Melampaui Diksi-sentrisme

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

Kali ini saya mencoba untuk berangkat dari teori bahasa, lebih tepatnya filsafat bahasa. Untuk apa ?, untuk mencoba membedah situasi dimana keber-agama-an kita, begitu rentan terperangkap dalam hiruk pikuk slogan dan seremonial. Bukannya seremonial (seremoni) tak penting, seremonial penting selama dia adalah simbol, apa itu simbol ?, yaitu penanda (signifier) yang melampaui dirinya (transendensi). Tapi jika seremonial tak lagi menghantarkan kita kepada “yang di seberang” maka pada saat itulah seremonial lebih tepat jika disebut dengan “perangkap” bahkan “penjara”.

Apatah lagi slogan, slogan bagi saya, sesuatu yang lebih “riuh” dan “berumur pendek” ketimbang seremoni, walaupun slogan-slogan seringkali tumpah ruah dalam seremoni. Karena umurnya yang pendeklah, sehingga slogan perlu “berteriak” atau “diteriakkan” agar dirinya terlihat ada (exist), karena rentang antara kelahiran dan kematiannya tak begitu jauh. Sebagaimana seremoni, slogan bukanlah “buah terlarang”, selama slogan digunakan untuk mengehentak kejumudan dan kemapanan pikiran serta kekuasaan. Dengan kata lain slogan sebagaimana seromoni rentan untuk bermetamorfosa menjadi “penjara”.

Saat slogan dan seremoni telah menjadi “penjara”, maka itulah yang saya maksud dengan diksi-sentrisme. Kaum bijak stoa di abad 3 SM dalam hal ungkapan linguistik melakukan pembedaan antara “diksi” (leksis) dan “pemikiran” (logos). Pembedaan tersebut kongruen (sebangun) dengan pembedaan yang dilakukan oleh linguistik modern tentang “bentuk” dan “Isi”. Apa itu leksis dan apa itu logos ?, Leksis mengacu aspek sintaksis sebuah ungkapan kebahasaan, sementara logos pada aspek semantiknya (rajutan maknanya). Atau kalau kita mencoba untuk menggunakan model teoritik tersebut pada teori gerakan sosial, leksis dapat dianalogikan sebagai infrastruktur gerakan (struktur organisasi) beserta pengulangan-pengulangan yang menyertainya (seremonial, program rutin dan sebagainya), sedangkan logos dapat dianalogikan sebagai frame of reference (paradigma/ideologi) dari sebuah gerakan, yaitu bagaimana sebuah gerakan membaca-menafsir-bertindak terhadap realitas yang menjadi lokusnya.

Diogenes dari Babilonia (230-150 SM) kemudian membagi leksis menjadi dua macam, ada leksis yang bermakna (logos) dan ada leksis yang tak bermakna (alogos). Dan dari pembagian tersebut kita juga bisa membagi tipe gerakan (sosial/agama/kebudayaan/politik) menjadi dua jenis yaitu gerakan bermakna (logos) atau bisa kita sebut dengan “gerakan logos” dan gerakan yang tak bermakna (alogos) atau bisa kita sebut dengan “gerakan alogos”.

Gerakan logos artinya gerakan yang tak hanya mengasah rasionalitas instrumental dan rasionalitas strategisnya belaka. Yang saya maksud dengan rasionalitas instrumental yaitu rasionalitas yang berusaha mencari cara paling optimal dalam mencapai tujuannya, sedangkan rasionalitas strategis adalah rasionalitas yang berusaha mencari cara paling optimal dalam mencapai tujuanya dengan mempertimbangkan lingkungan starategisnya (kompetitor, stakeholder,struktur peluang ekonomi-politik dll.). Bagi gerakan yang bermakna (logos), rasionalitas instrumental dan strategis harus dituntun oleh rasionalitas nilai dan komunikatif. Cara dan metode pergerakan sebisa mungkin konsisten/sebangun oleh frame of reference gerakan, dan dieksekusi dengan menjunjung tinggi prinsip partisipatif nan egaliter.

