Muhammadiyah dan Kebangkitan Nasional

Saifullah Bonto
Saifullah Bonto
ADVERTISEMENT

Oleh: Saifullah Bonto

 Kabid Keilmuan Pikom IMM Fisipol Unismuh Makassar

KHITTAH.co- Indonesia yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih 250 juta jiwa dengan luas kurang lebih 5.100.000 km² merupakan negara superior. Bagaimana mungkin tidak bisa dikatakan negara superior sementara tambang emas, tambang batu bara, cadangan gas alam, hutan tropis, jumlah pulau, suku, bahasa dan masih banyak lagi kekayaan alam Indonesia merupakan kekayaan yang berkualitas dan terbesar dunia. Bahkan karena kondisi geografis dan demografisnya, salah satu peneliti mengatakan Indonesia dahulunya adalah Atlantis.

Di Indonesia pulalah yang menurut salah satu pakar dengan rumus matematika Alqur’annya, kerajaan tiada duanya pernah berdiri. Secara historis kerajaan tersebut diperintah oleh King Solomon (Nabi Sulaiman as) yang Tuhan anugerahkan kepadanya semua makhluk tunduk di bawah kekuasaanya termasuk dari bangsa jin. Sampai sekarang pun kita masih bisa menikmati berbagai artefak dan peninggalan kerajaan tersebut salah satunya terletak di Magelang, Jawa Tengah yang biasa kita kenal dengan sebutan Candi Borobudur.

Kita kembali ke seabad yang lalu pada tahun 1908 yang merupakan akar hari Kebangkitan Nasional. Indonesia yang pada saat itu meski masih secara de facto belum secara de jure, pada tanggal 20 Mei berbagai cendekiawan berkumpul untuk membentuk sebuah organisasi yang juga merupakan cikal bakal persatuan Indonesia melawan kaum kolonialisme melalui pergerakan intelektual yang tidak lagi menggunakan perjuangan fisik. Organsasi ini kemudian diberi nama Boedi Oetomo yang sebelumnya di motori oleh Dr. Soetomo yang lebih akrab disapa dengan sebutan Bung Tomo.

Dengan berdirinya Budi Oetomo, organisasi ini memberikan stimulus kepada para pemuda-pemuda lain untuk mendirikan sebuah organisasi yang nantinya juga mengawal perjuangan bangsa Indonesia meski pada akhirnya organisasi yang mereka dirikan bubar, baik bubar dengan sendirinya maupun bubabr dengan campur tangan kolonialisme seperti H. Samanhudi (Sarekat Dagang Islam), H.O.S Tjokroaminoto, H. Agus Salim (Sarekat Islam), Tiga Serangkai, yaitu Dr. Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Suwardi Suryaningrat (Indische Partij).

Tapi salah satu tokoh nasional sekaligus tokoh pembaharu islam yang juga ikut berpartisipasi di organisasi tersebut adalah KH. Ahmad Dahlan. Beliau dengan pemikiran moderatnya mendirikan organisasi Muhammadiyah pada tahun 1912 selain bermaksud untuk mengamputasi penyakit masyarakat islam, beliau juga bermaksud melakukan perlawanan dengan basis pergerakan intelektual yang terorganisir. Tidak bisa dipungkiri bahwa dari organisasi Muhammadiyah lahir tokoh-tokoh nasional dan revolusioner yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, mereka turut mengawal perjuangan bangsa Indonesia. Siapa yang tidak kenal dengan Bapak TNI Panglima Besar Jenderal Sudirman yang.masa mudanya aktif di organisasi kepanduan Hizbul Wathan. Beliau juga sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Sekolah Muhammadiyah Cilacap. Dan  lain halnya salah satu Founding Father kita sekaligus presiden pertama Republik Indonesia yang pada saat berpidato menyampaikan bahwa dirinya adalah kader Muhammadiyah, sekali Muhammadiyah tetep Muhammadiyah. Bahkan pada saat wafat pun beliau meminta untuk di selimuti bendera Muhammadiyah saking cintanya pada persyarikatan.

Muhammadiyah bukan saja organisasi pencetus pelaku sejarah melainkan pendobrak kebiadaban zaman. Jika Pancasila merupakan jasad bangsa Indonesia , lain halnya dengan Muhammadiyah yang merupakan ruh dari bangsa Indonesia. Muhammadiyah dengan pemikiran moderatnya pun yang baru-baru ini mengadakan perhelatan Muktamar mengusung tema “Menuju Indonesia Berkemajuan” , bukan sekedar literasi penghias slogan tapi tema tersebut merupakan bukti Muhammadiyah semakin progresif dalam mengawal kebangkitan bangsa serta menghadapi berbagai tantangan zaman.

Sampai sekarang Muhammadiyah masih mampu eksis dan tetap mengawal serta memberikan sumbangsi terbesar bagi bangsa Indonesia. Tercatat sampai sekarang Muhammadiyah adalah organisasi dengan berbagai lembaga amal usahanya tetap intens dalam menjalankan amanah Muqaddimah UUD 1945 alinea ke 4 “memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”.  Hal inilah kenapa Muhammadiyah dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari rana nasional maupun dalam rana internasional karena sesuai dengan Alqur’an yang di dalamnya mampu menjawab dinamisasi zaman.

Pada momentum Hari Kebangkitan Nasional kali ini seyogianya kita dapat mengambil pelajaran dari para pelaku sejarah. Pelaku sejarah yang begitu cintanya dengan persyarikatan, pelaku sejarah yang mampu menginterpretasikan dengan baik aturan-aturan persyarikatan, pelaku sejarah yang paham bahwa organisasi mereka memiliki landasan teologis dan filosofis, pelaku sejarah yang dengan segala keteguhan hatinya tetap mengatakan “Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah”. Tanyakan pada diri anda apakah anda tidak ingin melanjutkan perjuangan para pelaku sejarah ? apakah anda ingin menjadi pelaku sejarah atau hanya menjadi penonton sejarah ? Tegaskan pada diri anda bahwa dengan ber-Muhammadiyah anda telah ikut serta membangun bangsa Indonesia, dengan ber-Muhammadiyah kita telah ikut turut serta mengkonstruk peradaban. Dengan ber-Muhammadiyah kita telah ikut serta membangkitkan bangsa, menuju Indonesia berkemajuan.

“Fastabiqul Khairat”