Mengapa Muhammadiyah Memilih Hisab dalam Penentuan Awal Ramadhan

Pedoman Hisab Muhammadiyah
Pedoman Hisab Muhammadiyah

KHITTAH.co – Karena adanya beberapa problem penggunaan rukyat (Baca: Inilah Problem Rukyat dalam Penentuan Awal Ramadhan/ Idul Fitri), beberapa   kalangan,   termasuk   Muhammadiyah, beralih kepada penggunaan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Alasannya:

1)  Rukyat  itu  sendiri  bukan  maqasid  syariah  dari  nas-nas yang memerintahkan melakukan pengintaian hilal. Rukyat hanyalah wasilah (sarana), dan satu-satunya sarana yang tersedia di zaman Nabi saw, untuk menentukan awal bulan kamariah khususnya Ramadan, Syawal dan Zulhijah. Apabila terdapat sarana lain yang lebih mampu mewujudkan tujuan hadis, lebih memberi kepastian dan dapat memprediksi tanggal jauh ke depan, maka mengapa kita masih tetap bertahan dalam soal sarana yang tidak menjadi tujuan pada dirinya?

2) Rukyat lebih lanjut dan sebagaimana ditegaskan oleh Muhammad Rasyid Rida dan Mustafa az-Zarqa bukanlah ibadah,  melainkan hanyalah sarana yang tersedia  pada zaman itu dan karena hanya sarana ia dapat mengalami perubahan sepanjang zaman dan dapat ditinggalkan apabila ia tidak lagi mampu memenuhi tuntutan zaman.

Advertisement

3) Penggunaan hisab sebagai alternatif dari rukyat untuk menentukan masuknya bulan kamariah, khususnya bulan- bulan ibadah, lebih mudah, murah biaya, dapat mem- prediksi tanggal jauh ke depan, lebih memberi kepastian, dapat menyediakan kalender yang akurat, dan dapat menyatukan kalender bahkan untuk seluruh dunia, serta satu-satunya cara untuk menghindari terjadinya perbedaan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan tempat-tempat lain yang jauh.

(Baca Juga: Muhammadiyah Umumkan Awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha)

4)  Hisab  memiliki  landasan  di  dalam  al-Quran  dan  dalam Sunnah Nabi saw. Antara lain:

a) Surat ar-Rahman ayat 5 dan surat Yunus ayat 10.

Artinya:    Matahari   dan   Bulan   beredar    menurut perhitungan [55: 5].

ArtinyaDia-lah  yang  menjadikan  matahari  bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi Bulan itu manzilah-manzilah, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui [Q. 10: 5].

Kedua   ayat   ini   menunjukkan   bahwa   Bulan   dan matahari memiliki  sistem  peredaran  yang  ditetapkan oleh Sang Pencipta sedemikian rupa sehingga peredaran itu dapat dihitung. Penegasan bahwa peredaran matahari dan Bulan dapat dihitung bukan sekedar informasi belaka, melainkan suatu isyarat agar dimanfaatkan untuk penentuan bilangan tahun dan perhitungan waktu secara umum.

Kita semua tentu sepakat bahwa penafsiran al-Quran atau hadis tidak sekedar menggali informasi yang terkandung  di  dalamnya,  melainkan juga  bagaimana kita  dapat  menangkap  maksud  dan  makna  yang terpatri di balik informasi itu. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa bilamana dalam Q. 55: 5 Allah tidak perlu sekedar memberi informasi bahwa matahari dan Bulan dapat diprediksi dan dihitung geraknya, karena hal itu tanpa informasi Tuhan sekalipun pada akhirnya akan dapat juga diketahui oleh manusia manakala ilmu pengetahuan yang dikembangkannya mencapai kemajuan  pesat.  Tentu  sangat  penting  mengetahui maksud serta makna di balik informasi itu, ialah agar manusia melakukan perhitungan tersebut untuk di- gunakan bagi berbagai kemanfaatan hidup di antara- nya pembuatan sistem kalender guna mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Jadi kedua ayat di atas mengandung isyarat penggunaan hisab untuk penentuan sistem waktu Islam, termasuk penentuan masuknya bulan kamariah.

b) Surat Ya Sin 39-40:

Artinya: Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah- manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang  tua.  Tidaklah  mungkin  bagi  matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [Q. 36: 39-40].

Ayat ini dapat difahami mengandung dalalah isyarah bahwa awal bulan ditandai dengan (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak itu terjadi sebelum gurub, dan (3) saat gurub matahari, bulan masih di atas ufuk.

c) Hadis Ibn ‘Umar r.a.

Artinya: Dari ‘Abdullah Ibn ‘Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika bulan dia atasmu terhalang oleh awan, maka estimasikanlah [HR al-Bukhārī dan Muslim].

