Pelajar (IPM) Bisa Apa Selama Masa Covid-19?

Ilustrasi

Oleh: Syahrul Al Farabi (Penggiat JIMM Sulsel)

KHITTAH.CO – Pelajar adalah salah satu subjek atau pelaku yang mempunyai peran penting untuk melakukan perubahan sosial. Pada masa Pandemi Covid 19, hal itu justru berdampak sebaliknya. Hampir semua unsur kehidupan, mengalami perubahan secara drastis. Termasuk kehidupan pelajar itu sendiri. Salah satu perubahan itu adalah berpindahnya ruang – ruang belajar dan beraktivitas di rumah atau ke dalam layar datar ; komputer ataupun gedget.

Pelajar, dengan demikian, hanya beraktivitas (hidup) lewat jejaring komputasi layar datar. Dalam bahasa Yasraf Amir Pilliang, sebuah Dunia Yang Dilipat ; sebuah dunia baru, ruang – ruang kehidupan baru, wilayah masa depan, wilayah fiksi ilmiah, atau dunia alien. Dunia yang dilipat adalah ruang – ruang tersebut, sebuah cerminan dari realitas sehari – hari kita sebelumnya. Kita, tanpa sadar, telah memasuki dunia itu secara perlahan.

Kalau Anda punya sekolah, sering ke warung makan, bermain atau membaca buku di perpustakaan, atau sekedar ngobrol dengan teman dekat, maka semua kehidupan itu kini berpindah atau dilipat ke dalam ruang layar datar komputer atau gedget. Kalau di rumah anda punya berderet – deret koleksi buku atau ratusan kepingan kaset/kepingan CD musik, semua itu sekarang bisa dimasukkan dalam flash disc seukuran jari kelingking. Atau mengirim surat dari kampung ke luar negeri yang butuh waktu berbulan – bulan kini bisa dilakukan dalam hitungan detik lewat email. Atau yang paling real, kajian keagamaan yang memungkinkan kita harus bertemu dan berkumpul di suatu tempat, kini bisa dilakukan dalam layar HP masing – masing sambil rebahan di rumah atau di ruang tidur. Itulah realitas yang sedang kita jalani. Sebuah realitas virtual.

Produktivitas Pemikiran Agama dan Sains

Produktivitas sering berhubungan dengan istilah ekonomi, yakni sebuah aktivitas menghasilkan barang atau jasa untuk kemudian dijual dan dikonsumsi oleh para konsumen. Untuk konteks physical distancing dalam menghadapi Covid 19 ini, saya tidak akan memberikan wejangan tentang produk apa yang cocok Anda buat selama di rumah, atau jenis makanan apa yang harusnya Anda jual via online, atau es buah macam apa yang paling segar dijajankan di jalan – jalan. Yang seperti itu, Anda cukup buka youtube dan belajar lewat sana.

Produktivitas yang akan kita bicarakan sebagai pelajar selama physical distancing berkisar pada persoalan pemikiran agama dan sains. Bagaimana seorang pelajar memanfaatkan waktunya selama dirumah atau selama Ramadhan ini agar produktif berpikir dan melakukan aktivitas analisis yang mendalam tentang sesuatu. Hari ini kita akan fokus pada pemikiran Agama dan Pemikiran Sains.

Dalam sejarah peradaban Islam terdapat dua corak pemikiran yang saling berseberangan. Pertama adalah corak pemikiran yang berlandaskan pada postulat agama dan menjelaskan segala hal dari sudut pandang teologi ataupun fikih. Kedua ialah corak pemikiran yang terbuka kepada kajian empirikal sehingga jawabannya mengalir dari bukti dan bukan atas dasar penerimaan secara dogmatik (Mengutip Asruddin Azwar yang dia kutip dari Mohamed Imran Mohamed Taib, 2020).

Dalam bahasa Al quran, yang pertama sering disebut ‘al bayan’ yang melahirkan tradisi keagamaan. Dan yang kedua disebut ‘al burhan’ yang melahirkan pendekatan ilmu pengetahuan dalam menjawab persoalan – persoalan kehidupan.

