Menjaga Puasa Menjaga Kemanusiaan

Oleh: Agusliadi Massere*

KHITTAH.CO, Manusia berbeda dengan makhluk lain, membangun koneksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Ahmad Faizin Karimi bahkan menegaskan bahwa koneksi ini membentuk “jejaring sosial kehidupan”. Dan bahkan secara virtual—menurut Ahmad Faizin—membentuk jejaring maha besar. Oleh Christakis & Flower menyebutnya dengan istilah “hyper-connected” (Ahmad Faizin, 2020).

Jejaring sosial kehidupan, baik di dunia nyata maupun dunia virtual ini adalah konsekuensi logis dari manusia sebagai makhluk yang paling terkoneksi antara satu dengan yang lainnya. Dalam jejaring sosial kehidupannya, di dalamnya terdapat harapan, tantangan, dialektika, dialog, melibatkan perasaan dan pikiran. Dan tidak sedikit terjadi hal paradoks, kontradiktif, distorsi, reduksi, relasi oposisi biner, kompetisi, relasi superioritas-inferioritas. Yang pasti penuh kompleksitas.

Pada dasarnya kehidupan ini diciptakan dengan penuh keseimbangan. Manusia pun diutus ke muka bumi dengan mandat kosmis  yang dibawanya untuk menciptakan harmonisasi di antara mereka dan menjaga keseimbangan bumi atau alam ini.

Tujuan penciptaan tersebut bisa tercapai dan menjawab kekhawatiran malaikat pada saat akan diciptakannya Adam, “manusia hanya menimbulkan pertumpahan darah di muka bumi”, maka satu kata yang harus dijaga, dirawat, dikembangkan, dan diaplikasikan adalah “kemanusiaan”.

Kemanusiaan merupakan sikap universal yang seharus melekat dalam diri setiap umat manusia di dunia yang berfungsi memperlakukan manusia sesuai dengan hakikatnya. Manusia bisa dipandang dalam dua hal, secara esensial dan eksistensial. Ketika esensi dan eksistensi manusia menempati ruang dan waktu untuk mengalami proses filosofis (ontologis, epistemologis dan aksiologis), maka di sinilah yang saya pandang mengalami atau menjadi apa yang disebut dengan “kemanusiaan”.

Manusia harus paham esensi, eksistensi, perangkat epistemologis, pedoman dan nilai yang bisa memantik kesadaran dirinya agar secara aksiologis bisa memberikan manfaat dalam kehidupan. Apalagi agama (Islam) telah menegaskan, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Ini juga merupakan bagian dari mandat kosmis.

Secara esensial manusia itu terdiri atas “akal” dan “rasa”. Dari akal lahir ilmu pengetahuan dan filsafat. Ilmu pengetahuan melahirkan sebuah kebenaran relatif dan filsafat melahirkan kebenaran spekulatif. Dari rasa melahirkan seni dan tasawuf. Seni melahirkan kebenaran subjektif sedangkan tasawuf melahirkan kebenaran super subjektif.

Esensi manusia ini ketika mengalami proses “kemanusiaan”- menempati ruang-waktu (jasad) maka akan bisa dipahami bahwa eksistensi manusia terdiri atas “akal”, “rasa” dan “jasad”. Ketiganya ini memiliki keterpaduan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Tiga bagian eksistensi manusia ini, idealnya membangun sebuah relasi triadik agar bisa menjaga, melindungi dan memperlakukan manusia dengan baik. Relasi triadik ini akan bisa memberikan dampak positifnya atau kita akan merasakan manfaatnya jika ditunjang oleh tiga pilar penting dalam filsafat.

Berdasarkan eksistensi manusia di atas, maka dengan akal akan bermuara pada pemahaman benar-salah. Dengan rasa manusia akan bermuara pada pemahaman baik-buruk. Dan jasad akan bermuara pada penilaian indah-jelek.

Jejaring sosial kehidupan yang penuh kompleksitas sebagaimana telah dijelaskan di atas, membuat manusia seringkali salah jalan, salah arah, keluar dari platinum track-nya (sebagaimana telah pernah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya). Bersikap dan bertindak tidak sesuai dengan fitrah dirinya dan ridho Allah.

Akal, rasa dan jasad yang dimiliki manusia tidak serta merta membawa dirinya sesuai misi penciptaannya. Harus ditunjang dengan pilar-pilar yang saya sebut dengan pilar filsafat. Logika bagian dari filsafat yang akan membantu akal untuk membedakan benar-salah dan melahirkan sikap dan tindakan memilih yang benar atau kebenaran.

Dengan etika sebagian dari filsafat membantu rasa yang dimiliki manusia untuk membedakan baik-buruknya sesuatu. Dan harapan berikutnya bisa menentukan dan menggerakkan sikap dan tindakan untuk memilih dan berkomitmen pada pilihan yang “baik” atau “kebaikan”

Estetika sebagai bagian atau salah satu pilar filsafat akan membantu jasad agar bisa memahami dan membedakan yang mana indah dan/atau jelek. Sama dengan dua hal lainnya di atas, ini juga bermuara pada harapan, lahirnya sebuah pilihan untuk senantiasa berkomitmen menampilkan hal-hal yang indah.

