Masyarakat Kritik Ekspor Benih Lobster

KHITTAH.CO, JAKARTA – Kebijakan Kementerian Kelauatan dan Perikanan mengenai ekspor lobster yang baru-baru ini diterbitkan mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan. Salah satunya disampaikan oleh Jaringan Masyarakat Maritim Progresif (JMMP) yang menilai kebijakan tersebut lebih banyak menguntungkan para juragan dibandingkan dengan nelayan yang sehari-hari berjibaku di laut. Disamping itu, JMMP menilai bahwa kebijakan tersebut patut diduga ada aroma persaingan yang tidak fair disitu.

“Sejak awal kebijakan ini sudah banyak yang resisten, sebab kebijakan ini cenderung hanya menimbang untung rugi semata, tidak melihat aspek ekologinya. Lagian yang diuntungkan kan para pemain besar, juragan. Nelayan kecil tetap terpinggirkan,” jelas Koordinator Presidium JMMP YR Passandre kepada Khittah, Jum’at (19/6/2020).

JMMP mengatakan bahwa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan ini perlu ditinjau ulang. Bahkan kalau perlu dicabut saja.

“Permen KP No. 12/2020 ini kan memberi ruang perdagangan keluar negeri bagi benih lobster. Dari sisi harga tentu jauh berbeda dibandingkan dengan menjual lobster yang sizenya sudah besar. Nelayan kecil juga diuntungkan. Oleh karena itu JMMP berpendapat kiranya Permen 12/2020 ini dicabut saja” tuturnya bersemangat.

JMMP merekomendasikan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) agar lebih fokus kepada penguatan kapasitas (modal dan kemampuan teknis) bagi nelayan pembudidaya (pembesaran) lobster. Bagaimana KKP menfasilitasi nelayan yang selama ini melakukan pembesaran lobster di keramba.

“Jadi kami merekomendasikan KKP agar menfasilitasi nelayan yang selama ini melakukan pembesaran. Dan mendorong masyarakat pesisir masuk ke budidaya ini. Petakan wilayah mana saja yang cocok secara teknis budidaya (pembesaran). Secara bisnis, pembesaran lobster ini kan menguntungkan bagi nelayan kecil dengan begitu bisa meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir” jelas pemuda asal Kepulauan Sapekan, Madura ini.