Menjadi Manusia Digital Melalui Bulan Ramadan

Oleh: Agusliadi Massere*

KHITTAH.CO,– Kemajuan peradaban, khususnya peradaban digital sebagai konsekuensi logis perkembangan mutakhir teknologi berbasis digital. Kemajuan ini tentunya memengaruhi banyak hal pola interaksi manusia, apa yang harus dipikirkan, harus dilakukan dan sampai pada selera dalam hal konsumtif.

Kemajuan peradaban digital, bukan hanya menjanjikan kemudahan, berupa—minimal—efektivitas dan efesiensi kerja. Kemajuan ini tidak sedikit menggerus, mendistorsi atau mereduksi nilai-nilai kemanusiaan bahkan ketuhanan itu sendiri. Manusia terkapar berhadapan dengan karya buatannya sendiri: teknologi.

Apakah kita menyadari? Bahwa perkembangan teknologi tersebut karena ditunjang oleh proses digitalitasi. Digitalisasi bisa juga disebut binerisasi. Sejak SD telah kita menyadari bahwa bilangan biner adalah bilangan yang terdiri hanya angka “1” dan “0”. Dalam bahasa teknologi on dan off.

Manusia pun dalam dirinya telah built-in potensi dahsyat untuk melakukan proses digitalisasi ataupun dengan istilah binerisasi. Dan jika hal ini diaktivasi maka, akan menghasilkan kekuatan “tak terhingga”, “tak terbatas” yang disimbolkan dengan “∞”. Mungkin akan ada respon bahwa ini terlalu idealis bahkan akan berujung pada utopis. Oke, itu menurut orang lain, tetapi bagi saya dan pembaca yang sependapat, ini menjadi harapan besar yang idealnya kita perjuangkan bersama.

Bagaimana cara mendigitalisasi/binerisasi manusia, apakah dipasangkan sejenis chip? Jawabannya, tidak. Yang saya maksudkan adalah mengokohkan “tauhid” yang menghasilkan garis derivatif menjadi angka/disimbolkan “1” dan menyucikan hati, yang juga menghasilkan garis derivatif menjadi angka/disimbolkan “0”. 1 (satu) dibagi 0 (nol) hasilnya sama dengan ∞ (tak terbatas).

Mengokohkan tauhid, “chip”-nya sudah built-in dalam diri. Melalui ruh, telah ada komitmet ketuhanan, keimanan dan monoloyalitas kepada Allah. Dan dalam perjalanan manusia di muka bumi ini, Allah telah menurunkan pedoman untuk mengokoh secara terus menerus nilai-nilai tauhid tersebut.

Untuk mengokohkan melalui rukun Iman yang pertama, “iman kepada Allah”—dan Ary Ginanjar menyebutnya prinsip bintang. Selain itu melalui kalimat tauhid dalam rukun Islam pertama, Ary Ginanjar menegaskan “Laa (0)” dan “ilaha illallah (1)”. Kalimat tauhid dipandang sebagai “deklarasi kemerdekaan” paling dahsyat yang pernah ada di dunia.

Selain itu “tauhid” atau pun “kalimat tauhid” merupakan prinsip yang kokoh atau sejenis mission statement yang menjadi pedoman dan energi kerja para korporasi kelas dunia untuk eksis memenangkan setiap gempuran yang datang. Contoh sederhana dan lebih dekat dari kita, mission statement semen Bosowa, “Berdiri, Tegak dan Keras”, (Mohon maaf saya sendang tidak menerima pesanan iklan dari Bosowa). Indonesia pernah memiliki mission statement, “Macan Asia”. Ini menjadi penting.

Rukun Iman pertama, “Iman kepada Allah”, bukan hanya dan tidak cukup dengan, statement, “ya, saya percaya Allah itu ada”. Yang terpenting, nilai-nilai yang terkandung dalam rukun iman pertama ini, menjadi prinsip yang kokoh dalam hidup. “Segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada Allah”, “Tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak”,”Tidak akan jatuh sehelai rambut pun, tanpa izin Allah” dan “Hanya kepada Allah kami menyembah dan memohon pertolongan”.

Prinsip-prinsip di atas sejatinya meresap dalam jiwa dan selanjutnya mengalami proses eksternalisasi interior (pengaplikasian) dalam realitas kehidupan. Ini prinsip yang luar biasa, yang dalam perjalanan perjuangan hidup, saya konversi dan istilahkan sendiri dengan benteng “psiko-religious-spiritualistik” yang saya yakini lebih kokoh daripada tembok cina.

