Papua, Miras dan Kurangnya Pengendalian Pemerintah

Oleh: Riskawati

KHITTAH.CO – Bumi Cendrawasih (Papua) dikenal sebagai wilayah dengan potensi Sumber Daya Alam dan potensi wisata andalan tanah air. Potensi yang demikian menyebabkan banyak pendatang luar daerah berani mengadu nasib ke papua. Akibatnya, Persilangan dan percampuran budaya di tanah papua tidak dapat terhindarkan.

Meski begitu, Papua juga memiliki banyak persoalan. Satu diantaranya adalah persoalan minuman keras. Konon, dalam pandangan kebanyakan orang papua, minuman keras telah menjadi teman tidur sekaligus malaikat maut secara bersamaan. Sebagai teman tidur, orang papua lebih senang menghabiskan uang demi meneguk minuman keras. Realitas tersebut digambarkan dengan ungkapan “Orang papua yang berduit akan tidur di pinggir jalan. Sementara yang miskin akan tidur nyaman di rumah”. Sementara sebagai malaikat maut, minuman keras telah menyebabkan aksi kekerasan dan kejahatan. Maka tidak heran, angka kematian akibat minuman keras sama menakutkan dengan bahaya Covid-19. Hal tersebut juga disebabkan kurangnya kemampuan pemerintah membatasi penyebaran minuman keras di papua.

Mengonsumsi minuman keras bukan hanya berdampak pada orang yang mengonsumsi saja. akan tetapi, juga berdampak pada orang lain. Misalkan, dalam mengonsumsi alkohol yang berlebihan membuat orang tidak sadarkan diri dan kehilangan akal sehat. Sehingga dalam keadaan seperti itu orang lebih cenderung melakukan tindak pidana kejahatan, semua kejadian kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan (seks bebas), penganiayaan, pencurian, penipuan, pemerasan, teror dan seterusnya berawal dari miras. Dalam hal demikian apapun bisa terjadi terhadap orang lain misal dianiaya (dipukul), mati ditabrak oleh orang yang dalam keadaan sedang dikuasi oleh minuman keras.

Peristiwa ini berkaitan dengan kejadian yang telah menimpa seorang polisi wanita Bripka Cristin yang ditabrak hingga tewas oleh seorang Wakil Bupati Yalimo Jayapura yang diduga berada dalam penguasaan minuman keras. Ini yang kemudian harus menjadi tanggung jawab pemerintah. Miras tidak hanya berkeliaran dikalangan rakyat biasa namun juga beredar luas bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) atau pejabat negara sekalipun yang notabenenya adalah seorang teladan bagi masyarakat tetapi beberapa hal tidak sesuai dengan ekspektasi dan realita yang di harapkan.

Bila melirik sejarah Papua, terutama di kalangan orang pegunungan Papua mereka sama sekali tidak mengenal minuman keras. Tidak ada tradisi pesta miras, karena secara sederhana tidak ada bahan untuk produk alkohol. Kecuali daerah pesisir pantai Papua mereka yang lebih dahulu sudah melakukan kontak dengan orang luar Papua. Mereka sudah mengenal minuman beralkohol dari pohon kelapa ataupun aren yang disebut sagero. Kemudian faktor utama yang menyebabkan pesta miras menjadi kebiasaan dilakukan oleh orang papua karena mudahnya jual/beli produk miras di tanah papua. Hal ini tentunya menuntut pembatasan-pembatasan pemerintah untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat papua karena dampak dari miras tentunya sangat besar,kesehatan, ekonomi dan kriminalitas merupakan bagian kecil dampaknya.

Akibat seringnya pesta miras ini. angka kematian orang Papua saat ini tinggi. Sementara angka kelahiran sungguh sedikit. Hampir setiap saat orang Papua banyak yang mati karena alkohol, terutama anak-anak usia produktif. Belum lagi mati karena faktor lain. Orang Papua seakan lahir sekarang untuk mati besok. Kalau tidak lahir sekarang besok tetap mati, itulah kenyataannya. Untuk itu pemerintah tidak boleh menutup mata dalam memberantas penyebaran miras secara bebas. Karenanya marilah kita saling menjaga, baik menjaga diri maupun menjaga orang lain. Mulai sekarang belajarlah hidup sehat dan katakan tidak pada minuman keras, Indonesia cinta damai, Indonesia milik bersama.

Jauhkan diri dari minuman keras khususnya kepada para orang tua di kalangan masyarakat papua, ketahuilah bahwa generasi terbaik penerus bangsa diproduksi olehmu untuk itu jauhkan dirimu dari miras maka kau akan menghasilkan anak-anak terbaik harapan bangsa. Dari Sabang sampai Merauke kita tetaplah Indonesia (kitorang basodara).

Penulis adalah Ketua Bidang IMMawati Pikom IMM Hukum Unhas.

Advertisement