Melukis Wajah Bangsa

artists-painted-nude-back-women-good-quality

Oleh : Saifuddin al Mughniy

_OGIE Institute Research and Political Development_



Sedikit mengulas kisah hidup dimasa lalu, disebuah pulau yang kecil di lintasan selat gaspar yang menghubungkan antara kepulauan Bangka dengan Belitung yang sekarang menjadi Propinsi Bangka Belitung terdapat pulau yang sangat kecil, dengan sekolah apa adanya disekitar tahun 1970-an, yah, kurang lebih 46 tahun yang lalu. Kami bermain dengan permainan tradisional, petak umpet, boboy, gasing, lompat tali dan lain sebagainya. Ada yang menarik di masa itu, kami selalu bernyanyi tentang Nyiur Pulau Kelapa, bagimu negeri, syukur, serta beberapa lagu perjuangan. Kami selalu menatap di kejauhan satu pulau dengan pulau yang lainnya, mereka hidup damai, tentram, berkasih sayang satu sama lain, mungkin ini sesungguhnya kehidupan yang bertoleransi sebagaimana orang-orang menyebutnya saat ini.

Kerinduan kita berbangsa dan bernegara tentu tidak seindah dari masa kemasa. Orde lama tentu merindukan kebangsaan dengan cara berjuang melepaskan dari cengkraman kolonialisme penjajah, memulai proses menjadi bangsa saat itu tentulah tidaklah mudah, banyak hal yang menjadi pertimbangan, aspek sosial politik yang mengalami fase ketegangan dengan di gelarnya berbagai perjanjian yang kemudian di khianati oleh penjajah. Resesi ekonomi sekitar tahun 1930-an, kemudian berujung di era kemerdekaan tahun 1945 dengan semangat nekat bangsa ini bergasil mengumandangkan kemerdekaannya sebagai satu perjalanan takdir bangsa yang tak terelakkan. Dan berujung  pada tahun 1965-1966 sebagai targedi politik yang memilukan. Tetapi ada hal yang menarik dari fase perjalanan itu adalah, jiwa, semangat dan kerinduan menjadi bangsa tetap menggema, penghormatan serta pemartaban kepada bangsa menjadi sesuatu yang memantik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saat ini tentu kita bertanya, kenapa bangsa kita mengalami fase degradasi secara sistemik, kondisi sosial ppolitik yang tak lagi memberi arti, bongkar pasang kabinet silih berganti (apa bedanya di masa orde lama), presiden yang dulu begitu dipuja kini pemimpin negara itu di hujat, dicaci, dibuli, diburu dan dicerca di media sosial. Presiden mengalami pemakzulan saat fenomena mama minta saham beberapa waktu yang lalu, yang berujung pada pemecatan ketua DPR RI, namun saat ini kembali dilantik menjadi ketua DPR RI kembali, bahkan seorang menteri yang diduga memiliki status kewarganegaraan ganda, saat yang tidak lama kembali dilantik menjadi wakil menteri. Yah, mungkin ini adalah yang disebut sebagai politik simulakra (tampilan yang tersembunyi).

Orde baru yang berkuasa 32 tahun lamanya runtuh seketika pada tanggal 21 mei 1998 tepatnya 18 tahun yang lalu, kekuatan civil society (mahasiswa dan masyarakat) menjadi garda terdepan, saat itu nyanyian tentang Indonesia Raya dan Halo-Halo Bandung sontak menjadi irama pergerakan, bendera merah putih begitu menjadi sesuatu yang sakral, di kibarkan setinggi-tingginya. Kumandang lagu kebangsaan mewarnai setiap detak jantung anak negeri, disitu arti sebuah penanaman nasionalisme kebangsaan, yang tak sekedar “marah” disepanjang jalan.

Kearifan lokal (local wisdom) begitu jauh terpental diarena globalisasi hingga tak nampak lagi frase-frase tentang budaya dan adat istiadat sebagai modal dasar pembangunan. Kapitalisme telah merenggutnya dengan melumat habis perekat-perekat sosial. Enititas etnik tak lebih dari sebuah pajangan dalam etalase berkehidupan di bangsa ini. Nyaris tak lagi ditemukan satu kekuatan budaya yang menjadi tugu ingatan kita dalam jejak berbangsa. Papua menjadi tangis kepiluan atas anak bangsa, tsunami di Aceh adalah peringatan kemanusiaan yang maha dahsyat, pemboman dimana-mana sebagai “gelagat” kekecewaan atas nohta kekuasaan. Yah, kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan menjadi trend diskusi para pejabat negara dan penggiat kemanusiaan alih-alih atas nama HAM dan toleransi.