Pemahaman benar-salah, baik-buruk, indah-jelek dengan menggunakan perangkat logika, etika dan estetika seringkali ditemukan banyak perbedaan. Selain itu seringkali ada sikap kurang peduli untuk memperhatikan hal tersebut. Setelah memahami, tidak memiliki komitmen atau konsistensi untuk mengaplikasi dalam kehidupannya.

Dari kesadaran tersebut, maka saya dan kita semua penting menghadirkan nilai-nilai dan ajaran agama. Karena disadari, secara fenomenologi dan berdasarkan realitas empirik seringkali agama mampu menjadi pemantik yang sangat kokoh untuk menggerakkan para pemeluknya. Dan tidak sedikit, bahkan memberikan doktriner dan membangun dogmatisme dalam diri pemeluknya. Meskipun sikap dan tindakan dogmatik, bukan harapan saya dan harapan kita memahami kompleksitas yang ada seiring dengan proses kemanusiaan manusia.

Islam (secara khusus) memiliki tiga pilar yaitu “ilmu”, “iman”, dan “amal”. Ketiganya ini, idealnya pula membangun sebuah relasi triadik yang kokoh. Tiga pilar Islam, pilar filsafat dan tiga dimensi eksistensi manusia ternyata memiliki garis relasi yang relevan dan urgensi. Ilmu-logika-akal; Iman-etika-rasa; Dan amal-estetika-jasad.

Akal dalam membedakan benar-salah dan selanjutnya memilih yang benar sangat dipengerahui oleh logika, tetapi logika yang baik akan dipengerahui oleh ilmu yang dimiliki. Rasa akan mampu membedakan baik-buruk dan menetapkan pilihan pada yang baik, dipengaruhi oleh etika, dan kita umat Islam menyakini bahwa itu juga dipengaruhi oleh “iman”. Amal terpancar dari hasil pemahaman estetika. Tetapi dalam pandangan Islam, amal sangat dipengaruhi atas akumulasi ilmu dan iman.

Agama (Islam) memberikan tuntunan, pedoman dan energi kepada pemeluknya agar tetap pada pilihan benar, baik dan indah. Islam menekankan satu nilai “tauhid” dengan berbagai dimensinya yang melahirkan—di antaranya—kesadaran “unity of creation” dan “unity of guidance” dan “unity of purpose of life”. Masih ada dua dimensi lainnya. Dari hal ini pula agama Islam tidak memisahkan tiga pilarnya tersebut, bahkan membentuk pula relasi triadik yang kokoh.

Ilmu tanpa iman akan lumpuh; Iman tanpa ilmu akan buta;  Ilmu dan iman tanpa amal, bagaikan pohon tanpa buah. Jadi Islam memandang ini satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan ini menjiwai dimensi-dimensi dalam tauhid tersebut.

Jadi menjaga kemanusiaan, agar senantiasa terjaga hakikatnya, berjalan sesuai fitrah dan ridho Allah maka kesadaran akan perpaduan Ilmu-iman-amal, logika-etika-estetika, dan akal-rasa-jasad harus dijaga, dirawat dan selanjutnya saya menilai membangun relasi triadik yang lebih besar yang di dalamnya terdapat tiga jenis relasi triadik yang lebih kecil.

Apa relevansi dan urgensi puasa di sini? Puasa sebagaimana QS. Al-Baqarah [2]: 183, pada intinya di dalamnya mengandung iman, ilmu dan amal. Saya menyimpulkan demikian, karena syarat utama berpuasa adalah iman (yang dipanggil adalah orang beriman), agar pelaksanaan puasa sesuai tuntunan, bisa menghindari hal-hal yang membatalkan kuncinya adalah ilmu. Dan muara, target capaian dari puasa adalah “takwa” dan ini adalah bagian daripada amal.

Puasa melibatkan secara keseluruhan akal, rasa dan jasad yang menjadi bagian eksistensi manusia. Selain itu puasa bisa dipahami dan dinilai dari dimensi logika, etika dan estetika dan sebaliknya puasa mampu membantu logika, etika dan estetika untuk berada dalam koridor benar, baik dan indah.

Lebih dalam daripada itu, ketika kita memperhatikan ayat-ayat puasa dan bulan Ramadhan dari QS. Al-Baqarah [2]: 183, 185, 186, 187, dan 189, jika mencermati maknanya (bukan tafsirnya karena saya bukan mufassir) di dalamnya mengandung dimensi iman ilmu, dan amal. Selain daripada itu menyentuh dimensi logika, etika dan estetika. Dan bersentuhan dengan akal, rasa dan jasad manusia.

Pada kesimpulannya, saya mendapat inspirasi bahwa menjaga puasa (meskipun ini hanya salah satunya) adalah sama saja menjaga kemanusiaan. Apalagi jika dijabarkan lebih luas nilai-nilai puasa, seperti keikhlasan, kesabaran, pengendalian diri, kepedulian, kepekaan perasaan pada dasarnya merupakan sikap penting yang sangat dibutuhkan dalam membangun dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

*Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023