Jika prinsip-prinsip tersebut dipandang pula sebgai mission statement, maka bisa diyakini efeknya lebih dahsyat daripada yang dimiliki oleh para korporasi bisnis kelas dunia sekalipun. Dan ini adalah energi dahsyat untuk eksis dan memberikan manfaat dalam kehidupan.

Selain mengokohkan tauhid, keimanan dalam diri yang disimbolkan sebagai angka “1”. Selanjutnya menyucikan hati, yang disimbolkan dengan angka “0”. Jika hati baik, maka baiklah seluruhnya.

Hati dalam pandangan saya, hanya memiliki dua fungsi “mengajak kepada kebaikan” dan “mencegah dari keburukan”. Berarti intinya adalah kebaikan. Hanya saja fungsi hati ini, sering kali tidak terdengan lagi, sehingga harus disucikan, dibersihkan dari yang senantiasa membelenggu. Dalam karya Ary Ginanja disebutnya zero mind process.

Belenggu Hati Pertama, Prasangka Negatif

Dalam hati seringkali, kita mengedepakan prasangka negatif, baik kepada diri sendiri, orang lain, dan termasuk kepada Allah. Padahal Allah sudah menegaskan “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku”. Kegagalan, lebih sering disebabkan karena sejak awal kita berprasangka negatif pada diri sendiri, “tidak memercayai kemampuan diri”. Dan pada saat gagal, berprasangka buruk kepada orang lain dan termasuk kepada Allah “Allah tidak adil”.

Untuk mengubah dunia, harus terlebih dahulu mengubah diri, mengubah diri diawali dengan mengubah persepsi. Prasangka Negatif membuat kita mati sebelum mengalami kematian yang sebenarnya.

Dalam perjuangan saya seringkali mengatakan kepada teman. Khawatir sama saja berprasangka negatif kepada diri sendiri dan kepada Allah. Apalagi jika ditambahkan prasangka buruk ke orang lain, bahwa orang lain “sedang menyusun strategi ‘jahat’”. Itu sangat buruk bagi diri sendiri dalam perjuangan. Dan saya sering pula mengatakan bagi yang melakukan hal seperti ini, “percuma kita shalat, jika memiliki prasangka seperti itu, karena ini seakan-akan kita lupa kekuasaan Allah”. Jadi agar hati bersih dari prasangka negatif maka ini harus dikonversi menjadi prasangka positf.

Belenggu Hati Kedua, Prinsip Hidup Negatif.

Prinsip menjadi pedoman dan energi menjalani hidup. Sering kali kita mengambil dan memiliki prinsip yang sesungguhnya tidak kokoh sebagai pedoman dan energi. Beberapa prinsip yang justru merusak “waktu adalah uang”. Ini bisa merusak karena segalanya akan diukur dengan uang.

Jika para da’i sudah menjadikan ini sebagai barometer, maka tentunya apa yang disampaikan lewat dakwahnya ada hal yang mengurangi nilai keutamaan. Jangan engkau menjual ayat-ayat Allah dengan murah. Buya Syakur, menyebut jika pada saat berdakwah lalu menentukan tarif, maka meskipun yang disampaikan itu adalah ilmu agama, maka akan menjadi hanya sebagai ilmu dunia. Dan sebaliknya berlaku hal yang sama.

Banyak prinsip lainnya yang merusak “tiba masa, tiba akal”,”rela mati demi cinta” (jika cinta yang dimaksud dalam konteks pacaran), Ada juga yang merusak tetapi terkadang kurang disadari “di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat” ini terbalik, dan saya telah telusuri ini produk filsuf materialisme dari Sparta.

Islam mengajarkan prinsip yang kokoh, yaitu enam rukun Iman. Untuk lebih jelasnya silahkan dibaca buku Ary Ginanjar. Namun yang pasti intinya, berdasarkan rukun Iman pertama sampai keenam, mengajarkan: “prinsip bintang”,”prinsip malaikat”,”prinsip kepemimpinan”,”prinsip pembelajaran”,”prinsip masa depan”, dan “prinsip keteraturan”.

Belenggu Hati Ketiga, Kepentingan Pribadi di atas Kepentingan Umum.

Belenggu ketiga ini sangat merusak baik kehidupan sosial terutama kehidupan berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya salah satu yang menutupi hati para koruptor sehingga korupsi adalah lebih dominan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum atau rakyat. Intoleransi, radikalisme dan terorisme, mengalami hal yang sama. Ini perlu dikonversi

Belenggu Hati Keempat, Pengalaman Negatif.

Bagi saya tidak semua pengalaman adalah guru besar, justru bisa jadi ada sebaliknya, menjadi racun kehidupan. Ada banyak orang gagal selama-lamanya, tidak pernah mencoba lagi karena selalu fokus pada pengalaman masa lalu.

