Otak dan Neurosains

Oleh: Syahrul Al Faraby

(Pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah)

-Ketika sebuah hipotesis tidak sesuai fakta, maka kita harus membuangnya tanpa belas kasihan. Dan kita harus mencari penjelasan yang lebih baik tanpa rasa takut- Santiago Ramon y Cajal.

Sewaktu hendak menuliskan satu kalimat saja tentang otak, saya harus membaca dan berpikir berhari – hari. Hal ini sebagai tanda bahwa betapa ‘asing’ dan ‘miskin’nya saya perihal bagian tubuh dalam batok kepala saya sendiri yang menjadi pusat segala sesuatu.

Apa yang saya pikirkan, bagaimana saya berpikir, bergerak, bertingkah laku, makan, minum, merasa, berbahasa dan berkomunikasi adalah hasil dari Central Nervous System (CNS) dalam otak.

Inilah bagian paling penting dari tubuh manusia yang menjadi pusat segala kendali dan pengaturan system saraf. Pusat segala sesuatu yang melahirkan peradaban dan sejarah. Dan itu kadang kita lupakan.

Sepanjang ingatan saya, buku dan persinggungan saya dengan otak hanya berlansung ketika kelas enam sekolah dasar, kelas III sekolah menengah pertama, semester pertama bangku kuliah, dan itu sifatnya sepintas. Buku yang ada di rumah pun begitu terbatas, hanya ada buku biologi ponakan saya, Belajar Cerdas Jalaluddin Rahmat, dan Psikologi Kongnitif Robert J. Sterberg edisi keempat. Saya membaca beberapa halaman dan bab buku di atas sambil membuka youtube dan mendengarkan beberapa kuliah otak dan neurosains. Dan inilah yang saya dapatkan sebagai sebuah pengantar singkat.

Otak yang diabaikan

Otak merupakan bagian paling integal dalam tubuh manusia. Benda yang warnanya abu-abu, sedikit putih seperti tahu, dan kemerah-merahan itulah yang mengontrol sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh, termasuk detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh kita.

Inilah bagian tubuh dalam batok kepala manusia yang paling dekat dengan kita sebagai manusia, namun juga sangat misterius. Di dalamnya tersimpan 100 juta sel saraf dengan berat kurang lebih satu setengah kilogram.

Pada otaklah, kata Oscal Will, juga tersimpan surga dan neraka dunia. Sebab disanalah pengenalan dan pikiran kita bermula, emosi dan tingkah laku kita dikelola, serta ingatan dan segala proses pembelajaran lainnya dilakukan.

Pengabaian terhadap peran sentral otak selalu terjadi di sekitar kita. Bahkan, para orang tua, guru, pemuka agama, dan kita sendiri, selalu melakukan kekerasan pada otak yang pada akhirnya membuat otak kita rusak dan bermasalah.

Seorang guru (misalnya dalam dunia pendidikan) yang mengatakan ‘bodoh’, tidak fokus belajar, lambatnya menangkap pelajaran” pada siswanya, hingga memberinya angka – angka rendah (dan merah) adalah salah satu bentuk kekerasan pada otak.

Orang tua, dengan hasil belajar anaknya yang rendah kadang menambah lagi dengan luapan emosi yang berlebihan, deretan kutukan, ejekan, hingga kekerasan fisik dengan memukul kepalanya. Beberapa hal itu adalah perilaku kekerasan pada otak yang kemudian membuat seorang anak mengalami learning shutdown kata Jalaluddin Rahmat. Terhentinya proses belajar pada diri sang anak.

Tindakan kekerasan pada otak juga bisa dipicu oleh diri sendiri. Membiasakan hidup dengan kebencian, kata –kata kotor, emosi yang meluap – luap, mengeluh, prasangka dan segala bentuk keburukan lain akan membuat otak rusak dan bermasalah. Salah satu bagian otak yang bernama amigdala adalah bagian yang mengatur emosi manusia.

Adolphs (2003) menyebut amigdala memainkan peranan penting dalam emosi, khususnya kemarahan dan agresi. Sehingga mereka yang temperamen dan sedikit – sedikit marah dan tersinggung dengan sesuatu, berarti terjadi masalah dengan otaknya pada bagian amigdala. Sikap rasa takut (termasuk dalam beragama) adalah hasil dari stimulasi amigdala.

