Membangun Peradaban: Menangkap Spektrum Iman dan Ilmu dari Al-Qur’an

Membangun Peradaban: Menangkap Spektrum Iman dan Ilmu dari Al-Qur’an

Oleh: Agusliadi Massere

KHITTAH.CO, OPINI– Malam 17 Ramadan, sering kali diperingati sebagai malam Nuzulul Qur’an. Malam turunnya Al-Qur’an. Berdasarkan apa yang saya pahami dari ustadz Adi Hidayat, kata “Nuzulul” adalah diksi yang menunjukkan sebuah proses turunnya sesuatu (dalam hal ini Al-Qur’an) bukan secara (bentuk) fisik. Dan “Al-Qur’an” menunjuk sesuatu yang “khusus”. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia atau pedoman hidup.

Al-Qur’an adalah mukjizat yang memiliki keistimewaan dibandingkan yang lainnya. Al-Qur’an diturunkan pada bulan yang istimewa, bulan Ramadan (QS. Al-Baqarah [2]: 185). Kepada Rasulullah SAW yang memiliki keistimewaan dan melalui perantara malaikat yang istimewa, Malaikat Jibril. Karena mandatnya ini, menyampaikan Al-Qur’an kepada Rasululullah SAW, Jibril diangkat terlebih dahulu sebagai “Sayyidul Malaikah”, Penghulu para malaikat.

Untuk ini, Fazlur Rahman (dalam Abdullah Saeed) memiliki pandangan berbeda, “pembawa wahyu bukanlah malaikat seperti dipahami secara tradisional, namun ia adalah ruh”. Rahman juga menegaskan “pewahyuan dan pihak-pihak yang berperan di dalamnya bersifat spiritual, dan ini merupakan proses internal di dalam diri sang Nabi”. Terkait kontroversial ini, saya tidak punya kapasitas untuk menarik sebuah kesimpulan.

Al-Qur’an memiliki keindahan bahasa yang tidak tertandingi oleh syair apapun yang ada. Ternyata jika saya menginterpretasi ulang pandangan Rahman (dalam Saeed), menunjukkan sebuah kesadaran sosial, yang pada saat itu bangsa Arab yang hedonis, menjadikan syair sebagai “pelarian” ketika sedang galau. Maka sudah pasti, Al-Qur’an harus lebih indah daripada syair-syair mereka pada saat itu.

Orientalis H.A.R. Gib pernah menulis bahwa: “tidak ada seseorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Qur’an), (Quraish Shihab: 2013). Ini berarti menunjukkan sebuah keindahan yang sangat istimewa.

Al-Qur’an diturunkan selain sebagai petunjuk sekaligus sebagai pembeda antara yang benar dan batil. Maka ini bisa dimaknai sebagai sebuah cahaya kebenaran, yang akan menuntun manusia untuk tetap bisa berjalan di atas platinum track-nya. Termasuk untuk membangun peradaban.

Untuk konteks tulisan ini—yang dengan penuh kesadaran saya memahami bahwa “secuil” dari Al-Qur’an pun, tidak sanggup diinterpretasikan di sini—saya fokus bagaimana kita mampu menangkap spektrum “iman” dan “ilmu” dari Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai cahaya, memiliki banyak spektrum, baik yang tabirnya sudah tersingkap maupun yang belum. Tujuannya agar kedua spektrum ini, bisa menjadi spirit membangun peradaban.

Dari sekian banyak spektrum yang ada, di antaranya ada “iman” dan “ilmu”. Rahman menegaskan bahwa karakter Al-Qur’an adalah “ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan”. Dari sini saya coba menarik garis relasi, tepatnya saya menarik makna derivatif. Ketuhanan adalah iman atau keimanan, dan kemanusiaan adalah ilmu.

Mengapa saya menarik garis relasi, menurunkan makna derivatif antara “kemanusiaan” dan “ilmu”? Terinspirasi dari Moh. Muzdakkir (2014), saya memahami bahwa pembicaraan tentang kemanusiaan ataupun manusia itu diapit oleh dua hal: Pertama, pembicaraan tentang pendidikan; dan kedua, pembicaraan tentang alat baca (filsafat). Keduanya ini, pendidikan dan filsafat adalah “ilmu”.

