Pandemi dan Wajah Suram “Intelektualitas” IMM Sulawesi Selatan

Oleh: Abdul Rahim

Khittah.CO, Opini – Pandemi Covid-19 membawa aura krisis di banyak sektor, tidak terkecuali di organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Hal itu begitu nampak, dikala mahasiswa dengan predikat “agen perubahan” tidak pantas lagi didengungkan sebab hampir tidak terlihat gebrakan nya. Tentunya, agen perubahan memerlukan kekuatan berpikir kritis untuk berinovasi, melewati banyak masalah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) juga dikenal sebagai rumah akademisi islam. Sebagaimana dipertegas dalam tujuan IMM yaitu mengusahakan terwujudnya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah. Akademisi islam yang dimaksud adalah seorang terpelajar dengan kualitas intelektual yang baik, pemahaman islam yang moderat, serta berakhlak mulia yang dicermikan dalam praksis sehari-hari.

Peran kader, terkhusus di IMM Sulawesi Selatan juga mengalami hal yang demikian. Program kerja di tataran pimpinan DPD IMM Sulsel juga tidak terasa gebrakannya. DPD IMM Sulsel seyogyanya memberikan pencerahan dan pembaharuan gerakan ditengah wabah corona, agar kader tidak kehilangan arah untuk berIMM. Olehnya itu, awal tahun menjadi waktu yang tepat untuk berbenah diri, memperbaiki komunikasi setiap bidang sesuai dengan tanggung jawab nya selaku pimpinan daerah.

Advertisement

Peningkatan kualitas kader sangat penting, bukan hanya sekadar memperbanyak kader tetapi program-program yang telah dibuat harus direalisasikan bukan hanya dicerita dalam forum rapat kerja pimpinan. Kalaupun yang menjadi alasan pandemi covid-19, itulah kelumpuhan berpikir nyata apatah lagi ini tingkat Dewan Pimpinan Daerah IMM Sulsel, bukan lagi tingkat cabang maupun komisariat. Pandemi covid19 salah satu ujian untuk berpikir kritis bukan krisis berpikir, lebih kreatif dan memberikan solusi yang tepat sasaran.

Kita hanya menyaksikan webinar yang tak continue, kajian yang tak sistematis serta langkah bagi-bagi masker dan handsanitezer yang formalistik. Semuanya seperti hanya kegiatan komisariat. Kegiatan webinar misalnya, selama ini kegiatan-kegiatan seperti ini seharusnya tingkat cabang sebagai pelaksana, bukan lagi ranah pimpinan daerah. Kemudian output dari kegiatan seperti diatas tidak jelas arahnya kemana. Kalaupun hanya untuk silaturahim sesama kader dibuatkan kepanitiaan ditingkat cabang agar ada koordinasi yang jelas antara Pimpinan Daerah dengan Pimpinan Cabang. Padahal, Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sulawesi selatan identik dengan kualitas intelektual dan menjadi kiblat pemikiran. Tradisi kader IMM kritis dengan perbuatan yang subtantif.

Halim Sani, intelektual muda muhammadiyah dalam bukunya Manifesto Gerakan Intelektual Profetik menunjukkan bahwa Trilogi IMM merupakan tujuan secara keorganisasian bukanlah merupakan dasar dari pada berorganisasi. Oleh karena itu, tidak ada lagi gerakan penguatan intelektual dalam tubuh IMM terutama di Sulawesi Selatan. Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan terdapat bidang yang bertanggung jawab persoalan keilmuan, namun sampai hari ini tidak terlihat gerakan nyata untuk meningkatan penguatan keilmuan terutama kader IMM itu sendiri.

Kader IMM di level cabang dan komisariat menanti gebrakan DPD. Sehingga kita memiliki kiblat untuk berjamaah melewati pandemi ini. Jangan biarkan MCCC berjuang sendiri. Kedepan, kita mengharapkan peran sebagai pimpinan daerah seharunya lebih pada penguatan riset dan ikut dalam membangun kesadaran ummat menjalankan protokol covid19. kemudian pimpinan cabang dan pimpinan komisariat harus berdasarkan tupoksi masing-masing agar tidak terjadi kesalahan pengambilan kewenangan serta koordinasi antara pimpinan terjalin dengan baik dan harmonis. Kami menanti terobosan yang membidangi keilmuan, mari melawan pandemi ini bersama dengan cerdas dan fastabiqul khaerat.

Penulis adalah peserta kampus gagasan Korkom IMM Unhas