Frackowiak dan Gloor yang dikutip Sternberg mengatakan bahwa bentuk perasaan takut ini muncul dalam beberapa cara, misalnya berdebar – debar, halusinasi menakutkan, atau kilas balik mencekam dalam memori. Lebih lanjut lagi, kerusakan (lesi) pada amigdala akan menghasilkan sikap maladaptif yakni hilangnya rasa takut.

Otak Phinease Gage

Saya membaca Phinease Gage di Internet. Tahun 1848, dia mengalami kecelakaan yang menggemparkan dan menggetarkan dunia sains dan ilmu pengetahuan. Gage adalah seorang Mandor pembangunan rel kereta api di sebelah barat Amerika. Sebatang besi berukuran 43 inch dengan berat 6 kilogram tiba –tiba terlempar ke tulang pipi dan menembus kepala bagian kirinya. Hal itu terjadi ketika dia dengan tidak sengaja menumbuk bubuk mesiu pada sebuah lubang untuk menghancurkan bebatuan di tempat itu.

Gage berhasil hidup, namun kehilangan mata kirinya dan otak bagian depannya rusak, tepatnya pada bagian lobus korteks prefrontal. Tapi yang paling ‘aneh’ dari itu semua, sikap atau kelakuan Gage berubah. Lelaki umur dua puluh lima tahun yang terkenal ramah, murah senyum, cerdas, dan penuh kasih sayang ini kemudian berubah menjadi lelaki pemarah, emosional, kasar, pemberang, dan temperamen.

Gage bukan lagi seorang pekerja yang penuh semangat, sistematis, dan visioner. Pada sisa hidupnya, dia menjadi pribadi yang meresahkan keluarga, teman – teman dan masyarakatnya. Dalam catatan sejarah, dia akhirnya mati karena epilepsi.

Beberapa tahun kemudian, jasad Gage digali dan otaknya diteliti. Pada saat itu, para ilmuwan kemudian menjadi giat melakukan penelitian dibidang neurosains. Bahwa segala perilaku hidup manusia sangat dipengaruhi oleh otak dan sistem saraf yang bekerja di dalamnya. Perubahan dalam kerja sistem saraf terjadi karena faktor sengaja ataupun tidak sengaja. Manusia bisa merusak otak mereka sendiri misalnya dengan perilaku hidup sehari hari ataupun karena kacelakaan seperti yang dialami Gage.

Neurosains

Pada tahap ini, pembacaan pada otak dan neurosains menjadi penting. Dalam pepatah Arab misalnya, al-dinu huw al – aql, bahwa agama adalah akal. Akal adalah bentuk abstrak dari otak. Dengan demikian, segala yang hadir dalam agama adalah hasil kerja otak.

Dengan otaklah peradaban lahir. Dengan bahasa yang cukup ekstrim, dengan otaklah rumah, kuil, candi, mobil, dan bangunan – bangunan bertingkat lahir. Konsep – konsep seperti Tuhan, dewa, malaikat, kebaikan, kejahatan, baik, dan buruk lahir dari – dalam bahasa sains – berkembangnya sel – sel saraf yang membentuk satu pengetahuan dan senyawa (zat) tertentu dalam otak.

Neurosains, pada tahap lebih lanjut, merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem kerja otak. Dalam Schneider (2011) menyebut neurosains sebagai suatu bidang penelitian saintifik tentang sistem saraf, utamanya otak.

Neurosains merupakan penelitian tentang otak dan pikiran. Studi tentang otak menjadi landasan dalam pemahaman tentang bagaimana kita merasa dan berinteraksi dengan dunia luar dan khususnya apa yang dialami manusia dan bagaimana manusia mempengaruhi yang lain. Ini semacam catatan singkat dan pembuka untuk mengorek lebih jauh tentang peran neurosains dalam menjalani hidup yang baik dan bermanfaat.

Semoga pada tulisan selanjutnya, saya bisa menghadirkan hasil bacaan yang lebih praktis dan bermanfaat. Nuun.