Membaca Makna Ibadah

Oleh : Arifudin

Manusia diciptakan di muka bumi tidak lain dan tidak bukan, untuk beribadah kepada_Nya. Inilah “fitrah” kita. Sudah barang tententunya “saya” dan “kita” semua yang berada di muka bumi, menjalankan tugas dan kewajiban kita selaku khairo ummat (umat yang terbaik) Islam adalah agama  rahmatan lil’alamin (memberi rahmat bagi semua yang ada di luar dirinya).
Apakah makna ibadah ? Ibadah adalah segala sesuatu aktifitas kehidupan yang berorientasinya ditujukan kepada Allah, Tuhan semesta alam dan bahkan bisa berbentuk apa saja, selama berorientasi untuk memperole ridho Allah, maka itu bisa disebut ibadah.

Ibadah tidak hanya berbentuk sholat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah juga bisa berupa kegiatan mencari rezeki, makan, berolahraga, belajar, berumah tangga, ilmu pengetahuan dan bahkan sampai tidur pun bermakna ibadah. Selama dikaitkan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengikhlaskan ke_taatannya.

Dalam *QS. Ad Dzaariyat (51) : 56 – 68* artinya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan _”Supaya mereka beribadah kepada_ku”._ Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Dari bunyi ayat di atas ternyata Ibadah adalah kebutuhan manusia. Bukan kebutuhan Allah. Ayat di atas justru memberikan “penegasan” sebaliknya, bahwa ibadah itu bukan dimaksudkan, agar manusia memperoleh rezeki dari manusia. Melainkan manusia memperoleh rezeki dari Allah. Karena Allah adalah Zat yang maha kaya dan maha pemurah.

Sehingga Allah mengajarkan kepada kita, agar di dalam setiap sholat membacakan surat al Fatihah. Ternyata di dalamnya ada doa yang menegaskan bahwa kita berdo’a hanya meminta pertolongan kepada Allah saja. Sebab, kita memang butuh Dia.

*Qs. Al fatihah (1) : 5* menginformasikan _”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepda Engkaulah kami mohon pertolongan“_

Hadis lain menginformasikan dalam *QS. Al ‘ Ankabuut (29) : 6* “Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri“. Sesungguhnya Allah benar-benar maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Di ayat lain Allah mengatakan bahwa semua perbuata dan usaha kita bakal kembali kepada diri kita sendiri. Tidak ada pengaruh apa-apa pada eksistensi Allah. Karena Allah maha kaya, tidak membutuhkan apa pun. Dia telah memiliki segalahnya.

Dalam *Qs. An Nissa’ (4) : 131* mengatakan bahwa “Dan kepunyaan Allah_lah apa yang ada di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami telah memerintah_kan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan “Allah Maha kaya lagi maha Terpuji“.

Dan Musa berkata : “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah), maka sesungguhnya allah maha kaya lagi Maha terpuji.” *(QS. Ibrahim (14) : 8).*

Dari beberapa hadist di atas kita memperoleh sebuah kesimpulan umum bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk ibadah. Terkait dengan Allah, sang pencipta. Tetapi ibadah yang di maksud adalah bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk kepentingan diri kita sendiri.

Bahkan seluruh perintah Allah diberikan berdasarkan kasih sayang dan sifat Maha pemurahnya untuk kebahagiaan manusia.

Selain makna ibadah yang bersifat umum, kita mengenal ibadah-ibadah yang bersifat “khusus”, seperti shalat, puasa, zakat, haji, baca Qur’an, dan sebagainya. Ini tidak berbeda dengan ibada yang bersifat “umum”, ibadah khusus ini berada dalam “bingkai” pemahaman yang sama. Sesungguhnya shalat kita, puasa kita, zakat, haji kita bukan untuk kepentingan Allah. Melainkan sepenuhnya untuk kepentinga manusia itu sendiri.

Hanya saja dalam “prakteknya”, kebanyakan kita merasa itu bukan “kepentingan kita”. Melainkan sebuah kewajiban dari Allah yang mau tidak mau harus kita menjalankan. Jika kita tidak menjalankan, Allah akan marah kepada kita, dan kemudia Menghadiahkan” dosa. Sebaliknya, jikalau kita menjalankan kita bakal dihadiahi pahala.

Karena pemahaman seperti inilah maka kebanyakan dari “saya” dan “kita” semua melakukan ibadah dengan terpaksa. Sebagai kewajiban belaka. Dan, tidak bisa merasakan nikmat yang terkandung di dalam ibadah tersebut.

Padahal kalau kita mengkaji lebih mendalam ternyata ibadah itu sebuah “aktifitas” yang menghasilkan kebahagiaan bagi yang menjalankannya. Orang yang beribadah akan memperoleh rasa tentram, damai, dan bahagia. Jauh dari rasa khawatir, takut, dan gelisah. Pertanyaannya kenapa? Karena ia telah bertemu “tempat bersandar” yang sangat kuat nan kokoh. Yang selalu mendampinginya dalam setiap permasalahan yang dihadapinya.

Bukankan hidup adalah “aliran masalah” yang tidak pernah berhenti? Mulai kita bangun tidur sampai tidur kembali, kita selalu dihadapkan pada masalah. Kecil maupun besar. Dan kita dituntut untuk bisa menyelesaikan berbagai masalah itu dengan arif (bijak). Menghasilkan solusi yang menentramkan dan mambahagiakan semua pihak.

Diakhir tulisan penulis ingin menyampaikan bahwa ternyata orang yang rajin beribadah bakal menemukan tempat “curhat” dan tempat “bersandar” yang maha arif (bijak), maha pintar, dan maha perkasa. Semakin sering saya dan kita semua beribadah, maka semakin dekat pula kita kepada “sumber kekuatan”. Maka kita akan menjadi orang yang semakin “kuat”. Karena memang kita punya “becking” yang hebat tiada terkira.