“Nasionalisme Bergerak” Ala Ibnu Khaldun

                                                              Sumber : Internet

Oleh: A. Hendra Dimansa

Aktifitas berburu yang dilakoni manusia telah membawanya menjelajahi bentangan luas daratan dan menyempatkan diri menyeberangi lautan. Hingga manusia mengenal kehidupan bertani dan membuat pemukiman, yang lambat-laun manusia mengenal kesadaran bersama yang membuatnya jatuh hati pada tanah yang didiaminya.

Apa yang terbayangkan dibenak ? apabila membaca atau menyaksikan data-data dari temuan para arkeolog mengenai kehidupan awal yang dilakoni oleh manusia. Mulai dari zaman pra-sejarah hingga zaman sejarah, manusia senantiasa mengalami lompatan-lompatan baik lompatan dari segi pengetahuan maupun teknologi.

Dari segi pengetahuan, manusia awal begitu terpikat pada mitos-mitos, hingga proses alamiah senantiasa dikaitkan akan kemurahan maupun kemurkaan para dewa. Pengetahuan manusia mengenai dewa-dewi yang senantiasa diasosiasikan dengan kesuburan, kemakmuran dan dewa-dewi langit yang meliputi hujan, petir dan matahari. Dari semua varian-varian dewa-dewi yang diyakini tersebut, apabila disimak lebih jauh maka akan terlihat bahwa dewa-dewi yang begitu dipuja-puji tak lain adalah dewa-dewi yang berkaitan erat dengan aktifitas bertani manusia.

Walaupun sebagian kelompok manusia telah mengenal aktifitas bertani, namun ada juga kelompok manusia yang masih senantiasa melakukan aktifitas berburu. Kelompok manusia yang masih senantiasa berburu dengan sistem senantiasa berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, guna mencari tempat yang tentunya masih subur. Kecenderungan bertani atau bercocok tanam membuat manusia memiliki tempat menetap dan aktifitas berburu manusia membuat manusia memiliki prilaku nomaden (berpindah-pindah).

Dari ke-dua kecenderungan manusia tersebut, melahirkan kesadaran yang berbeda. Pada masyarakat bertani atau bercocok tanam memiliki prilaku yang berdomisili pada satu tempat, ketimbang berpindah-pindah. Sebab aktifitas bertani membuat manusia memiliki kesadaran untuk senantiasa menjaga tanamannya dari serangan binatang-binatang. Kecenderungan teknologi yang dihasilkan berorientasi pada bagaimana tanaman tidak dirusak atau diserang oleh binatang-binatang. Adanya hasil dari aktifitas bertani atau bercocok tanam membuat kelompok manusia seperti ini mengenal sistem penyimpanan hasil pertanian. Hal, tersebut sangat berdasar untuk mensiasati apabila hasil produksi dari bertani pada musim depan tidak sebanyak pada sekarang.

Sebaliknya aktifitas berburu yang sangat bergantung pada kesuburan suatu daerah, membuat kelompok manusia tersebut memiliki sistem nomaden (berpindah-pindah) sebagai bentuk adaptasi terhadap aktifitas berburu yang senantiasa dilakoninya. Kegiatan berburu ini, yang membuat manusia berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, melahirkan berbagai bentuk sistem yang senantiasa fleksibel seperti rumah sebagai tempat istirahat hanya berbentuk tenda-tenda yang sifatnya dapat dipindahkan dan memiliki sistem teknologi berburu yang senantiasa mengalami perkembangan dari serpihan batu sebagai senjata berburu hingga tempaan besi yang berbentuk pedang dan semacamnya. Aktifitas berburu yang membuat kelompok manusia yang menjalaninya memiliki cara hidup yang begitu adaptif untuk senantiasa bersesuaian dengan tempat berburu yang senantiasa berubah, hingga insting untuk senantiasa menjadi penakluk amat melekat pada kelompok manusia yang beraktifitas pada berburu tersebut.

Dalam pandangan Ibnu Khaldun bahwa manusia memiliki dua klasifikasi yakni hadarah (manusia yang telah menetap) dan badawah (manusia nomaden/berpindah-pindah). Kecenderungan manusia akan dua klasifikasi tersebut, tentunya pada masa modern telah mengalami transformasi. Mungkin fenomena migrasi dari satu negara misalnya, migrasi masyarakat yang terkena dampak perang ke negara-negara yang cenderung kondusuif baik dari segi ekonomi maupun keamanan. Maupun terjadinya fenomena masyarakat urban dari desa ke kota untuk mencari pendapatan.

Terjadinya perpindahan atau migrasi dari suatu negara ke negara yang lain, tentunya memiliki dampak dan perubahan. Sebagai kelompok migrasi tentunya diperlukan proses pembauran dengan masyarakat setempat, pada proses pembauran tersebut diperlukan sikap saling menerima antar satu dengan yang lainnya. Sebab telah banyak fakta antara kelompok imigran dengan masyarakat setempat acapkali bermasalah, sebagai contoh persoalan yang terjadi antara pemerintah Myanmar dengan masyarakat Rohingya yang dahulunya sebagian adalah imigran dari Bangladesh. Sehingga diperlukan upaya saling menerima dan melebur baik dari segi budaya maupun yang lainnya. Tentu proses transformasi tersebut sangat diperlukan, mengingat untuk membangun kesadaran kolektif dalam kehidupan sosial sangatlah diperlukan.

Bila merujuk pada pandangan Ibnu Khaldun, tentunya antar kelompok sosial yang ada baik hadarah maupun badawah ataupun dalam pengertian kekinian masyarakat menetap dan imigran diperlukan kesadaran bersama atau ashabiyah. Bahwa baik masyarakat yang menetap maupun imigran perlu dijalan kerja sama, sebab yang mesti menjadi kesadaran bersama bahwa mereka menetap pada satu ruang bersama yang bernama ruang publik. Sehingga kesadaran untuk saling berbaur baik pembauran secara budaya untuk menguatkan kekayaan akan kebudayaan dan semangat nasionalisme kebangsaan tempat mereka bernaung serta berlindung dalam ikatan sosial yang bernama warga negara.

Tentu nasionalisme menjadi perekat sosial diantara masyarakat baik yang menetap maupun imigran, untuk mempersembahkan karya dan baktinya di negara tempat mereka berada. Nasionalisme semacam ini, tentu telah memiliki ruang tersendiri dengan terjadinya berbagai migrasi yang terjadi antara negara, apalagi di negara-negara konflik yang mencari suaka akhirnya menetap dan menjadi warga negara di tempat migrasi yang ditujunya.