Merayakan Kegembiraan di Tahun Kesedihan

Oleh: Hadi Pajarianto

(Pemerhati Sosial keagamaan)

Pada aspek sosio-psikologis, tidak ada puncak kegembiraan di penghunjung Ramadhan jelang idul fitri selain mudik ke kampung halaman. Mudik telah menjadi ritual tahunan bagi umat Islam di belahan nusantara sejak lama. Meskipun dengan susah payah, biaya yang tidak sedikit, dan terkadang memiliki risiko yang besar, mudik selalu menjadi magnet para perantau untuk menumpahkan kerinduannya pada kampung halamannya.  Inilah tradisi khas Indonesia yang yang konon sudah dimulai sejak zaman kerajaan di nusantara. Dalam sebuah catatan, ketika satu kerajaan menaklukkan suatu wilayah, akan banyak warganya yang merantau mencari peruntungan di daerah yang baru dikuasai. Secara besar-besaran mereka bermigrasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Pada saat ada acara hari besar keagamaan, masyarakat yang bermigrasi tersebut memilih kembali ke kampung halaman untuk membersihkan makam leluhur dan berkumpul dengan para sanak keluarga yang telah lama ditinggalkan.

Tahun ini, hari raya kita seakan dikudeta oleh wabah Covid-19 yang meluluhlantakkan harapan untuk mudik. Kegembiraan pada tahun-tahun sebelumnya, nampaknya hanya dapat  dikenang oleh sebagian umat Islam di Indonesia. Jangankan mudik ke kampung halaman, ada sebagian wilayah yang dipastikan tidak akan merayakan lebaran di tanah lapang atau masjid. Berkurang, bahkan mungkin hilang suasana khas yang biasa mewarnai lebaran dengan segala perniknya, seperti memakai pakaian baru, wewangian, ditemani anak, isteri, keluarga dan handai taulan. Dapat dibayangkan akan berkecamuknya perasaan ketika mengumandangkan Takbir, Tahlil, dan Tahmid dari rumah masing-masing, dalam kamar kos yang sempit, bilik, atau ruang isolasi. Perayaannya-pun hanya bersama keluarga kecil, bahkan mungkin seorang diri bagi yang belum memiliki pasangan. Menggelangganglah airmata kesedihan mengenang orang tua dan sanak keluarga nan jauh di kampung halaman. 

Sebagai umat beragama, sebenarnya ada cara lain untuk mudik yakni memperjalankan rohani kita dengan menyelami makna puasa. Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi mengibaratkan puasa sebagai hidangan langit: “Tahanlah bibirmu dari makan dan minum. Bergegaslah menyambut hidangan langit”……Ketika kau kosongkan perutmu dari makanan, Maka  ia akan dipenuhi oleh perhiasan berharga”. Saya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mensyarah perkataan Rumi tersebut, tetapi jika dikaitkan dengan ayat dan hadis akan tersingkap keutamaan spiritual bagi manusia yang telah menjalani puasa dan merayakan Idul Fitri. Perhiasan berharga dapat ditafsirkan sebagai rezki dan semua janji Allah swt kepada orang yang bertaqwa, sebagai out-put orang yang berpuasa. Orang yang bertaqwa diberikan jalan dari kesulitan hidup, diberikan rezki dari arah yang tak terduga, dan dicukupkan segala keperluannya (QS. Ath-Thalaq: 2-3), negerinya akan diberkahi dari langit dan bumi (QS. Al-A’raf: 96), dan ditempatkan di surga (QS. Ali-Imran: 33).

Mudik juga dapat dipandang dari perjalanan jiwa manusia yang senantiasa rindu dengan kampung halamannya yang sejati di akhirat. Rumi menggambarkan kerinduan spiritual tersebut Ibarat seruling bambu yang menyanyikan melodi kesedihan, karena ia rindu dan ingin kembali ke rimbunnya pohon bambu sebagai sumber asalnya. Kata Rumi “dengarkan nyanyian sangsai seruling bambu mendesah selalu, sejak direnggut dari rumpun rimbunnya dulu, alunan lagu sedih dan cinta membara”. Rumi menggunakan seruling bambu sebagai simbol dari lenyapnya keinginan sendiri dalam diri, tergantikan cahaya Ilahi. Dalam konteks ini, segala resah, pergumulan hidup, kesedihan, gembira dan airmata anak manusia adalah perjalanan ruhani yang rindu pada Tuhan-Nya. Maka tradisi yang paling menggembirakan dalam pergumulan para perantau adalah pulang kampung atau mudik. Maka orang yang telah pulang ke Rahmatullah selalu diantar dengan kalimat Istirja innā li-llāhi wa-ʾinna ʾilayhi rājiʿūn (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali).

Pada kalimat Istirja’, Allah swt sedang mengingatkan manusia agar tidak lupa pada kampung halamannya. Ibarat pepatah “setinggi-tingginya merpati terbang, ia akan kembali ke sangkarnya”. Demikian juga yang secara filosofis manusia diibaratkan merantau di dunia ini, akan kembali ke negeri akhirat, tempat kita berasal. Hidup tidak boleh putus dari mata rantai makna filosofis kampung halaman, tempat kita berasal dan tempat kembali. Puncak kebahagiaan mudik bukan pada atribut yang didapatkan di tanah rantau, tetapi saat berjumpa orang tua dan anggota keluarga di kampung halaman kita.  Seperti inilah, jiwa kita yang melanglang buana dalam kehidupan dunia yang fana, selalu rindu pada tempat asalnya, kampung akhirat. 

Tahun ini adalah tahun kesedihan. Sedih atas naiknya tarif BPJS, PHK, dan himpitan ekonomi yang semakin sulit akibat wabah Corona. Sudahlah, kita hapus kesedihan dan perdebatan tentang Idul Fitri tahun ini yang tiada ujung pangkalnya. Kita rayakan saja kegembiraan di tahun kesedihan ini, seraya menengadahkan tangan dan memanjatkan doa Rumi pada musim semi di Konya: “kami menyembah-Mu, itulah doa taman di musim dingin, kami meminta tolong hanya pada-Mu, itulah ratapannya di musim semi, kami menyembah-Mu, itu artinya, aku datang memohon pada-Mu, Jangan aku kau tinggalkan dalam kesedihan ini Tuhan, bukalah pintu kegembiraan selebar-lebarnya, kami minta tolong pada-Mu, Tuhan; yaitu kelimpahan buah yang masak lagi manis rasanya; Nah, patahkanlah dahan dan rantingku, lindungilah daku, Ya Allah Ya Tuhanku! (*)