Mereka Punya Hak Merdeka

Supratman

Oleh. Supratman 

Ketua Umum DPD IMM NTB

KHITTAH.co —¬†Setiap manusia di belahan dunia manapun punya hak yang sama untuk hidup merdeka, yaitu merdeka dalam semua tatanan hidup. Merdeka itu merasakan kedamaian, keamanan dan kesejehteraan. Hak kemerdekaan itu tidak dibedakan atas nama agama (kepercayaan), suku, bangsa maupun negara maupun warna kulit. Intinya semua punya hak atas hidup merdeka. Setiap konstitusi negara menjamin kemerdekaan rakyatnya. Maka dari situlah setiap negera punya kewajiban menjaga hak kemerdekaan rakyatnya.

Istilah merdeka bukan barang baru bagi kita. Semua orang tau esensi kemerdekaan. Makna merdeka sendiri bermuara pada bebas dari penjajahan, penghambaan maupun perbudakan. Hal itu sesuai dengan arti kemerdekaan dalam KBBI. Intinya hidup merdeka itu jauh dari “penderitaan”, baik penderitaan fisik maupun penderitaan ekonomi.

Nah, yang nenarik saat ini sekaligus mengiris hati, istilah “merdeka” tidak berlaku bagi saudara-saudara kita di Rohingya Myenmar yang saat ini mengalami kelumpuhan makna kemerdekaan. Mereka seolah tidak ada haknya untuk “merdeka”. Sistem kenegaraannya mendesain mereka agar tidak punya hak kemerdekaan. Bagi saya ini adalah kejahatan negara yang sangat besar terhadap rakyatnya sendiri dan harus dikutuk dan dilawan bersama.

Kejahatan kemanusiaan di Myenmar saya tidak memandangnya dari sisi kejahatan atas nama kekerasan agama yang walaupun ada indikasi ke arah itu. Saya cukup menilainya dari sisi tragedi atau “kejahatan kemanusiaan”. Jika saya memandang dari sisi kejahatan atas nama agama bisa jadi banyak yang tersinggung dan saya bisa jadi dicap sebagai provokator yang memainkan isu sara.

Kita harus jujur sebagai manusia. Bayangkan, siapa yang tidak teriris hatinya jika melihat mereka dibakar hidup-hidup, tidak tau orang tua maupun anak-anak tak berdosa semua jadi sasaran. Mereka diusir dari tanahnya sendiri, mereka tidak diperlakukan selayak manusia, bahkan dicincang hidup-hidup, dipanggang bagaikan binatang buruan. Sungguh mengiris hati melihatnya. Pelakunya sudah tidak punya naluri kemanusiaan.

Sulit dibantah kejahatan kemanusiaan di Myenmar bukan kejahatan yang didesain oleh kekuatan negara, sebab militer negara ikut ambil bagian bersama para penganut Budha di Myenmar. Kejahatan kemanusiaan di Myenmar terhadap etnis Rohingya bukan isu baru. Bahkan puluhan tahun lalu masalah ini sudah menggeliat, namun persoalannya belum juga usai. Bahkan selalu muncul episode baru kejahatan tersebut. Sebab bagi saya negera terlibat dalam pembantaian dan pengusiran terhadap etnis Rohingya di Myenmar. Itulah yang dikatakan bahwa negara tidak menginginkan mereka (etnis Rohingya) ada di Myenmar. Hak kemerdekaan bagaikan mimpi di siang bolong bagi mereka.

Penganiyayaan sudah menjadi keseharian dan warisan hidup bagi mereka walau di tanah sendiri. Negara-negara di dunia patut harus ambil bagian untuk mendamaikan agar mereka punya hak kemerdekaan. Jika pemerintah Myenmar terus melalukan pembiaraan bahkan terlibat, Myenmar layak menjadi musuh bersama. Sebab itu ciri negara yang tidak baik karena rakyatnya sendiri menjadi musuh dan tidak diakui hak kewarganegaraannya. Ini drama negara yang sangat memilukan.

Saat ini banyak negara yang simpati. Hampir semua ormas keagamaan dan Organisasi Kepemudaan (OKP) di dunia mengutuk kejahatan itu. Pantas mendapat kutukan, karena sudah keluar dari naluri kemanusiaan. Kejahatan kemanusiaan seperti itu tidak bisa dibiarkan di negara manapun. Jika terus dipelihara, negara tersebut harus menjadi musuh bersama.

Etnis Rohingya tidak pantas diperlakukan seperti itu. Mereka bukan “binatang buruan” yang harus dimusuhi. Mereka warga negara yang punya hak “kemerdekaan”. Institusi yang bertanggung jawab atas kemerdekaan mereka adalah negeranya sendiri. Jadi tidak ada alasan pemerintah Myenmar tidak menjamin rasa aman kepada rakyanta sendiri (etnis Rohingya), bukan malah dimusuhi. Jika negara berada dibalik tragedi itu, maka itulah kezoliman yang harus diperangi bersama.