800 tahun yang silam sebelum ideologi Pancasila ini lahir kearifan budaya telah menyuguhkan rasa toleransi yang kuat, kebersamaan yang dibangun lewat adagium teppo seliro, maksipature hutanabe (versi batak), mali siparappe malilu sipakainge (versi bugis-makassar), semua terekam dalam sejarah. Petuah demi petuah menjadi bentuk proses penyadaran masyarakat akan nilai. Yah, bagaimana kalau orang papua yang ditanya tentang siapa presiden Indonesia, lalu ia menjawab bahwa Presiden Indonesia itu Soekarno, lalu kita menampik bagaimana dengan yang lain, lalu mereka bilang Soeharto, Habibie, Gusdur, Mega, SBY sampai ke Jokowi dia anggap sebagai presiden “kadang-kadang”. Yah, mungkin kita sedang berada di negara yang “seolah-olah”, seolah-olah demokrasi ternyata tidak, seolah-olah kaya ternyata miskin, negeri serba seolah-olah.

Dan saat ini pula bangsa kita lagi berpesta dijalan tapi mereka bukanlah anak jalanan, mereka memiliki atensi berkebangsaan yang sedang terhasut oleh perilaku bertutur, perjalanan santri dari Ciamis, dari pesantren Darut Tauhid pimpinan Aa Gym, dan beberapa ornament yang turut bergabung adalah bentuk ekspresi berbangsa dan bernegara dengan wajah yang lain. Keramahan di masa lalu berubah menjadi kemarahan di masa kini, tapi bukan kehancuran di masa depan. Yah, mungkin ini juga adalah bagian serpihan pemikiran Goenawan Muhammad dalam catatan Revolusi yang tak pernah berakhir. Gerakan 411 sampai pada 212 adalah satu gerakan yang memberi kita isyarat tentang demokrasi, toleransi, serta bertutur dalam panggung-panggung kebangsaan. Bahwa demokrasi sementara bergerak menuju porosnya sebagimana ajaran filsuf dimasa lalu.


Oleh karena itu, sulit kita melukiskan wajah republik ini, sebab make up ibu pertiwi tak secantik dulu lagi. Anak-anak negeri sedang bertikai dengan dirinya sendiri, para pemangku kekuasaan sibuk ngurus keluarga dan seabrek proyeknya, para agmawan terjebak pada salah-menyalahkan, para ilmuwan dan cendikiawan sudah tidak siap untuk berbeda pandangan, kelompok mahasiswa telah terjaring dalam frane membela atau diam, para sufi pun terisak didalam gua-gua, dimana kaum agamawan seperti di masa lalu seperti Buya Hamka, KH. Hasyim Asy Ari, KH. Ahmad Dahlan dan lain sebagainya. Dan dimana kaum negarawan sekaliber Soekarno, Hatta, Muhammad Yamin, Natsir, Bung Tomo dan lain sebagainya. Menemukannya sesulit mencari jarum ditengah jerami (sebagaimana tulisan sebelumnya, Surplus Politisi, Defisit Negarawan).

Karenanya bait-bait lagu kebangsaan minimal menjadi pemantik dari “keretakan” kehidupan kebangsaan kita. Men(jadi) memang sangat tidak mudah, termasuk menjadi bangsapun adalah satu perjalanan sejarah yang panjang, tetapi filosofi perjalanan pasti ada akhirnya. Dari satu kejatuhan dan kehancuran dari situlah kita bangkit menjadi bangsa yang kuat dan besar, hari ini mungkin kita sedang berhadapan dengan diri kita sendiri, tapi besok atau lusa kita akan berhadapan dua kekuatan yang lebih besar lagi, yang akan siap menerkam bangsa ini menjadi puing-puing kenestapaan. Hanya bisa terselamatkan dengan satu konsensus politik yang kuat atas nama NKRI.

Belajar mengambil hikmah,
Adalah jalan bagi kita untuk
Melanjutkan kehiduoan ini,
Termasuk dalam kehidupan
Berbangsa dan bernegara.