Mengenang Pak Razak MT

Abd Razak MT (alm) duduk dibagian tengah (berkacamata)

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Sebagai Ketua Majelis Pendidikan dan Kebudayaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotamadya Ujungpandang awal tahun 1990an, Bapak Abd Razak MT sering sekali datang ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Jl. G. Lompobatttang No. 201 Ujungpandang.

Saat itu saya telah bekerja sebagai staf kantor PWM Sulsel dengan tugas bagian umum. Semua yang umum-umum menjadi tupoksi saya. Termasuk menjadi cadangan bila ada staf yang tidak masuk kantor.

Urusan beliau ke kantor biasanya adalah rapat dan urusan sekolah. Jika rapat Majelis MPK, saya biasa menyiapkan konsumsi dan teh panas. Demikian juga kalau ada urusan sekolah, misalnya mengambil rapor atau ijazah siswa, jika staf yang bertugas tidak hadir, maka saya yang meladeni beliau. Jadi walaupun tidak terlalu akrab, tapi saya kenal beliau dan sebaliknya.

Adalah pada sekitar awal tahun 1996, saya menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin. Kami di komisariat banyak kegiatan, mulai dari pengkaderan, bakti sosial, sampai seminar nasional menghadirkan tokoh reformasi, Dr. H. M. Amien Rais, kampus Unhas.

Singkat cerita, karena banyak kegiatan, maka kami terpilih sebagai Komisariat Teladan IMM se KMUP. Dalam acara Milad IMM di Gedung Serbaguna Aisyiyah Sulsel, kami berhak mendapat piala dari Walikota KMUP. Sebagai penghormatan, piala diserahkan oleh Pak Abd Razak MT sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah KMUP, dan saya yang menerimanya. Senangnya hati ini.

Saat itu beliau sempat guyon kepada saya. Kamu Fitra! Iya ustadz, sahutku. Saya tahu beliau tidak sangka saya sebagai ketua IMM penerima gelar komisariat teladan. Sebab beliau hanya tahu sebagai staf kantor PWM. Lalu dia memberi salam dan ucapan selamat kepada saya.

Kemudian sebagai pengurus IRM Sulsel, saya juga beberapa kali menghadap beliau dalam rangka menyelesaikan kemelut dalam kepengurusan PD IRM KMUP. Dengan bijaksananya beliau memberikan solusi atas dualisme kepemimpinan waktu itu. Sebagai sekretaris panitia Muktamar, saya juga beberapa kali menghadap beliau menjelang Muktamar IRM di kampus Unismuh Makassar tahun 1998. Bahkan sehari sebelum pembukaan Muktamar, beliau datang ke lokasi memantau kegiatan panitia.

Kemudian sekitar tahun 2000, saya bertemu beliau di kantor PDM Kota Makassar. Saya semacam melaporkan kunjungan ke Ternate Maluku Utara seusai membawa bantuan kemanusiaan untuk korban konflik. Malahan beliau meminta saya mempresentasikan hasil kunjungan tersebut di hadapan PCM se KMUP di masjid Muhammadiyah sekitar Pettarani tembus ke jalan Racing Centre. Dan beberapa pertemuan lainya.

Setelah menyelesaikan amanah sebagai Ketua PDM Kota Makassar, beliau juga sempat menjadi Sekretaris Badan Pelaksana Harian Akademi-Akademi Kesehatan Muhammadiyah Jl. Dr. Ratulangi. Suatu ketika, beliau datang ke Kantor PWM Sulsel mendampingi Ketua BPH untuk rapat. Sebagai sekretaris eksekutif PWM Sulsel, saya persilahkan dia masuk ke ruang rapat. Ternyata dia tidak mau masuk. Alasannya yang diundang adalah Ketua BPH, dia hanya menemani datang. Nanti setelah diundang pimpinan rapat, barulah dia masuk.

Artinya apa, beliau adalah seorang pimpinan Muhammadiyah yang cukup paham aturan dalam Muhammadiyah. Oh ya beberapa kali juga beliau pernah menelepon saya, mengoreksi surat atau SK. Dia bilang konsideran dan rujukan yang disebut dalam SK, keliru katanya, beda pasalnya.

Malam ini saya mendapat kabar dalam grup media sosial bahwa telah dipanggil oleh Sang Pencipta. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang paling mulia di sisi-Nya, diampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya. Kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keikhlasan. Amiin

Wassalam
Samata Gowa, 07/9/2018

*) Penulis adalah dosen UIN Alauddin Makassar