Jika merujuk pada QS. Al-Mujadalah [58]: 11, maka Allah memberikan keunggulan bagi orang yang beriman dan berilmu. Dalam konteks yang lebih luas, meskipun saya sedang tidak sedang memberikan tafsir terhadap QS. Al-Mujadalah [58]: 11 itu, peradaban adalah akumulasi keunggulan berbagai dimensi kehidupan.

Islam sebagai sebuah peradaban, hari ini sedang mengalami inferiority complex dihadapan peradaban Barat. Dari banyak aspek kehidupan, Barat lebih mendominasi dan sebagai pemegang hegemoni hari ini. Kebangkitan kembali peradaban Islam, adalah impian umat Islam. Untuk hal tersebut, tentunya bukan lagi “ekspansif teritorial” yang dilakukan seperti model kolonialisme dan imperialisme atau model ekspansi Islam masa lalu.

Berdasarkan penjelasan Yudi Latif, Arnold Toynbee pernah melakukan riset puluhan peradaban untuk mengetahui bertahan/tidak, jaya/tidak-nya sebuah peradaban. Dari risetnya tersebut, tentang peradaban, maka dihasilkan apa yang disebut dengan “radiasi budaya”. Dan ini memiliki empat lapisan.

Lapisan “radiasi budaya” Toynbee, terdiri dari: Lapisan pertama, atau lapisan terdalam adalah visi/nilai-nilai spiritual; Lapisan kedua adalah lapisan “etika”; Lapisan ketiga adalah lapisan “estetika”; dan lapisan keempat, lapisan paling luar adalah “ilmu pengetahuan dan teknologi sains”.

Meskipun lapisan kedua, ketiga, keempat lemah atau bahkan hancur, selama lapisan pertama, dalam jantung peradabannya masih tersimpan visi dan/atau nilai-nilai spiritualitas, maka bisa dipastikan peradaban itu masih bisa bertahan. Dan agar sebuah peradaban bisa memberikan pengaruh terhadap peradaban lainnya, maka peradaban tersebut syarat utamanya harus unggul terhadap lapisan keempat, lapisan paling luar yaitu, “ilmu pengetahuan dan teknologi sains”.

Dari radiasi budaya Toynbee, kita pun harus mendapatkan pemantik kesadaran—sebagaimana ditegaskan oleh Quraish Shihab—bahwa, semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Kitab—berdasarkan apa yang saya pahami dari ustadz Adi Hidayat—adalah lebih dari sekedar “mushaf” karena susunannya sudah sistematis dan lengkap. Hari ini Al-Qur’an yang kita baca adalah kitab juga.

Quraish Shihab menegaskan bahwa, “peradaban Yunani dimulai dengan “Illiad” karya Homer pada abad ke-9 SM; Peradaban Eropa dimulai denngan karya Newton; dan Peradaban Islam lahir dengan kehadiran Al-Qur’an”. Jadi Al-Qur’an sudah menjadi spirit membangun peradaban, dan saya yakin untuk kebangkitan kembali Peradaban Islam, maka kata kuncinya adalah Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an mengandung cahaya “dahsyat” maka untuk membangun peradaban, minimal kita mampu menangkap spektrum iman dan ilmu. Iman yang berdimensi spiritualitas adalah modal utama dan berada dijantung peradaban, agar bisa eksis selamanya.

Dengan memperhatikan ghirah keislaman umat hari ini, Islam yang dipandang sebagai sebuah peradaban itu tidak akan pernah hancur. Karena dimensi keimanan, masih sangat kokoh. Islam mengalami kemunduran hanya dalam hal pengaruh, atau lemah dalam pergumulan dan pergulatan dengan peradaban lain, terutama peradaban Barat.

Islam tidak memiliki kemampuan berkompetisi dalam percaturan peradaban-peradaban dunia—dan ini yang dipandang sebagai sebuah “kemunduran” atau krisis—karena dari spektrum “ilmu”. Islam masih sangat lemah.

