Muhammadiyah dan Islamisasi Tiada Henti

(Review Terhadap Buku Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin)

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

Tulisan ini pada dasarnya bertujuan untuk mereview salah satu karya klasik Mitsuo Nakamura yang berjudul Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin. Buku ini sebenarnya adalah karya kesarjanaan yang dibuat Mitsou Nakamura saat ingin mengambil gelar Ph.D pada bidang antropologi di Cornell Universty. Karya tersebut adalah hasil penelitian yang dilakukan dalam rentang waktu tahun 1953-1954 dan diterbitkan pada tahun 1960, tapi dalam bahasa Indonesia nanti diterbitkan pada tahun 1983 dan diterbitkan oleh Gajah Mada University Press.

Kini buku Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin diterbitkan kembali, memang ada selisih waktu yang cukup jauh antara tahun 1960 dengan tahun 2017, jika ada selisih waktu itu juga berarti ada selisih setting historis. Intinya buku ini mempercakapkan soal Muhammadiyah sebagai representasi gerakan Islam reformis khususnya di kotagede Yogyakarta, walaupun berangkat dari titik koordinat ruang dan waktu yang spesifik, tetapi buku ini tetap memiliki relevansi. Bagi Mitsuo Nakamura buku ini “akan memberikan sebuah pemahaman mengenai pola-pola umum dari transformasi Islam modern…”. Melalui tulisan ini saya akan mencoba untuk “memetik”, “mengutip” dan sedikit memberikan tafsir terhadap sebagian kecil dari gagasan kunci penulis buku, tak sempurna memang karena keterbatasan saya terutama kesempatan, dalam mendaras dan mengkaji isi buku.

Mengantisipasi Trikotomi Clifford Gertz

Salah satu rujukan klasik para cendekiawan Indonesia maupun barat, saat mencoba untuk memetakan dan menjelaskan pola Islamisasi di Nusantara khususnya di jawa adalah dengan menggunakan skema trikotomi priyai-abangan-santri sebagai pisau analisis. Sederhanya priyai adalah kelompok sosial yang dekat dengan institusi kerajaan dengan corak keagamaan yang sinkretik, abangan adalah kelompok sosial umum yang punya corak keagamaan sinkretik bahkan lebih condong pada tradisi Buddha-Hindu, sedangkan santri adalah kelompok sosial yang corak keagamaannya lebih dekat pada Islam ortodoks.

Bagi Mitsuo Nakamura, jika melihat kasus awal kelahiran Muhammadiyah dan kelahiran sosok ulama di kekratonan Yogyakarta, maka kita bisa melihat bahwa yang terkadang muncul ke permukaan untuk menginisiasi islamisasi atau lebih tepatnya re-islamisasi adalah sosok yang masuk dalam kategori priyayi. Kehadiran apa yang disebut dengan abdi dalem juru kunci (Ahmad Dahlan adalah termasuk abdi dalem yang dia warisi dari ayahnya) yang merupakan bagian integral dari sistem administrasi priyai di kerajaan-kerajaan jawa, adalah fakta sejarah yang membuat trikotomi Gertz menjadi tidak valid sepenuhnya.

Dengan kata lain pengislaman yang terjadi di jawa, tak “se-datar” yang disangkakan oleh Gertz. Begitu pula dalam memandang gerak dakwah Muhammadiyah dan arus dukungan masyarakat (khususnya masyarakat Kotagede) terhadap Muhammadiyah, yang terjadi di sini bukan sekedar perubahan orientasi ideologi keagamaan, dari orientasi trdisionalisme ke orientasi yang lebih modern, banyak paradoks-paradoks ataupun diskontunitas yang terlibat.