Andaikan Thomas Alva Edison, terjebak pada “pengalaman negatif” maka dunia ini gelap. Edison sebelum mampu menemukan bola lampu pijar, dirinya mengalami ratusan bahkan ribuan kali gagal. Tetapi dirinya tidak mau trauma dengan kegagalan, justru kegagalan dipandang sebagai, petunjuk untuk lebih dekat dari keberhasilan. Dan saya yakin, pembaca bisa menemukan dalam dirinya sendiri, gara-gara selalu ingat pengalaman masa lalu, akhirnya sulit melangkah dan menatap masa depan gemilang.  

 Belenggu Hati Kelima, Sudut Pandang Sempit, Sepihak dan Tidak Jernih.

Sudut pandang atau cara pandang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Coba bayangkan, jika kita sudah memiliki sudut pandang, baik hal baik itu adalah jika ada “uang”-nya karena sudah terjebak pada prinsip “waktu adalah uang”. Maka akan kesulitan memberikan manfaat dalam hidupnya.

Sama halnya, jika tulisan-tulisan saya ini harus dibayar setiap kali, terbit di media online, maka saya bisa pastikan, saya sebagai penulis pemula mengalami kesulitan untuk bisa setiap hari mengirimkannya. Pertama tidak semua media memberikan bayaran, kedua media media yang berbayar, sangat selektif dan “antrian” tulisan sangat banyak.

Begitu pun jika saya diajak berbagi ilmu, ada yang memberikan ucapan terima kasih berupa amplop dan isinya, tetapi lebih banyak, tidak dibayar. Karena niat utama saya, bukan untuk dibayar, tetapi berbagi ilmu yang bisa bermanfaat dan menginspirasi generasi muda.

Belenggu Hati Keenam, Pembanding yang salah.

Pembanding yang salah seringkali juga merusak. Saya menyimpulkan bahwa dalam hidup ini, kita seringkali hanya membandingkan antara “yang ada” dengan “yang ada”. Jarang membandingkan antara “yang ada” dengan “yang belum/tidak ada”. Salah dalam memiliki pembanding bisa bermuara pada bentuk sikap dan/atau perilaku “sombong”, dan “kurang percaya diri”. Atau “bersyukur”, dan “tidak bersyukur”.

Ada pesan, untuk urusan dunia melihat ke bawah agar kita bersyukur, dan untuk urusan akhirat melihat ke atas, agar semakin berupaya meningkatkan ketakwaan.

Ada orang sombong atau kurang percaya diri, karena hanya membandingkan dirinya dengan yang ada disekitarnya. Tidak pernah mencoba berpikir mungkin di daerah ini saya paling kaya, tetapi di daerah lain, sebaliknya saya paling miskin (agar tidak sombong). Mungkin di daerah ini saya paling miskin tetapi mungkin ada kampung, saya yang akan paling kaya (agar bersyukur).

Belenggu Hati Ketujuh, Literatur yang salah.

Literatur, secara sederhana saya memaknai sebagai referensi, atau apa yang pernah dilihat, dibaca, dialami diri sendiri dan orang lain akan menjadi literatur. Mungkin ada orang menilai pakai terbaik agar dirinya semakin cantik adalah pakaian—yang dalam pandangan Islam—“seksi atau you can see”. Karena literaturnya selama ini adalah aktris “A”.

Bagi anak-anak kita di rumah, tidak jarang ada berkata sejenis ini, “Ma, Pak, belikan saya baju Upin-Ipin”, atau “baju Shiva” atau “baju Princess”, karena selama ini itu menjadi tontonan utamanya.

Rasulullah pernah berwasiat, “Aku tinggalkan kepada umatku dua perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya maka niscaya kamu tidak akan tersesat”. Dua perkara itu adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Dan ini adalah literatur terbaik.

Tujuh belenggu hati di atas sangat merusak, sehingga suara kebenaran hati sulit terdengar sehingga harus dibersih dengan cara mengkonversi menjadi yang sebaliknya dari yang negatif menjadi positif. Ramadan—sebagaimana tulisan-tulisan saya sebelumnya, tentang “mengasah iman”, dan “konversi perasaan dan pikiran”—adalah bulan untuk mengokohkan tauhid dan menyucikan hati.

Sehingga dengan memaksimalkan bulan Ramadan, kita akan menjadi manusia digital dengan kekuatan dahsyat, tak terhingga akan dimiliki. Ini harus menjadi impian kita bersama sebagai umat Islam. Dan tentunya bukan hanya dalam bulan Ramadan, tetapi termasuk dalam sebelas bulan lainnya.

*Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Komisioner KPU Kabupaten Banteang Periode 2018-2023