Merenungi Belajar Nyaman

Ilustrasi orang belajar. Foto: Net

Oleh: Andi Muhaimin Darwis (Anggota Komunitas Taman Pustaka)

KHITTAH.CO — Suatu ketika saya pernah mengeluh kepada Bapak, tentang rumah yang terlalu padat akan barang dan manusia. Mungkin telah menjadi karakter dalam diri saya jika hendak belajar, posisi duduk, suhu ruangan, dan kebisingan tempat, semuanya berpengaruh terhadap mood dan konsentrasi. Anak kecil yang berlarian, meja belajar yang beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan barang, dan udara ruangan yang tak mengalir menghilangkan hasrat ingin tahuku ketika berada di rumah.

Cukup masuk akal jika warkop dan café begitu ramai. Mungkin para pengunjung memiliki problem yang sama denganku selain karena cita rasa kopi dan unlimited wi-fi. Dengan alasan mengerjakan tugas kelompok, kadang aku bolos dari absen Bapak yang sedang mengumpulkan anak-anaknya pada jam 10 malam. Kala itu, aku selalu berpikir bahwa suatu saat akan kuciptakan rumah dengan ruang baca yang unik dan nyaman, sehingga warkop bukan lagi tempat wajib bagi keturunanku untuk bermeditasi agar diilhami kecerdasan.

Kuceritakan seluruh keluh kesah kepada Bapak demi mendapatkan sedikit perhatian bahwa anaknya dalam masa pencarian, dan itu harus disediakan. Meski tak merajuk, pintaku sangat serius. Ini persoalan masa depan yang hendak kutata rapi. Aku sudah tak bisa belajar di rumah!

 
“Nak, Kakak-kakakmu sudah besar. Rumah ini begini-begini saja. Tak ada yang berubah. Mereka memanfaatkan apa yang ada, tetapi mengapa mereka bisa sukses? Kira-kira dari SD sampai SMA, di mana kamu mengerjakan PR? Artinya bukan rumah yang berubah, tapi ada yang salah dari paradigma belajarmu. Bagi orang yang bersyukur, belajar itu tak memiliki syarat”, kata Bapak dengan suara paraunya.

Suasana tak hening, tapi entah mengapa keheningan ada di dalam pikiranku. Seperti biasa, argumentasi Bapak selalu singkat namun berarti. Namun, Aku masih belum dapat menerimanya saat itu. Sebab apa mau dikata, memang konsetrasiku selalu pecah pada tiap bocah yang berlarian; pada tiap peluh keringat yang menetes; dan pada perintah keluarga di rumah yang memohon untuk diantar ke pasar. Semua menghambat dan hanya mengizinkanku bernapas semenit sebelum gelombang pemecah yang lain datang kembali.

Setelah berjalannya waktu, situasi belajar tak lagi pernah kupermasalahkan. Sikap bijaksana dan berpikir dewasa (menerima nasihat dari Orang tua) sudah harus terpatri dalam diri. Jika direfleksikan, memang kita kadang terjebak dalam hal yang tidak esensial. Contohnya ialah, mencari rasa nyaman sebelum belajar. Acap kali kita melihat mahasiswi yang mengerjakan tugas dengan bantuan earphone ataupun lagu. Kadang, kita melihat kumpulan mahasiswa yang hanya dapat berpikir ketika rokok dinyalakan dan kopi disajikan.

Ada juga yang hanya dapat membaca ketika sendirian. Seolah-olah, tanpa lagu, rokok, kopi,dan kesendirian, darah tak akan dapat mengalir ke otak. Sehingga, hal yang minor berubah menjadi major dan sebaliknya. Padahal sejatinya, manusia belajar untuk mencari rasa nyaman, bukan mencari rasa nyaman untuk belajar. Karena dengan belajar, ketenangan akan menghampiri, sebab Sang Pemilik kecerdasan akan selalu dicari. Sangat berbeda dengan Sang Penikmat kopi, hidup tak pernah lepas dari aktifitas lobi-melobi.

Pola yang sama juga menjangkiti pelajar usia muda. Bukankah handphone diberikan atas dasar memudahkan dalam belajar? Lantas jika handphone yang sekunder tidak diberikan, maka belajar yang primer mustahil mereka lakukan. Harus diakui, kita terlalu banyak menuntut.

Hingga sekarang, pesan Bapak sesekali masih terngiang jika rasa bosan saat membaca di rumah menghampiri. Mengubah paradigma belajar memang tak semudah membalik telapak tangan. Tapi semua akan terlihat menggembirakan bila jeratan “nyaman” telah terlepas. Jika selalu saja “nyaman” yang diandalkan, maka orang hebat tak pernah lahir dari kemiskinan, dan mereka yang berduit pasti akan selalu menang.

Betul bahwa belajar itu tak memiliki syarat bagi yang bersyukur. Dengan bersyukurpun, kita dapat belajar tanpa lembaran kertas dan media lainnya. Cukup dengan merenung. Dengan pembaharuan paradigma belajar, semua ruang dapat menjadi tempat belajar, baik itu kamar tua dengan dinding lembab, sofa setengah robek, terlebih hanya karena faktor kampus dan sekolah-sekolah yang tak diunggulkan.