Mengajar Sambil Bertani, Cara Guru Honorer MA Muhammadiyah Bantaeng Penuhi Kebutuhan Hariannya

Abd Rahman (kiri) saat ditemui di Banateng, Januari 2021

KHITTAH.CO, BANTAENG– Perjalanan nasib guru honorer selama ini cukup mengharukan dan menyedihkan. Bagaimana tidak, mengajar di dalam kelas dengan honor yang jauh dari layak malah lebih rendah dari upah minimum provinsi (UMP).

Pada kondisi demikian para guru honorer memilih kerja lain guna melanggengkan dan merawat ekonomi keluarga. Beberapa pekerjaan sampingan bagi yang menetap di desa adalah dengan bertani atau berkebun.

Hal demikian dijalani oleh salah seorang guru honorer di Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Bantaeng, Abd Rahman, S.Pd.

Saat ditemui pada pekan pertama Januari 2021, Abd Rahman mengatakan, awal memulai menjadi guru honorer di MA Muhammadiyah Bantaeng sejak Januari 2017.

Menurutnya, suka dan duka dalam menjalani profesi harus punya perencanaan keuangan yang cermat dan tepat.

“Bukan berarti agar mampu berinvestasi, tapi diharap semua kebutuhan tercukupi sebab gaji masih rendah di bawah UMP,” katanya.

Saat ini menjalani profesi selaku guru honorer, juga meluangkan waktu bertani di sekitar tempat tinggalnya di Bantaeng.

Meski menjadi guru adalah panggilan hati, tetapi kebutuhan hidup harus terpenuhi.Makanya dia harus mengembangkan keterampilan di bidang lain, multitalenta guna menunjang pekerjaan utama.

Saat ini dia berstatus guru non sertifikasi. Menjadi guru bukan sebuah impian masa kecil.

Tetapi apapun pekerjaan saat ini, tidak terlepas dari sebuah pilihan dari awal sejak tamat SMA melanjutkan pendidikan pada disiplin ilmu pendidikan dan keguruan.

“Setelah menjadi guru berarti pilihan pengabdian dan pengharapan. Mengabdi memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya,” pungkasnya.

Serta pengharapan agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, tanpa ada tekanan atau ancaman dari pihak yang tidak memahami tugas guru dengan semestinya.

Jika menghadapi murid nakal baginya adalah ujian memahami batas kemampuan mendidik, jika demikian ada dan sudah pasti ada beberapa murid nakal dalam satu kelas ataupun dalam satu sekolah.

Maka, solusinya memeriksa diri sendiri/introspeksi tentang metode mengajar serta menganalisis permasalahan eksternal siswa. Perilaku siswa sulit diatur adalah bagian dari cerminan seorang guru.

“Di masa pandemik, proses belajar mengajar juga terhambat maka selaku guru harus menyiapkan materi pembelajaran melalui daring.

Tentu harus lebih kreatif dalam menyediakan model pembelajaran, salah satunya adalah menyiapakan materi menggunakan powerpoint.

Materi itu kemudian dishare pada aplikasi yang digunakan melalui daring. Memanfaatkan sosial media adalah alternatif paling baik dalam menjalankan proses belajar mengajar di masa pandemik,” katanya.

Abd. Rahman, lahir di Bantaeng 19 Agustus 1981. Aktif di persyarikatan Muhammadiyah sejak 2010, alumni S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unismuh Makassar 2013. (Anisa Angreni)