Pemuda Gowa Buat Sekolah Budaya

KHITTAH.CO – Sekumpulan Pemuda Gowa yang tergabung dalam Lembaga Manuskrip Sindicate membuat sekolah alternatif yang fokus membahas kebudayaan di Kabupaten bersejarah tersebut. Sekolah itu diberi nama Manuskrip Kabudayaan (MaKe) yang akan berusaha mengumpulkan manuskrip-manuskrip kebudayaan yanga ada di Gowa, meski diketahui namun belum diketahui filosofinya.

Pemuda Gowa Buat Sekolah Budaya

Direktur Eksekutif Manuskrip Sindicate, Sainal A, mengatakan, sekolah ini, bisa disetarakan dengan istilah Focus Group Disccution (FGD) yang membahas tentang budaya, sebab pokok persoalan yang akan dibahas semuanya tematik Gowa, baik sejarah Gowa, simbol-simbol, kuliner, dan pappaseng-pappaseng yang beredar dari mulut ke mulut selama ini.

“Banyak diantara pemuda yang mengetahui sedikit banyaknya budaya, hanya saja tak semua mengetahui secara subtansi maupun secara usulnya. Sehingga, MaKe atau boleh dikata FGD kebudayaan ini berusaha untuk mendekati hal tersebut secara filosofis, makanya ada juga nanti materi filsafat kebudayaan,” beber sarjana pendidikan sejarah UNM ini.

Selanjutnya, kata dia, sekolah ini tidak seformal sekolah yang biasanya, melainkan menyesuaikan keinginan peserta belajar. “Waktu pertemuan pun kami bahas guna mencocokkan waktu semua peserta,” tandasnya.

Selain itu, karena kami ini ada bukti dan hasil, maka ending dari sekolah ini akan ditutup dengan launching buku “Bunga Rampai Kebudayaan Gowa” sebagai manuskrip kebudayaan yang dihasilkannya. “Selanjutnya, kami akan membuka sekolah ini di daerah lain dengan fokus materi yang berbeda pula sesuai kesepakatan peserta setempat,” terangnya.

Sementara Kepala Sekolah MaKe, Zulfikar Hafid, menegaskan, dipilihnya kata MaKe dalam sekolah ini mempunyai arti bahwa kebudayaan bukan dipahami tetapi dipakai (bahasa Makassar Make’). “Kemudian dalam bahasa Inggris, MaKe berarti berbuat. Sehingga, ini menandakan bahwa kami tengah berbuat dan siap memakai kebudayaan warisan leluhur menjadi sebuah tradisi. Tentunya setelah makna folosofis kami hadirkan dalam bentuk manuskrip yang kami sebut buku bunga rampai kebudayaan,” terangnya. (spy)