Mengenal K.H. Muhammad Sanusi Maggu (Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan 1980-1984)

K.H. Muhammad Sanusi Maggu

KHITTAH.co – K. H. Muhammad Sanusi Maggu  lahir pada tahun 1913 di Desa Lise Kecamatan Panca Lautang Kabupaten Sidenreng Rappang dari pasangan suami isteri La Maggu dan I Canname.  Kedua orang tuanya memberinya nama Sanusi dan setelah belajar kepada Kiai Haji Ibrahim di Rappang, Sang Kiai melengkapi namanya menjadi Muhammad Sanusi Maggu. Dia adalah anak kedua dari empat orang bersaudara, yaitu: Patinang, Muhammad Sanusi Maggu, Kocci alias Maryam, dan Saenabe.

Sanusi kecil belajar mengaji Alquran, mulai dari allepu-lepu hingga maccara baca di rumah di rumah Haji Guru (Imam Desa Lise). Setelah tamat, dia pindah ke Rappang Kecamatan Panca Rijang mengaji pondok di bawah bimbingan K.H. Ibrahim (gurunna Andi) ayah dari K.H. Malik Ibrahim selama 12 tahun. Bacaan alquran Sanusi Maggu sering dipuji oleh gurunya karena kecepatannya memahami pelajaran yang diberikan kepadanya dan kebagusan bacaanya.

Setelah menyelesaikan proses pendidikan, Muhammad Sanusi Maggu kembali ke Lise. Di Lise, dia mulai tampil mendakwahkan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan di Rappang. Tetapi, tidak berapa lama di Lise, Muhammad Sanusi Maggu hijrah ke Parepare dan bergabung dalam organisasi Muhammadiyah Cabang Parepare.

Ketika Muhammad Sanusi Maggu menetap di Parepare inilah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) datang ke Makassar. Mendengar bahwa di Makassar ada seorang ulama dari Minangkabau, Muhammad Sanusi Maggu pun hijrah ke Makassar dengan maksud berguru kepada Hamka. Maksud dan keinginannya pun tercapai, setelah Muhammad Sanusi Maggu diterima belajar Madrasah Muallimin  yang waktu itu lebih dikenal dengan nama Tabligh School yang dipimpin Hamka.

Seperti disebutkan di depan bahwa Hamka datang ke Makassar atas penugasan dari Hooft Bestuur Muhammadiyah. Maka, sehubungan dengan berakhirnya tugasnya, HAMKA pun kembali ke Sumatra Barat pada tahun 1935. Ketika itulah Muhammad Sanusi Maggu ikut bersama HAMKA ke Padang Panjang untuk melanjutkan pelajarannya pada “kulliatul muballighin”.

Muhammad Sanusi Maggu kembali ke Sulawesi Selatan pada tahun 1938, setelah menyelesaikan pendidikan. Tidak lama kemudian, beliau berangkat ke Tanah Suci Mekkah dan tinggal mengaji Al-Islam selama  dua kali musim haji.  Setelah kembali dari tanah suci, barulah dia dinikahkan dengan Hj. Kaddase. Tetapi, karena tidak dikaruniai anak, maka dia menikah lagi dengan Hj. Bakkennung dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Dra. Hj. St. Ramlah Sanusi dan Ir. Fahmi Sanusi.

Setelah berkeluarga dan menetap di Parepare sebagai mubalig, masyarakat pun memberinya gelar ‘kiai’ atau dalam bahasa Bugis anre’gurutta. Sejak saat itu, gelar ‘kiai’ melekat di depan namanya.

Walaupun beliau menetap di Parepare, daerah operasional dakwahnya meliputi wilayah Aja Tappareng dan sekitarnya, yaitu Sidenreng, Rappang, Sawito, Mallusetasi, Parepare, Soppeng Riaja, Majene, dan Wajo.

Jabatan-jabatan dalam Muhammadiyah dan amal usha yang pernah diemban oleh Kiai Haji Muhammad Sanusi Maggu, ialah Kepala SMP Muhammadiyah Sengkang, Kepala SMA Muhammadiyah Parepare, Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Parepare, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan 1980—1984.

Adapun aktivitas dan jabatan yang pernah diembanya di luar Muhammadiyah antara lain, adalah sebagai pejuang perintis kemerdekaan bersama Andi Abdullah Bau Massepe, Andi Makkasau, dan La Nakka. Dia juga pernah menjadi anggota DPRD Parepare mewakili Muhammadiyah selama beberapa bulan karena dia mengundurkan diri sebelum masa tugasnya berakhir. Alasan pengunduran dirinya adalah karena dia merasakan bahwa dunia politik bukanlah dunianya. Dia juga pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Kota Parepare. (*)

 

*) Dikutip dari Buku “Menapak Jejak, Menata Langkah: Sejarah Gerakan dan Biografi Ketua-ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan”, diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah dan Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel.

Untuk pemesanan, hubungi 085 341 444 289 (Basri), atau dapatkan langsung di Koperasi Surya Sejahtera (Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10. No. 38 Makassar). Harga Rp. 50.000,-.