Islamisasi, Tradisi dan Transformasi

Menurut Mitsuo Nakamura, Islamisasi tidaklah berlangsung dalam kondisi yang steril dari tegangan-tegangan historis. Islamisasi yang terjadi (khususnya di jawa) berlangsung sangat erat berhubungan dengan faktor-faktor sosial, politik dan ekonomi. Islamisasi tak hanya berkaitan dengan kejadian yang terjadi di masa lampau, namun juga sebagai proses yang tak pernah selesai, berlangsung berulan-ulang termasuk yang terjadi di masa sekarang.

Sang penulis buku juga menyebut istilah “Islamisasi tanpa henti”. “ Dengan frasa Islamisasi tanpa henti, saya bermaksud menunjukkan sebuah proses ketika sejumlah besar Muslim tidak puas dengan situasi-situasi keagamaan yang ada (seringnya termasuk mereka sendiri) dan, sebagai sebuah tindakan korektif, berusaha untuk menjalankan apa yang mereka bayangkan sebagai standar pengajaran Islam ortodoks”. Ada nuansa tegangan antara purifikasi dan dinamisasi di sini, di satu sisi ada religiusitas ideal yang dituju, tapi di satu sisi ada sesuatu yang takkan pernah selesai (yang melahirkan rasa tak puas) dalam proses menuju yang ideal.

Muhammadiyah memang lahir dan berkiprah, dalam kondisi dilibati/terlibat dengan setting historis yang melingkupinya. Makanya Mitsuo Nakamura menemukan beberapa paradoks-paradoks dalam penelitiannya. Salah satu paradoks yang menarik adalah paradoks antara Tadisi dan Transformasi. Muhammadiyah sebagai eksponen gerakan reformisme Islam justru lahir (inilah yang disimbolkan dengan istilah “bulan sabit terbit”) di pusat jantung otoritas tradisi Jawa (inilah yang dismbolkan dengan “pohon beringin”, karena pohon beringin dalam tradisi jawa adalah simbol spiritualitas).

Salah satu penciri gerakan reformisme adalah inovasi-inovasi, dan salah satu inovasi Muhammadiyah saat itu adalah, mengorganisir eksponen Islam secara sukarela di luar sistem administrasi keraton atau priyai saat itu. Dengan kata lain keberagamaan atau keberislaman priyai menjadi Significant Others bagi kemunculan organisasi modern Muhammadiyah. Maka Mitsuo Nakamura mengatakan bahwa gerakan Muhammadiyah harus dipandang sebagai perkembangan internal masyarakat jawa kebanding “barang jadi” impor yang data dari luar. Bagi saya, perkataan Mitsuo Nakamura ini adalah salah satu penguat bahwa dakwah kultural bukanlah sesuatu yang incompatible dengan gerak dakwah Muhammadiyah seperti yang dituduhkan eksponen literalisme di tubuh Muhammadiyah.

Mengoperasikan Ideologi Muhammadiyah

Mitsuo Nakamura mengatakan bahwa kita sulit menolak kesan bahwa strategi dasar yang digunakan oleh Muhammadiyah masih terlalu umum dan abstrak. Frasa-frasa visi yang dideklarasikan, semisal “peradaban unggul”,”umat utama dan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” adalah frasa yang masih samar dan memerlukan pendefinsian lebih lanjut serta pengoperasionalan lebih lanjut. Dan ini sebenarnya dalam rangka menjawab tantangan-tantangan kontemporer yang dihadapi Muhammadiyah dalam hal ini globalisasi, urbanisasi dan pulralitas masyarakat yang semakin intensif.

Selanjutnya penulis buku merekomendasikan bahwa Muhammadiyah perlu mencari cara untuk menahan dorongan puritannya, yang kadang-kadang membuat Muhammadiyah terjebak dalam “permintaan ekslusifis dari kalangan Islamis yang merasa benar sendiri” ungkap Mitsuo Nakamura. Selain itu perlu diperjelas pula bagaimana strategi Muhammadiyah dalam berkontrusi aktif dan berkelanjutan, terhadap pemeliharaan toleransi, harmoni dan kerja sama dengan komunitas-komunitas berbeda keyakinan.