Noordjannah Djohantini Minta Gerakan Progresif ‘Aisyiyah Tiga—Lima Kali Lebih Cepat

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Dr Siti Noordjannah Djohantini didampingi oleh Ketua PW ‘Aisyiyah Sulsel Dr Nurhayati Azis dan Sekretaris PWA Sulsel Hidayah Quraisy

KHITTAH.co, Makassar- Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Asiyiyah Dr. Siti Noordjannah Djohantini menghaturkan terima kasih kepada seluruh penggerak Organisasi Perempuan Berkemajuan ini atas kontribusinya selama masa Pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah, selama Covid-19 ini, kita masih bisa berkegiatan, masih berkiprah di masyarakat. Aktivitas organisasi, saya berkomunikasi dengan wilayah dan daerah dilakukan secara online meski sudah banyak yang mengaku kangen, mau luring,” ungkap Noordjannah.

Hal ini ia sampaikan saat bersilaturahim dengan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan, Senin, 16 Mei 2022 siang, di Unismuh Bussines Center (UBC) Kampus Unismuh Makassar.

Ia mengakui, di awal masa Pandemi Covid-19, pihaknya sempat cemas dan kebingungan untuk bersikap dan bertindak.

Beruntung, kata Noordjannah, Muhammadiyah termasuk ‘Aisyiyah, dapat segera memahami keadaan dan menemukan langkah alternatif menghadapi Covid-19.

“Ini karena Muhammadiyah memang adalah gerakan modern yang tidak lepas dari nilai keagamaan dan ilmu pengetahuan,” kata Noor.

Ia juga mengaku, menyadari betul dampak dari Pandemi Covid-19 ini. Karena itu, dia meminta setiap Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) untuk menginventarisasi dampak Pandemi Covid-19 untuk dijadikan sebagai lahan dakwah di masyarakat.

“Hikmah dari Covid-19 harus bisa kita identifikasi untuk jadi bagian dari dakwah kita. Kan kita tidak boleh hanya mengeluh saja. Kenyataannya juga kan, ternyata kita tetap bisa berbuat,” ungkap Doktor Ekonomi ini.

Ia berharap, ke depannya, ‘Aisyiyah tetap bergerak dalam dakwah yang memberikan kemaslahatan bagi kepentingan kemanusiaan, keumatan, dan kebangsaan hingga Covid-19 ini benar-benar melandai.

“Kita lebih melatih kepekaan kita, sensitivitas kita, humanity kita yang sudah dimiliki sejak sebelum Covid-19 dan potensinya kuat dimiliki oleh kita sebagai penggerak Persyarikatan,” tutur Noor.

Dia mengingatkan, kultur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sejak awal memang berpihak pada dhuafa dan mustadh’afin.

“Alhamdulillah, di Sulawesi Selatan ini ada klinik, di Pinrang ada rumah sakit, di Bantaeng ada klinik meski kebanjiran tapi tetap bisa berbuat dengan hal-hal baik yang diikhtiarkan,” ungkap Ketum Aisyiyah.

Noordjannah juga mengingatkan PDA Se-Sulsel untuk tetap berkolaborasi dengan seluruh komponen. Berkolaborasi juga merupakan tradisi dalam ber-Muhammadiyah dan ber-‘Aisyiyah.

“Kiai Dahlan itu banyak bekerja sama dengan semua pihak. Dengan tokoh PKI saja, beliau berdialog. Tokoh Kristen berdialog. Untuk kemanusiaan, kita bisa bekerja sama.”

Menurut Noordjannah, kekuatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menjadi organisasi maju tidak bisa tanpa berkolaborasi dengan pihak lain.

Namun, ia menegaskan, dalam bekerja sama, ‘Aisyiyah tetap harus mempunyai prinsip-prinsip organisasi yang harus ditegakkan.

Ia memastikan, PP ‘Aisyiyah sudah menolak banyak kerjasama karena tidak sesuai dengan prinsip, arah, dan tujuan organisasi.

“Bukan karena dana ratusan juta, terus kita mau ubah prinsip kita, oh, nggak! Banyak koq yang kita tolak karena tidak sesuai dengan prinsip organisasi kita,” tegas Noor.

Terakhir, Dosen UMY ini meminta PDA se-Sulsel untuk mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk pengelolaan media sosial. Ia juga berharap, kader-kader ahli hukum dan paralegal dapat disiapkan di akar-akar rumput.

Ia kembali menekankan, gerakan perempuan progresif ini harus terus bergerak dan merefleksikan gerakannya untuk kemajuan.

“Saya sudah pesan, PP ‘Aisyiyah mendatang itu kecepatannya harus tiga kali lebih cepat dari yang sekarang. Berarti, kalau PWA akan meminta daerah harus lima kali lebih cepat dari yang sekarang,” tutup Noordjannah.

(Adim/ Fikar)