Pembacaan Kreatif atas Teks Agama ; Aku Membaca Maka Aku Ada (Bag.1)

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

KHITTAH.co _ Walaupun  tulisan ini menggunakan kata teks “agama”, tapi untuk menghemat ruang tulisan maka penulis hanya fokus pada persoalan “pembacaan” (qira’ah) teks-teks agama Islam. Mengingat pula bahwa penulis mempunyai keterbatasan pengetahuan mengenai pembacaan kreatif teks-teks keagamaan dalam konteks agama selain Islam.

Membaca dan Teks

Apa yang dimaksud dengan membaca?. Penulis mencoba menggunakan bingkai cultural studies untuk menjawab pertanyaan tersebut. Salah satu sumbangan teori kritis adalah redefinisinya terjadap konsep membaca. Membaca kini menemukan signifikansinya dan dianggap sebagai fenomena kultural yang luas, bukan sekedar aktivitas insidental saat kita berhadapan dengan sebuah buku. Membaca adalah usaha keterlibatan secara penuh, menafsirkan serta memahami segala hal yang mengelilingi kita.

Eksistensi kita sebagai makhluk sosial sangat tergantung dari aktivitas membaca. Manusia hanya dapat memahami kehidupan dan lingkungannya dengan tidak hentinya membaca teks-teks yang disajikan oleh ruang yang menggenangi kita, oleh lingkungan historis kita, oleh proses-proses psikologis dan tentu saja , oleh kebanyakan citra yang diluncurkan oleh media, sastra dan seni.

Kalau dalam perspektif hermeneutika ontologis Martin Heidegger, manusia dicirikan dengan “kesibukan”, maka yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah  “kesibukan” oleh apa? karena apa?, manusia adalah makhluk yang “sibuk terlibat” (sorge). Salah satu aktivitas manusia yang menandakan “keterlibatnnya” adalah “membaca”. Kalau Rene Descartes terkenal dengan adigiumnya cogito ergo sum yang artinya “aku berpikir maka aku ada”, penulis barangkali bisa menciptakan adigium-adigium serupa , “aku terlibat maka aku ada”, “aku membaca maka aku terlibat” sehingga menjadi “aku membaca maka aku ada”. Tapi dengan catatan adigium-adigium tersebut tidak dianggap sebagai penggambaran realitas yang absolut.

Keterkaitan erat antara keberadaan kita di dunia ini dengan proses membaca bukanlah sesuatu yang tanpa argumen, karena keseluruhan dunia kita secara metaforik merupakan teks atau dapat diperlakukan sebagai teks. Dunia dan segala isinya bukanlah sebuah teks linier, tapi merupakan sebuah teks yang saling tumpang-tindih, silang-menyilang dan corat-marut.

Dunia juga bukan merupakan teks yang menyampaikan topik dan temanya secara transparant, di antara narasinya yang paling bagus terkadang bahkan seringkali adalah kebohongan yang menarik hati, membisu dan tetap bersikukuh menyembunyikan kebenaran. Menurut George Santanaya : “ Terdapat buku-buku dimana catatan-catatan kaki atau komentar-komentar yang ditulis secara buruk oleh beberapa tangan pembaca pada bagian tepi, yang lebih menarik daripada teksnya. Dunia adalah satu di antara buku-buku itu”.

Heidegger mencoba merangkai sebuah penanda keberadaan manusia dengan konsep In der Walt Sein yang artinya “ada dalam dunia”. Manusia tidak bisa mengambil jarak sepenuhnya dengan “dunia” dan “ada” nya. Karena keberadaan manusia adalah di dalam dunia, dan ke-dunia-an hanya bisa eksis jika manusia ada. Itulah sebabnya keberadaan manusia oleh Heidegger sebut dengan istilah da-sein yang berarti “ada di situ” atau “ada dalam kondisi yang spesifik”. Inilah yang menyebabkan dunia dan ada sebagai teks tidak bisa memperlihatkan topik dan temanya secara transparant kepada manusia karena keterlibatan (sorge) yang mesra diantara mereka.

