Menyoal Valentine’s Day

Oleh: Koko Anugrah Yusuf
(Ketua Bidang Kader DPD IMM Sulsel 2016-2018) 
KHITTAH.CO — Akar historis Valentine’s Day berawal dari beragam versi. Namun yang paling banyak diketahui orang adalah ketika seorang pendeta bernama St. Valentine di hukum mati oleh Kaisar Claudius II akibat terlibat cinta terlarang, ada juga yang menyebutkan karena St. Valentine  menikahkan pasangan muda secara diam-diam padahal pernikah pada saat itu dilarang oleh Kaisar Claudius II. Akhirnya pada tanggal 14 februari St. Valentine dihukum mati. Sampai sekrang kisahnya yang melegenda diperingati oleh pasangan muda mudi sebagai Valentine’s day atau hari kasih sayang.
Sangat kontradiktif jika kisah tersebut dijadikan sebagai hari spesial dimana pasangan muda – mudi bertukar hadiah atau biasa juga menjadikan bunga dan coklat sebagai ungkapan kasih sayang kepada pasangan mereka. Kepolosan remaja ditambah dengan rasa ingin mencoba-coba yang tinggi, menjadikannya rapuh dan rentan terjerumus ke hal negatif dari dampak Valentine’s Day. Banyaknya kasus setiap tahunnya, dimana para remaja terlibat hubungan terlarang bersama  pasangan (pacar) mereka, sudah cukup dan jangan sampai terjadi terus menerus.
Merayakan Valentine’s Day itu bukan sama sekali budaya kita untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Apalagi diungkapkan dengan cara – cara yang mendekati perzinahan jikalau  dilakukan oleh pasangan yang belum terikat dalam tali pernikahan. Ditambah lagi peran lingkungan sosial dan media yang seolah menjadikan perayaan tersebut seolah menjadi hidup dan banyak golongan dan kalangan tertentu yang seolah mensupportnya demi keuntungan materi.
Dalam hal ini Guru adalah elemen penting sebagai pendidik, mesti membantu siswa-siswinya agar tidak menambah deretan dampak pergaulan bebas yang setiap tahun banyak terjadi khususnya menjelang 14 februari. Jangan diam saja, apalagi seolah membiarkan siswa – siswi kita berpacaran secara terang – terangan. Nilai – nilai akhlak dan etika tentu sangat kita junjung tinggi sebagai seorang guru.
Orang tua juga mesti peka dari setiap perubahan sikap anak-anak kita. Orang tua dalam proses membimbing dan mendidik anaknya semestinya mengetahui lingkungan tempat bergaul dan sama siapa saja anaknya berteman. Karena itu sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anak yang akan membentuk karakternya.
Dan yang paling penting adalah kesadaran bagi para remaja, agar menjaga diri dengan baik dan tidak mudah terpengaruh. Mencari teman yang mendorong kita berbuat baik, adalah satu cara agar kita bisa menjaga diri. Karena keberadaanmu didunia ini, adalah bukti betapa berharga dan mulianya dirimu dihadapan Allah swt. Maka jagalah kemuliaan dirimu, dengan begitu Allah swt akan semakin memuliakan dan mengangkat derajatmu.