Muballigh Terasing ke Tanah Suci

Oleh : Haidir Fitra Siagian

KHITTAH.CO — Sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberikan manfaat positif kepada orang lain. Sebagaimana pun keadaan seseorang, pastilah memiliki keunggulan tersendiri. Jika dilihat dari berbagai aspek, keunggulan seseorang seperti ilmu, tenaga, finansial, keterampilan, maupun aspek-aspek personal lainnya. Kesemua keunggulan tersebut jika dibantukan kepada orang lain terutama bagi mereka yang memerlukan, maka itu adalah bagian dari upaya seseorang menjadi memiliki manfaat kepada orang lain. Bukan hanya untuk membantu secara personal, juga memudahkan urusan yang lebih besar. Membantu umat, bangsa dan negara.

Pada kesempatan lain, setiap umat Islam itu memiliki kewajiban untuk berbuat sesuatu kepada orang lain. Termasuk diantaranya adalah kewajiban berdakwah. Justru setiap individu muslim adalah pendakwah, yang mesti menyampaikan ajaran Islam kepada sesama umat Islam. Dimana dan kapan saja. Bahkan dalam konteks apapun, misi dakwah harus dijalankan. Karena Islam adalah agama dakwah yang mau tidak mau harus disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Sampaikanlah walau satu ayat, adalah Sabda Rasulullah Saw. Artinya inilah minimal sekali ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk berdakwah, menyampaian kebaikan-kebaikan. Jadi setiap Muslim wajib hukumnya berdakwah. Tidak mesti seorang alumni pesantren atau alumni perguruan tinggi Islam, maupun pengurus ormas Islam atau bukan. Yang penting, dia adalah mengaku Muslim, maka wajib hukumnya berdakwah.

Dakwah adalah proses komunikasi. Proses menyampaikan pesan, dalam konteks amar makruf nahi mungkar. Menyeru kepada kebaikan dan upaya mencegah dari perbuatan kemungkaran. Sebagai proses komunikasi, dakwah dapat dijalankan dengan berbagai cara. Berceramah, membawakan kuliah umum, presentasi dalam seminar internasional, boleh menjadi bagian dakwah. Menulis informasi penting di media online, media cetak, ataupun membagikan berita di berbagai media sosial seperti WA atau Facebook, pun adalah bagian dakwah.

Dakwah pula boleh dengan cara memberi keteladanan. Seorang ayah yang gagap berceramah, bisa jadi sebagai juru dakwah yang efektif. Caranya dengan memberi contoh kepada keluarganya. Seperti bangun sebelum subuh. Lalu ke masjid mengumandangkan azan subuh. Lama-lama anak dan istrinya akan ikut ke masjid, walaupun tentu terpenuhinya secara bertahap.

Bahwa metode dakwah para muballigh adalah tidak sama. Berbagai cara yang dilakukan. Jika berceramah, menulis, memberi contoh kebaikan, sudah lumrah. Tetapi mendatangi satu masyarakat secara terus-menerus seorang diri selama puluhan tahun tanpa ada honor maupun tunjangan jabatan, adalah tindakan yang sangat langka. Itulah yang terjadi saat ini terhadap seorang mujahid dakwah Muhammadiyah di pedalaman dataran tinggi Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa dan sekitarnya. Seseorang tanpa kenal lelah membina umat Islam di kawasan tersebut selama puluhan tahun. Caranya sangat berbeda dengan muballigh yang populer, yakni mendatangi objek atau mad’u sebagai sentral dakwah secara langsung.

Tak jarang beliau berinteraksi dalam satu kelompok anak muda saat main kartu. Pendekatan dimulai dengan sang ustadz ikut main kartu. Setelah lama-lama dia mengajak kepada kebaikan, melakukan ibadah shalat, menjelaskan apa yang lebih baik daripada main kartu dan lain-lain. Sang ustadz juga dulu pernah menangguhkan waktu shalat jum’at hingga hampir waktu Ashar, karena penduduk yang diajaknya ingin menyelesaikan pekerjaan di sawah terlebih dahulu. Dia ikut ke sawah bersama penduduk, setelah akrab dan mudah didekati, maka diajaklah cerita tentang berbagai kebaikan dan keimanan.

Dalam kesempatan lain, sang ustadz pun rela ikut kerjabakti dengan penduduk dan membawa makanan ala kadarnya. Setelah itu maka baru bisa didakwahi, yang dilakukan selama bertahun-tahun dengan segala dinamikanya. Tidak mudah memang menjalankan dakwah seperti itu, karena hanya mereka yang benar-benar radikal dalam beragama yang ikhlas melakukannya.

Tetapi dengan metode dakwah seperti itulahlah yang paling efektif menurut sang ustadz. Tentu tidak mudah mendapatkan tolok ukur keefektifannya. Tidak jarang ada pihak yang mengkritik beliau. Apalagi terkesan jalan sendiri, tak terorganisir secara rapi, pun tanpa dana maupun honor yang memadai. Bagi sang ustadz, itu dianggap sebagai bagian dari dakwah itu sendiri. Tetap jalan tak boleh mundur. Niatnya adalah untuk menyelamatkan aqidah umat, mencerahkan jiwa dan rohaninya dengan nilai-nilai spritual keislaman.

Ustadz Amiruddin Bakri, S.Ag. (51 tahun) adalah nama lengkapnya. Alumni IAIN Alauddin Makassar dan mantan aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) ini telah mendarmabaktikan dirinya untuk kepentingan dakwah Islam di pedalaman dan masyarakat terasing. Dia rela berdakwah untuk masyarakat terasing selama puluhan tahun. Jangan ditanyakan sejauh mana keikhlasannya. Dia tidak punya penghasilan tetap dari dulu hingga saat ini. Bahkan sebagian dana yang diberikan oleh (almarhumah) istrinya (saat masih hidup), digunakan untuk kepentingan dakwah.

Hari ini, atas budi baik seorang dermawan dari Kalimantan dan satu biro perjalanan, beliau telah berada di tempat suci umat Islam. Tempat yang dinanti-nantikan oleh setiap Muslim sejati. Penulis melihat foto yang dikirimkan melalui media sosial, tampak sangat berbinar-binar dan senyum sumringah.

Tidak pernah terbetik dalam benaknya bahwa seseorang akan membawanya ke tanah suci melaksanakan umrah. Demikian pula jika suatu saat ada yang berjiwa dermawan yang akan mengajaknya untuk menunaikan ibadah haji, tentu akan semakin mengukuhkan semangatnya menjaga nilai-nilai ketauhidan umat Islam dalam masyarakat terasing di pedalaman sana.***

Wassalam
Haidir Fitra Siagian
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Alauddin Makassar
Bakung Samata Gowa, 17 Januari 2019 jelang tengah malam