Ciri – ciri al bayan yakni menyandarkan segala persoalan manusia pada Al qur’an dan Sunnah. Secara sederhana, masih dalam bahasa Azwar, mereka yang berpandangan dengan kacamata agama meyakini bahwa tidak kuasa selain kuasa Allah SWT. Umat islam cukup mengutip Al quran dan hadis sebagai rujukan utama untuk menjawab sebuah persoalan. Mempercayai Covid 19 sebagai sebab kematian, misalnya, sama saja bahwa ada kuasa lain diluar kekuasaan Tuhan.

Sedangkan ciri al burhan, sebuah masalah harus diawali dengan ketidaktahuan. Dalam hal ini, kita diharuskan bersikap ‘tidak tahu’ yang kemudian melanjutkan dengan ‘kata tanya’ ; apa, kenapa, bagaimana? Al qur’an sendiri mengatakan hal demikina supaya manusia menggunakan akalnya dalam menjawab persoalan dunia. Wahyu dalam hal ini, mengutip Asrudin Azwar, memandu umat untuk mengkaji, menilai, menyaring, menginterpretasi dan memformulasikan jawaban berdasarkan bukti-bukti di lapangan secara detail. Demikianlah ‘sains’ bekerja. Gejala, diagnosa, obat, observasi, berpilin berputar hal seperti itu, kata Hamsah Fanshuri.

Sikap Pelajar

Kalau ada pelajar atau mungkin masyarakat yang tidak mengikuti himbauan pemerintah, ormas Islam, atau tokoh agama lain, dan tetap melakukan sholat berjamaah di masjid, bisa masuk dalam kategori al bayan. Mereka yang berpandangan seperti ini tidak akan membantu apa – apa ( malah akan membahayakan orang lain) selama masa pandemi Covid 19 ini. Pelajar yang cerdas harus tampil paling depan dalam melakukan kritik dan penyadaran terhadap sikap-sikap keagamaan seperti ini.

Sikap keagamaan atau cara agama yang mengedepankan paham mutlak pada agama dan tidak menggunakan akalnya akan cenderung bersikap brutal dan pasif dalam bersikap. Doa, bagi mereka, adalah satu – satunya senjata melawan virus. Mereka dengan ketidaktahuan (kebodohan) yang dibangga – banggakan mengajak orang lain untuk melawan Corona secara bersama – sama dengan doa di masjid. Pada hal, virus ini tak mengenal agama, tuhan, ataupun ras dan etnik apapun. Siapa saja yang tidak punya imun yang kuat, akan mati dengan penyakit ini.

Al burhan sebaliknya, adalah pelajar yang memandang covid 19 sebagai masalah epidemi yang disebabkan rekayasa genetika atau hasil-hasil percobaan biologis yang tidak bertanggungjawab. Sampai saat ini, para ilmuwan dan sainstis masih terus berusaha mencari vaksin ataupun formuli untuk melawan penyakit ini. Usaha ataupun ikhtiar yang bisa kita lakukan oleh masyarakat atau pelajar adalah sikap disiplin dalam mengikuti himbauan pemerintah, ormas (Muhamamdiyah), ataupun tokoh agama lain, untuk melakukan physical distancing, jaga jarak, beribadah ataupun beraktivitas dirumah saja, dan prosedur kesehatan lainnya.

Sains harus menjadi karakter utama dimasa – masa sekarang dan dimasa depan. Sains, secara pelan – pelan, telah hadir didepan mata kita dan hidup dengan kita. Tulisan saya tentang ‘’Perempuan, Multitasking dan Physical Distancing’’ juga menyinggung perihal Sains yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Anak – anak Ikatan Pelajar Muhammadiyah sudah seharusnya memberikan porsi yang sepadan pada perbincangan sains dan agama ini.

Sebagai penutup, semoga dimasa Covid 19 ini, kita tetap produktif dalam membaca dan mengkaji lebih jauh tentang agama dan ilmu pengetahuan. Ipm harus hadir sebagai wadah pelajar dalam menjembatani sains dan agama demi masa depan yang lebih baik.