Ada  tiga  penafsiran  terhadap  hadis  ini.  Pertama, jumhur ulama berpendapat bahwa makna faqduru lahu adalah ‘maka estimasikanlah bulan berjalan itu 30 hari.’11 Kedua, ulama-ulama Hanbali mengatakan faqduru lahu berarti qaddiruhu tata as-saāb (anggaplah ia berada di bawah awan), artinya anggaplah   ia   terlihat,   sehingga   keesokan   harinya adalah bulan baru. Dengan kata lain, apabila ada awan yang menghalangi terlihatnya hilal pada hari ke-29 (malam ke-30), maka pendekkanlah bulan berjalan dan mulailah bulan baru keesokan harinya. Alasannya adalah  bahwa  kata  qadara  –  yaqduru  /  yaqdiru  itu berarti ‘menyempitkan’ seperti dalam firman Allah [Q.89: 16], fa qadara ‘alaihi rizqahu (‘… lalu Allah menyempitkan rezkinya’).  Atas dasar itu, faqduru dalam hadis Ibn ‘Umar di atas dimaknai menyempitkan bulan  berjalan,  yaitu  menjadikannya  29  hari  saja.

Ketiga,  pendapat  yang  menyatakan  bahwa  makna faqduru lahu adalah lakukanlah perhitungan hisab. Pendapat ini diikuti oleh Ibn Suraij dan para penganut hisab lainnya.

Jadi pendapat ketiga mengenai tafsir hadis ini memberi peluang penggunaan hisab. Bahkan penggunaan hisab dalam hadis ini dapat diperluas, tidak hanya saat tertutup awan, tetapi juga dapat diperluas ke dalam semua keadaan, karena kebutuhan kita untuk menyatukan jatuhnya hari ibadah kita menuntut perluasan penafsiran itu.

Perlu dicatat mengenai hadis Ibn ‘Umar (hadis faqduru lahu)  ini  bahwa  di  dalamnya  terdapat  penegasan samak (pendengaran langsung dari Nabi saw) dan dalam ilmu hadis dan usul fikih, formula sami‘tu (aku mendengar   Nabi   saw   bersabda)   adalah   formula tertinggi  yang  menggambar  tingkat  orisinalitas  hadis dan apabila ia bertentangan dengan hadis yang lain, formula ini adalah alasan mengunggulkannya atas riwayat lain. Hadis Ibn ‘Umar umumnya menggunakan lafal faqduru lahu, hanya ada sedikit yang meng- gunakan penutup dengan istikmal. Hadis-hadis istikmal (perintah menggenapkan) semuanya menggunakan formula ‘Nabi saw bersabda’ yang tingkatnya lebih di bawah formula samak. Jadi hadis estimasi (faqduru lahu) menggambarkan riwayat yang lebih orisinal. Sementara hadis istikmal (yang memerintahkan penggenapan 30 hari) adalah interpretasi rawi yang melakukan periwayatan secara maknawi (riwayah bil- ma’na).  Ini  terlihat  jelas  dalam  riwayat  al-Bukhari melalui Malik dari Ibn Dinar dari Ibn ‘Umar yang menutup hadis itu dengan perintah menggenapkan 30 hari. Padahal Malik sendiri dalam al-Muwatta’ meriwayatkan hadis yang sama adalah dengan pernyataan ‘estimasikanlah’. Jadi ini sebuah penyim- pangan dari matan standar hadis Ibn ‘Umar.

Hadis-hadis  istikmal  bersumber  dari  Ibn  ‘Abbas  dan Abu  Hurairah  dengan  formula  ‘Nabi  saw  bersabda’, yang berarti kedua rawi Sahabat itu tidak menegaskan secara  pasti  bahwa  mereka  mendengar  langsung sabda  Nabi  tentang  istikmal.  Tidak  ada  hadis  dari kedua mereka yang menggunakan formula samak (Aku mendengar Nabi saw bersabda) yang menunjukkan penegasan bahwa mereka mendengar langsung dari Nabi  saw  seperti  dalam  matan  standar  hadis  Ibn ‘Umar. Hal ini dapat difahami karena kebersamaan Ibn ‘Abbas  dan  Abu  Hurairah  dengan  Nabi  saw  relatif sedikit dibandingkan Ibn ‘Umar. Ibn ‘Abbas ketika Nabi saw hijrah ke Madinah baru berusia tiga tahun dan keluarganya  tidak  ikut  hijrah  bersama  rombongan kaum Muhajirin dan Nabi saw. Ayahnya baru hijrah ke Madinah menjelang penaklukan Mekah pada tahun 8 H (630  M). Sementara itu  Abu Hurairah baru  masuk Islam pada tahun 7 H.16 Oleh karena itu kebersamaan mereka dengan Rasulullah saw jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Ibn ‘Umar yang menyertai Rasulullah saw sejak dari Mekah hingga berhijrah ke Madinah sampai wafatnya. Karena itu sangat wajar apabila Ibn  ‘Umar  mendengar  langsung  sabda  Nabi saw, sementara Ibn ‘Abbas dan Abu Hurairah mendengarnya  melalui  Sahabat  lain  dengan  matan yang   diriwayatkan   maknanya   saja,   bukan   matan langsung dari Nabi saw. Oleh karena itu kedudukan hadis estimasi lebih kuat dari hadis istikmal.

