“MENGASAH SEBILAH PEDANG” (Bag. 2)

Oleh: Dr. Fadli Andi Natsif

Dosen UIN Alauddin Makassar, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel

KHITTAH.co – Dunia tulis menulis merupakan dunia yang unik dan dianggap langkah karena banyak orang yang ingin terjun kedalamnya ternyata hanya sampai pada angan-angan belaka. Walaupun telah banyak orang yang mengikuti latihan-latihan jurnalistik atau semacamnya yang akan menghantarkan menggeluti dunia penulisan. Diantara sekian banyak orang yang mengikuti mungkin hanya satu dua orang yang mampu merealisasikanapa yang telah didapatkan dalam latihan itu. Mereka menganggap bahwa kalau sudah masuk latihan jurnalistik mungkin minat itu akan tumbuh. Memang tak ada susahnya seandainya minat itu telah tumbuh. Tinggal banyak membaca dan latihan karena bagaimana mungkin kemampuan itu akan ada kalau tidak banyak latihan.

Latihan keterampilan jurnalistik atau semacam penulisan menurut Arswendo hanya merupakan usaha untuk menciptakan iklim atau mungkin petunjuk praktis. Artinya, orang tidak pernah akan berpikir menjadi penulis, tapi kalau iklim atau suasana yang membantu dari hasil latihan itu jelas dengan sendirinya akan jadi. Seperti yang dialami Arswendo, tak pernah bermimpi jadi penulis atau pengarang. Ada juga orang yang tak pernah mengikuti kursus jurnalisitik tapi mampu berkarya atau menulis.

Hal ini yang penulis alami. Minat menulis tumbuh karena senang membaca tulisan atau opini orang di media massa. Kemudian saya merasa kalau orang lain bisa kenapa saya tidak mencobanya juga. Dipikiran saya ketika itu betapa senangnya kalau orang bisa membaca buah pikiran atau ide kita. Perasaan senang ini muncul pada saat ketemu teman lama mengatakan bahwa “kita jarang ketemu tetapi saya senang baca tulisan anda di koran”. Ini semacam penambah semangat untuk terus menggeluti dunia menulis. Apalagi kalau sudah terima honor tulisan dan membeli buku untuk menambah wawasan lagi.

Di zaman sekarang abad informasi sangat dibutuhkan keahlian mengemukakan ide dalam bentuk tulisan. Apalagi universitas salah satu lembaga atau tempat berkumpulnya para intelektual dan calon intelektual yang diharapkan dapat mengembangkan ilmu dan teknologi. Sehingga untuk mencapai hal itu menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan di eranya menganjurkan bahwa budaya tulis perlu dikembangkan untuk menyebarkan informasi informasi ilmiah. Jangan hanya mengandalkan budaya ngomong yang mudah sirna dan lenyap dari peredaran.

Anjuran Mendikbud ketika itu merupakan cambuk bagi manusia-manusia yang senantiasa bercokol di kampus (dosen dan mahasiswa) atau di sekolah. Apalagi sekarang di perguruan tinggi salah satu syarat kinerja dosen adalah menulis di berbagai jurnal ilmiah. Bahkan kalau mau mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai Guru Besar (Profesor) harus menulis di jurnal ilmiah internasional.

Olehnya itu perlu banyak rangsangan yang memberikan motivasi bagi mahasiswa atau siswa terlebih seorang dosen atau guru agar minat dan cintamengeluti dunia yang dianggap langkah ini. Harusnya dosen atau guru yang memberikan contoh serta motivasi utamanya dalam perkuliahan/kelas. Keseimbangan antara kemampuan oral (bicara) dan keahlian menuangkan ide dalam tulisan hendaknya ada dalam diri calon intelektual (kalau tidak dapat dikatakan seharusnya bisa). Agar formulasi percikan yang sistematis tidak mudah sirna dihembuskan angin-angin kelupaan.

Dunia tulis menulis dibutuhkan kesabaran dan ketekunan (utamanya bagi penulis pemula). Banyak membaca dan latihan itu lah yang selalu dan harus digelorakan sebagai motivasi agar minat itu tumbuh di kalanganorang-orang kampus. Sudah saatnya meninggalkan budaya kekuatan otot untuk memaksakan kehendak melalui demonstrasi tetapi harus ditumbuhkembangkan budaya otak dalam bentuk penyaluran ide atau inspirasi dan nalar melalui tulisan.

Memang dunia penulisan bagaikan mengasah sebilah pedang. Semakin diasah pedang yang akan digunakan untuk mengiris sesuatu tentuakan semakin tajam. Begitupun dunia penulisan semakin banyak membaca dan latihan akhirnya dapat menjadi penulis. Pedang yang jarang digunakan akan menjadi tumpul sebaliknya semakin diasah dan digunakan ia akan menjadi-jadi. Kalau hanya sekedar cita-cita dan ambisi yang meluap-luap tapi tak pernah berusaha merumuskan kalimat yang ada di otak dalam bentuk tulisan, apalagi selalu dihantui rasa pesimis, maka yakin saja harapan itu hanyalah sekedar impian yang tak pernah akan terwujud. Ide yang ada dalam otak hendaknya diasah melalui banyak latihan.

Seorang teman yang cukup cerdas mengeluarkan gagasannya melalui oral (mulut) tetapi setelah ingin menuangkan dalam tulisan akhirnya seribu satu macam ide itu tidak pernah bisa tertulis. Teman tersebut tidak pernah merasa kecewa dan terus mengasah otak dan skillsehingga mamputersalur idenya dalam tulisan. Tidak lama kemudian naskah yang dikirim kesalah satu media massa akhirnya memuat tulisannya. Betapa yakinnya bahwa ternyata iajuga mampu menulis. Tinggallah bagaimana minat yang telah ada dalam dirinya dia kembangkan dengan motivasi kepuasan kreatif berkarya terus tanpa akan mempertimbangkan lebih dahulu kepuasan materi atau honor tulisan.

Begitulah pengalaman penulis dan juga beberapa teman dalam menggeluti dunia tulis menulis. Potensi yang sebenarnya ada dalam setiap orang itu akan muncul kalau terus diasah bagaikan mengasah sebilah pedang agar lebih tajam. Jangan pernah merasa kesal dan kecewa kalau hanya baru sekali tulisan yang dibuat ditolak oleh media untuk dimuat. Terus menulis suatu saat pasti akan dimuat kalau dalam pikiran memang selalu ingin menjadi penulis.