Sedangkan “gerakan alogos” adalah antitesa dari “gerakan logos”. Gerakan yang tak bermakna (alogos) adalah gerakan yang menjadikan “diksi” (leksis) sebagai segala-galanya. Bagi gerakan alogos, mobilisiasi massa menjadi segala-galanya dan mobilisasi gagasan ditaruh ke urutan prioritas ke-sekian. Maka tak heran jika “gerakan alogos” terdengar lebih “ramai” bahkan “bising” dibanding “gerakan logos”. Pengeras suara, yel-yel dan publisitas menjadi “fardhu ‘ain” bagi “gerakan alogos”. Banyaknya peserta yang hadir di seremoni, banyaknya jumlah “anggota” di database keanggotaan menjadi awal wal akhir. Dan akhirnya “kader” direduksi menjadi sekedar anggota/pengikut.

Bagi gerakan bermakna (logos) arete (keutamaan intelektual-spiritual)) adalah segala-galanya sedangkan bagi gerakan takbermakna (alogos) popularitas adalah alfa-omega nya. Dalam semesta gerakan alogos istilah “perjuangan” direduksi menjadi “perekrutan anggota”, “militansi” diartikan sebagai sekedar “loyalitas terhadap pimpinan/senior”, tak ada lagi “militansi” yang ada hanya “penyesuaian diri”.

Asumsi utama dalam gerakan bermakna (logos), bahwa anggota ataupun yang diberikan predikat sebagai kader bukanlah sekedar entitas numerik, tapi yang terpenting bahwa mereka adalah manusia, dan pada dasarnya manusia adalah makhlukh pencari makna (meminjam istilah Paul Ricouer). Mengapa Abu Bakar, Umar, Usman , Ali dan pribadi-pribadi besar lainnya tertarik pada risalah Muhammad SAW ?, itu dikarenakan risalah Muhammad SAW mengkonfirmasi kebutuhan mereka akan “makna”. Mereka meng-aminkan ucapakan Al-Amin dikarenakan mereka muak dengan hiruk pikuk kejahiliyaan dimana perempuan tak dihargai, anak perempuan dikubur hidup-hidup, budak disiksa tanpa rasa kasihan, peperangan akibat ego kabilah yang menjadi-jadi dan sebagainya..

Bagi gerakan yang bermakna (logos), soal keaktifan berorganisasi bukanlah sekedar jenjang karir, tapi lebih dimaknai sebagai jalan panjang bagi manusia untuk keluar dari isolasi dan kesempitan diri, menerabas belukar egoisme dan berjumpa dengan kenyataan-kenyataan lain di luar dirinya (non-self,alterity, the others), termasuk kekayaan/kemajemukan dunia kultural, religius, politis, historis dan ilmiah yang sudah “ada” sebelum “diri” kita hadir. Sejalan dengan ungkapan Paul Ricoueur : “eksistensi (manusia) menjadi “diri” (self) hanya ketika menggapai makna yang lebih dulu hadir di dunia “luar sana”, dalam karya-karya, lembaga-lembaga dan monumen-monumen kultural, yang merupakan objektivikasi dari hidup “.

Tapi keriuhan (diksi-sentrime) selalu punya cara untuk menggoda “diri” yang rapuh. Jika kita meminjam gagasan linguistik Neoptolemeus dari Parium, Diksi-sentrisme (gerakan alogos) bisa diibaratkan puisi yang berbait panjang tapi tak memiliki syair sedikit pun, walaupun memiliki syair tapi urutan huruf yang ada hanya menghasilkan fonem (bunyi) yang maha panjang belaka tapi tak memiliki makna sama sekali (sebagaimana panggung-panggung hiburan di stasiun TV). Diksi-sentrisme pada dasarnya adalah penghancur simbol atau ikonoklasme (jika kita mengartikan simbol adalah penanda yang menunjuk di luar dirinya) walaupun memiliki berjuta lambang dan logo. Dan tentunya Tuhan hanya bisa didekati dan menyapa kita saat kita melampaui penjara “diksi” (leksis).

Wallaahu A’lam……..