Menyelam Dalam Samudera Informasi

samudera-informasi

Oleh : Syahrul

Saya manusia yang lahir dipenghujung 1989. Bisa dikata, zaman sudah jauh berubah. Sebuah zaman yang bukan lagi hitam putih. Zaman dimana Ideologi bukan lagi barang mewah. Tafsir agama yang terus berubah mengikuti perkembangan hidup manusia. Pemikiran yang tidak lagi tradisionalistik, dimana tradisi atau kebiasaan kebiasaan lama dijaga dari macam macam ‘kebenaran’ baru yang hendak mengepung. Kepercayaan dan tradisi dogmatis yang membuat nalar dan hati tertutup dari kabut pencerahan. Semacam ajaran yang purba dan rapuh membaca konteks kekinian.

Juga boleh dikata, hidup sekarang kadang juga tak punya konfigurasi yang jelas. Segala hal seperti teraduk dalam secangkir realitas yang real dan nonreal. Semuanya berlansung dimana saja. Di cafe atau di jalanan, di masjid atau di tempat mesum, di universitas ataupun di rumah hiburan, di TV, handphone, pada layar komputer dan dimedia cetak online.

Kita, dengan demikian, bukan lagi sebuah generasi yang hidup pada satu realitas. Kita juga boleh mengatakannya bukan lagi realitas. Tapi hanyalah semacam ‘acara pagelaran realitas’ yang panggungnya berlansung dalam ‘Media Sosial’. Semacam realitas yang lebih real. Apa yang kita tangkap hanyalah ‘berita-berita’ pada media cetak dan elektronik. Berita itu berpindah kemana-mana. Dan akhirnya sampai kepada kita sebagai sebuah keyakinan dan kebenaran.

Dalam kata kata Baudrillard, yang tersisa sekarang (dari manusia) hanyalah gerombolan massa, mayoritas bungkam / silent majority, sebuah lubang hitam yang menyerap overproduksi energi dan informasi dari media, dan yang secara antusias melahap permainan memikat tanda tanda yang tanpa akhir. Oleh sebab itu, segala hal yang diproduksi oleh media, baik itu acara debat ‘politik’ yang melibatkan bermacam macam tokoh/pakar dari pemerintah, politik, agama (ulama), mistikus, pemuda, dll, harus dilihat sebagai sesuatu yang tak utuh, realitas yang terputus putus, saling tindih, dan sulit untuk disimpulkan. Kebenaran dengan demikian sudah sangat rentang dan rapuh.

Disanalah sihir media massa. Seperti hantu tua yang mengoyak segala tatanan, sekaligus menyusun kembali makna makna baru demi kepentingan manusia. Media massa (dalam mesin teknologi) yang dalam disiplin komunikasi adalah alat untuk menyampaikan pesan atau informasi, kini dalam konteks masyarakat modern berevolusi menjadi dunia baru tempat berlansungnya segala bentuk komunikasi. Dari sinilah ‘masyarakat massa’ lahir, yang dalam istilah Baudrillard, segerombolan orang dalam jumlah sangat besar yang menyerupai lubang hitam, yang siap menyerap segala tanda yang disebarkan oleh media massa.

Salah satu tesis yang menarik dari perkembangan teknologi saat ini (misalnya internet) yakni dunia semakin mengecil akibat kemajuan teknologi dan informasi ; terciptanya semacam ‘global village‘ atau kampung global. Tesis tersebut dilontarkan McLuhan dalam bukunya Understanding Media (1964). Dalam pikiran McLuhan yang juga dikutip oleh Khitman Budiman, teknologi media telah berhasil merubah wajah masyarakat dunia menjadi sebuah satuan komunitas global tanpa dinding-dinding pembatas yang lama seperti ideologi politik, agama, dan nasionalitas. Oleh sebabnya untuk konteks seperti indonesia, tidak jaman berdiri kukuh dalam satu warna pemikiran, misalnya. Sebab kita akan kesulitan dalam menahan laju pengetahuan yang seperti badai mengepung keseharian kita.

Lebih lanjut dari uraian McLuhan adalah bagaimana dia memperlihatkan bahwa efek dari teknologi informasi (media elektronik) membuat manusia kembali ke zaman purba ribuan tahun yang lalu, yang sebelumnya telah dihancurkan oleh media cetak. Media elektronik seperti TV misalnya telah menggantikan sikap kritis pembaca buku atau surat kabar dengan sikap emosional seorang penggemar sinetron yang ditampilkan di depan matanya.

Tetapi apa yang paling mengkhawatirkan sebagai masyarakat global sekarang justru perihal bagaimana media massa mutakhir menghadirkan ruang bagi masyarakat dunia terhadap budaya massa. Menurut Budiman, melalui media massa, budaya populer Amerika memperlihatkan daya tariknya yang jauh lebih besar daripada gagasan-gagasan intelektual Barat secara keseluruhan. Berbagai macam film, acara televisi, musik, ataupun majalah Amerika telah menggeser budaya lokal diberbagai penjuru negeri, termasuk di Indonesia. Oleh sebabnya, sebuah imperialisme budaya sedang berlansung pada sebuah media massa. Makanya, dibeberapa tempat, sering kita menemukan jargon seperti ”Matikan TV mu” sebagai salah satu bentuk perlawanan tehadap Media.

Selain budaya, daya magis media massa dan informasi juga akan mempercepat lenyapnya batas-batas sosial. Hal ini seperti diwartakan Yasraf Amir Piliang bahwa media dan informasi bergerak dalam dua arah : ke luar ia memproduksi semakin banyak relasi sosial, ke dalam ia justru menetralisasi relasi sosial dan sosial itu sendiri. Ideologi akan meluruh. Yang tersisa adalah kontestasi antara individu-individu yang saling berlomba dalam arena duel, kontes w, rayuan, dan godaan masyarakat konsumer.

Bukankah dengan demikian, masyarakat seperti telah mengalami ekstasi? Digairahkan dengan ritual memandang, menonton, dan mendengar dalam samudera informasi. Dalam keberlimpahan citraan-citraan. Sebuah ritual hampa yang kosong sedang digandrungi tanpa sadar. Dan orang – orang pada akhirnya seperti aforisma David Michel Levin, “Kita bagaikan kapal kosong…tak memiliki arah tujuan. Kita berjalan dan meraba-raba bagaikan orang buta.”
Nuun.