke akar diri. Menjadi kanak-kanak menurut Bacon. Sedang dalam kebijaksanaan Filsafat al Farabi kita harus merasakan emanasi akal pertama. Dan dalam ke sufian kita harus fana dari segala hal yang hanya menjadi sampah tebal yang menutupi diri. Sehingga terjadi marifat, dimana kita mampu membaca buku pengetahuan Tuhan tanpa adanya penghalang antara yang fisik dan bathin.

Sekiranya itulah yang mampu saya refleksikan setelah menonton film ini. Karena berkat kisah Ramanujan aku jadi tersadar bahwa aku mesti jatuh cinta terhadap apa yang saya geluti. Termasuk bersahabat dengan masa kecil yang durhaka terhadap guru matematika.