Ali A. Allawi menyimpulkan “Islam sebagai agama sampai sekarang menduduki posisi sentral dalam kehidupan miliaran manusia di seluruh dunia, dan terbukti tangguh menghadapi gempuran baik ateisme maupun sekularisme.

Lanjut Allawi “namun perwujudannya sebagai sebuah peradaban, tengah mengalami krisis monumental. Bertubi-tubi peradaban Islam menerima pukulan yang menggoyahkan: ekspansi Barat, modernitas dan terakhir globalisasi”.

Jadi spektrum keilmuan umat Islam sangat sempit beberapa abad terakhir. Meskipun sejarah harus mengakui bahwa kebangkitan Barat berhutang budi terhadap peradaban Islam.

Membaca buku “Epistemologi Pendidikan Islam” karya Prof. Dr. Mujamil Qomar, M. Ag, saya menarik kesimpulan bahwa peradaban Islam tidak mampu bersaing dengan peradaban lain, karena Islam sangat lemah dalam hal “epistemologi” dan/atau “epistemologi pendidikan Islam”. Padahal berbicara tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sains basisnya adalah epistemologi.

Selain itu dalam diskursus pemikiran Islam, yang lebih mendominasi adalah pemahaman keagamaan dengan pendekatan Bayani (tekstual). Padahal ada dua pendekatan lainnya, Burhani dan Irfani yang belum maksimal digunakan sebagai pendekatan untuk memahami nash-nash Al-Qur’an atau sumber ajaran Islam lainnya.

Pendekatan Bayani seringkali dipandang kurang mampu membangun dialog dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kita lupa bahwa spirit utama Islam adalah rahmatan lil ‘alamin dan Al-Qur’an adalah pedoman bagi manusia, sehingga harus mencerminkan “shalih li kulli zaman wa makan”.

Selain itu—meminjam perspektif Prof. M. Amin Abdullah—umat beragama yang memiliki corak berpikir binary, sehingga bagi saya, melihat umat Islam hari ini lebih “fiqh oriented”. Mereka juga lupa, meskipun Al-Qur’an bukan sebagai kitab science (sains) tetapi penuh sign (tanda). Ada banyak tanda-tanda atau cara membaca tanda untuk menciptakan keunggulangan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sains.

Dan terbukti, Prof. Agus Purwanto, D.Sc mengkonstruksi teorinya “Ayat-Ayat Semesta” maupun “Nalar Ayat-Ayat Semesta” itu dari Al-Qur’an. Prof. Agus menjadikan Al-Qur’an sebagi basis konstruksi ilmu pengetahuan.

Caner Taslaman (seorang Peneliti dan Penulis bestseller dari Turki) dalam karyanya “Miracle of The Qur’an”, keajaiban Al-Qur’an itu mampu diungkap berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah modern.

Apa yang ditemukan oleh Prof Agus maupun Taslaman itu yang belum menjadi orientasi dan tujuan utama umat Islam. Padahal—jika meminjam perspektif Yudi Latif—saya menyimpulkan untuk menjadikan Islam sebagai peradaban yang berpengaruh (menjadi kiblat) bagi peradaban lain tidak perlu menjadi “negara Islam”, cukup umat Islam berupaya mencapai keunggulan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sains.

Mari melihat kembali radiasi budaya Arnold Toynbee di atas yang dirumuskan dari hasil risetnya. Meskipun Indonesia menjadi negara Islam, sebagai cita-cita para “pengusung khilafah”, selama tidak unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sains, selamanya tidak akan pernah menjadi kiblat bagi peradaban dan bangsa lain.

Hal paradoks yang terjadi di tengah umat hari ini, dan harus disadari bersama sebagai modal untuk bangkit, ada anekdot “negara lain telah menawarkan paket wisata keluar angkasa, kita di sini masih sibuk membahas perdebatan tarwih 11 rakaat atau 23 rakaat”. Dari anekdot ini, bisa saja saya dikecam dan dituduh aneh-aneh dan menyampaikan dalil lain untuk membela diri pendiriannya.

*Agusliadi Massere, Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023