Ada, dunia dan eksistensi manusia saling mengintrusi dan merembesi satu sama lain. Dunia dan “ada” dapat diketahui oleh da-sein (manusia) melalui aktifitas membaca, tetapi yang diketahui oleh da-sein bukanlah sesuatu yang transparant mengenai “ada” dan dunia. Aktifitas membaca dari manusia adalah suatu tindak interpretasi yang memproduksi makna mengenai “ada” dan dunia.

Saat manusia menarik makna dari “ada” dan dunia melalui pembacaannya maka secara simultan dia juga membangun makna buat dirinya. Tidak ada makna yang final, makna itu selalu tertambat pada kemungkinan-kemungkinan ke depan. Kalau kita meminjam pendapat Jacques Derrida makna atau kebenaran selalu mengelak, setiap kali anda berpretensi untuk menemukan makna yang paling benar maka makna tersebut akan selalu menghindar dari persepsi sang interpreter.

Sehingga yang bisa di temukan hanyalah jejak-jejak dari kebenaran. Manusia hanya bisa berjumpa dengan penanda-penanda kebenaran, setiap kali manusia “bercakap-cakap” dengan satu penanda kebenaran maka hanya akan menunjuk ke penanda berikutnya, begitulah seterusnya sampai kematian mengundang kita ke perjamuannya.

Untuk lebih memperjelas maksud paragraph di atas, saya teringat dengan analogi yang digunakan oleh penulis buku The Tree Of Philosphy yang bernama Stephen Palmquist. Di buku itu dia menggunakan analogi matahari yang menggambarkan realitas apa adanya, yang keberadaannya perlu agar pengetahuan menjadi mungkin. Palmquist mengatakan bahwa jika cuaca sedang cerah maka sangat sulit bagi seorang manusia menatap langsung “matahari” tersebut, justru saat berawanlah kita bisa menatapnya dan melihat bentuk geometri dari matahari. Tetapi benda-benda dipermukaan bumi akan lebih jelas jika cuaca dalam kondisi cerah.

Jika kita menghubungkannya dengan aktivitas pembacaan terhadap teks, “ada” serta dunia bisa kita andaikan “matahari” dalam analogi Palmquist di atas. Manusia tidak bisa memandang secara langsung “ada” dan dunia, tetapi “ada” dan dunia menampakkan bentuknya yang samar-samar melalui perantaraan awan atau melalui benda-benda dipermukaan bumi yang sinari oleh “ matahari”. Awan dan benda-benda dipermukaan bumi bisa kita andaikan sebagai teks. Manusia hanya bisa memandang “ada” dan dunia dengan menggunakan dan melalui teks. Sebagaimana perkataan Jacques Derrida “tiada di luar selain teks”.

Salah satu pendekatan utama terhadap (tema ) membaca adalah bahwa sebuah teks tidak memiliki peran yang otonom terhadap para pembacanya. Sangat besar peran pembaca dalam mewujudkan pesan-pesan teks yang sifatnya potensial. Tanpa kehadiran seorang pembaca dalam menafsirkan sebuah teks, teks itu tidak berarti apa-apa. Begitu pula dengan teks-teks keagamaan, seringkali kita mensubordinasi posisi manusia dibawah posisi teks-teks agama padahal tanpa kehadiran manusia sebagai audiensnya, teks-teks agama tersebut tidak berarti sama sekali, itu karena yang membaca, memeras makna dan mewujudkan pesan-pesan dari teks-teks suci agama tersebut adalah manusia.

Proses pembacaan sangat terkait dengan konteks historis dan kultural dari pembaca; alat-alat (cara dalam memahami dunia) pembacaan diaplikasikan sesuai dengan lingkungan pembacaan. Selain itu pembacaan juga sangat tergantung dengan kerangka acuan (frame of reference) di mana pembaca membidik sasarannya. Membaca adalah proses dialog atau transaksi makna antara teks-teks dengan pembacanya. Menfasirkan sebuah teks bukanlah hanya tindak eksegesis (menarik makna keluar dari teks) tetapi juga merupakan tindak eisegesis (membawa makna oleh diri ke dalam teks).

Bersambung ke Pembacaan Kreatif atas Teks Agama ; Aku Membaca Maka Aku Ada (Bag. 2)