Membaurkan Yang Beda, Cara Musa Bin Nushair Menaklukkan Andalusia!

 

Kitab klasik (google.com)

Khittah.co– Dahulu, kekuasaan Islam mencakupi Eropa. Ternyata, Sang Penakhluknya, Musa bin Nushair, menjunjung tinggi pluralitas masyarakat dalam penguasaannya. Berikut kisahnya!

Mulanya, pada masa kekuasaan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M), Musa turut dalam ekspedisi penaklukan Afrika, papar Syekh Said Mursi. Ia ditunjuk sebagai kepala penasihatnya.

Saat terjadi kekacauan di Maroko, pada abad ke-8, dalam waktu singkat, Musa juga berhasil memadamkan gejolak di sana dan mengajak kembali penduduknya masuk Islam. Bahkan, Musa juga berhasil menaklukkan wilayah barat Maroko yang belum pernah tersentuh. Saat itu, Kabilah Barbar memberontak dan berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Umayyah.

Tidak hanya itu, Pada tahun 705 M, Khalifah Walid bin Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubernur Afrika bagian utara dan sekitarnya. Pada tahun yang sama, Musa berhasil menaklukkan Sicilia, sebelah selatan Italia.

Pasukan yang dipimpinnya meraih harta rampasan yang begitu banyak. Pulau tersebut tetap berada di bawah kendali umat Kristen, Musa hanya bermaksud menghukum mereka, bukan merebut wilayah mereka. Sebuah kemenangan yang agung!

Strategi Musa amat bijaksana. Ia membaurkan bangsa Arab dan Barbar, menjunjung tinggi pluralitas. Ia melakukan hal tersebut agar bangsa Barbar merasa dihormati. Dengan kekuatan tersebut, Musa dapat memperluas wilayah kekuasaan ke seberang lautan, yaitu Andalusia.

Dalam membuka wilayah tersebut, ia memberi kepercayaan kepada Tariq bin Ziyad sebagai pemimpin invasi. Tariq berhasil membuka wilayah Spanyol dan membagi pasukannya menjadi empat kelompok. Ia menyebarkan pasukan tersebut ke Cordoba, Malaga, Granada, dan Toledo.

Sedangkan, Musa memimpin 10 ribu pasukannya ke Spanyol dan bertemu dengan Tariq di Toledo. Penaklukan Spanyol terus berjalan hingga ke Zaragoza, Aragon, Leon, Astoria, dan Galicia. Seluruh daratan Spanyol berhasil ditaklukkan pasukan Muslim pada 86 H (715 M), di bawah pemerintahan Khalifah Walid.

Akan tetapi, khalifah meminta Musa untuk menghentikan penaklukan karena mencemaskan masa depan pasukan dan akibat yang ditimbulkan bila masuk terlalu jauh ke dalam wilayah Spanyol. Ia diminta kembali ke Damaskus.

Sebelum kembali ke Damaskus, Musa mengangkat anaknya yang bernama Abdulaziz sebagai penguasa Cordoba. Ia juga mengangkat anaknya yang bernama Abdullah untuk menjadi gubernur Afrika.

Sumber: Republika.co.id