5)  Perintah rukyat dalam hadis-hadis Nabi saw, menurut para ulama, adalah perintah berilat (perintah yang disertai kausa), yaitu kondisi umat pada saat itu masih ummi, yaitu kebanyakan mereka belum mengenal tulis baca dan hisab, sehingga untuk memudahkan Nabi saw memerintahkan sarana yang mungkin dan tersedia saat itu, yaitu rukyat.

Oleh karena itu terhadap penggunaan rukyat itu berlaku kaidah usul fikih,

Artinya:  Hukum  itu  berlaku  menurut  ada  atau  tidak adanya ‘illat dan sebabnya.

Artinya perintah rukyat tetap berlaku apabila ada illat, yakni keadaan umat  yang masih ummi dan belum memahami hisab.  Tetapi  apabila  illat  sudah  tidak  ada,  yakni  telah terjadi perkembangan penguasaan hisab yang canggih seperti pada masa kini, maka rukyat tidak diperlukan lagi karena illatnya sudah tidak ada. Bahwa perintah rukyat itu adalah perintah berillat (perintah yang disertai kausa) diterangkan dalam hadis,

Artinya: Dari Ibn ‘Umar, dari Nabi saw (diwartakan) bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya  adalah  kadang-kadang  dua  puluh  sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR al-Bukhāri dan Muslim].

6) Oleh karena perintah rukyat sesungguhnya bersifat sementara, yakni digunakan selama umat Islam masih hidup dalam kesederhanaan naturalis di mana mereka belum bisa mengamati dan memprediksi gerak astronomis benda-benda langit berupa bulan dan matahari untuk kepentingan  perhitungan  waktu.  Hal ini  ditegaskan  oleh Syaikh Syaraf al-Qudah,

Asas pokok (al-al) dalam penetapan awal bulan kamariah itu adalah hisab. Pada masa-masa awal Islam hisab memang tidak mudah dan belum akurat. Pada zaman itu yang mudah adalah rukyat bilamana cuaca terang, jika tidak, maka dilakukan penggenapan bulan berjalan tiga puluh hari. Pada zaman sekarang kita wajib kembali kepada asas pokok tadi karena ia telah menjadi mudah dan akurat untuk menetapkan masuknya bulan baru dan menolak klaim rukyat yang keliru secara sama tanpa ada perbedaan antara keduanya baik secara syar‘i maupun secara keilmuan.

7)  Dalam  hadis  riwayat  al-Bukhāri  dan  Muslim  dianjurkan mengintai malam kadar (lailatul-qadr) pada sepuluh malam yang ganjil dari Ramadan sebagaimana ditegaskan dalam hadis berikut,

Artinya:  Dari  ‘A’isyah  r.a.  (diwartakan)  bahwa Rasulullah  saw  bersabda:  Intailah  malam  kadar  itu  di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan [HR al-Bukhari –ini adalah lafalnya– dan Muslim].

Kita tentu meyakini bahwa malam kadar itu turun hanya sekali  pada  tanggal  dan  malam  yang  sama  di  seluruh dunia. Tidak mungkin ada dua atau lebih malam kadar selama Ramadan karena baik dalam al-Quran maupun Sunnah Nabi kata malam kadar dipakai dalam bentuk tunggal tidak jamak. Pada sisi lain rukyat akan membelah muka bumi sehingga ada yang lebih dahulu memasuki Ramadan dan ada yang terkemudian sehingga tanggal Ramadannya tidak sama. Keadaan ini tidak dapat menepatkan anjuran Nabi saw itu sebagaimana mestinya karena   tanggal  Ramadan   di  suatu  kawasan   berbeda dengan tanggal Ramadan di kawasan lain karena rukyat terjadi berbeda. Oleh karena itu penanggalan Islam di seluruh dunia harus disatukan agar anjuran Nabi saw itu dapat  dilaksanakan  secara  pas  dan  sebagaimana mestinya. Jalan menyatukan penanggalan itu hanya dimungkinkan melalui hisab dan tidak mungkin dengan sistem rukyat. (*)

*) Dikutip dari Makalah Prof Dr. H. Syamsul Anwar, MA, yang berjudul “Paham Hisab Muhammadiyah”, disampaikan dalam acara Coaching Pendalaman Materi dan Penyamaan Persepsi tentang Paham Hisab Muḥammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan, pada hari Ahad 9 Rajab1437 H / 17 April 2016 M, di Yogyakarta. Makalah utuh dapat didownload disini: Makalah Paham Hisab Muhammadiyah