Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Muhammadiyah Mesti Pakai Strategi Sepak Bola

 

KHITTAH.CO, YOGYAKARTA – Penanganan Covid-19 mesti meminjam strategi dalam permainan Sepak Bola. Strategi terbaik adalah ‘menyerang’, karena jika bertahan saja maka lama-lama akan ‘kegolan’. Namun ketika kita mencoba “menyerang” tentu dengan formasi yang kita pahami betul.

Hal itu diungkapkan Ketua Majelis Penolong Kesengsaraan Umum (MPKU) PW Muhammadiyah Jawa Tengah, dr. H. Ibnu Naser Ar Rokhimi, S.Ag. MMR., dalam Covid Talk dengan tema “Praktik Baik Manajemen Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah”.

Selain dr. Naser, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber Ketua MPKU Jawa Timur dan dosen FK UM Surabaya, dr. Sholihul Absor, M.Kes., dan Direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta, dr.H. Ahmad Faesol, SP.Rad.,M.Kes., MMR. Sedangkan moderator Budi Santosa, Koordinator Publikasi dan Informasi MCCC PP Muhammadiyah.

Ibnu Naser mengungkapkan bahwa dalam menghadapi situasi saat ini, harus ada upaya untuk memastikan kriteria unggulan pelayanan dan SDM. Menurutnya, RSMA yang melaksanakan penanganan Covid-19 di Jawa Tengah sebagian besar bertipe C, D dan yang bertipe B hanya RS PKU Muhammadiyah Surakarta.

“Maka kita harus bisa memetakan rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bertipe B, C dan D ini yang memiliki kemandirian layanan spesialis itu yang menjadi “tim penyerang” dan menjadi gawang penyelamat keuangan rumah sakit,” katanya.

Ibnu juga mengatakan seorang direktur harus bisa eksis ke dalam, bentuknya merapikan barisan di internal. Ia menyampaikan kendala yang dihadapi pihaknya di Jawa Tengah yaitu keterbatasan jumlah ruang isolasi yang standar, minimnya sarpras di tiap-tiap rumah sakit, adanya kesenjangan regulasi, minimnya bantuan pemerintah kepada RSMA dan jaminan pembiayaan pasien dari pemerintah yang tidak jelas.

Mengakhiri paparannya, Ibnu mengatakan Covid-19 adalah momentum untuk mengasah ketangguhan soliditas manajemen. “Ini menjadi penting, para direktur bersama stake holder, BPH, Persyarikatan seia sekata menghadapi gelombang yang pelik ini dengan tentu tetap melakukan “serangan balik” yaitu kita hadirkan investasi yang bersifat kecil tapi jeli melihat peluang yang ada,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua MPKU PWM Jawa Timur Sholihul Absor, menyampaikan bahwa setiap hari hampir setiap hari penambahan kasus Covid-19 di Jawa Timur berkisar di angka 300-400 kasus. “Untuk RS Muhammadiyah dan Aisyiyah yang ditunjuk menjadi RS rujukan oleh pemerintah propinsi Jawa Timur itu ada 12 rumah sakit, saat ini pasien terkonfirmasi positif yang dirawat 302 orang,” katanya.

Berbicara tentang dampak bagi RSMA di Jawa Timur, Sholihul Absor mengatakan secara umum semua rumah sakit mengalami penurunan jumlah pasien umum yang berdampak signifikan sehingga mengganggu cash flow rumah sakit. Kemudian rumah sakit terpaksa menyediakan fasilitas tambahan untuk penanganan Covid-19.

“Untuk dampak bagi tenaga kesehatan, alhamdulillah di Jawa Timur ini tidak ada korban yang sampai meninggal dunia, namun karena ini resiko tetap ada yang terinfeksi namun tidak lebih dari 20 dan sudah sembuh,” ujarnya.

Lebih lanjut Sholihul Absor juga menyampaikan bahwa guna menghadapi situasi penanganan Covid-19 saat ini tidak ada strategi yang tepat tanpa punya kesiapan dalam menghadapinya.

“Harus ada kondisi sebelumnya yang dipunyai rumah sakit sehingga tahan terhadap guncangan kondisi seperti ini. Nomor satu, rumah sakit harus punya ketahanan finansial, yang kedua rumah sakit bisa tahan bila budaya kerja yang baik dan yang ketiga, yang penting itu leadership juga harus baik, tidak sekedar dokter tapi juga harus faham manajemen” ujarnya.

Sedangkan Ahmad Faesol mengawali paparannya dengan menyampaikan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 yang melonjak drastis.

“Tanggal 31 Juli lalu adalah puncak lonjakan kasus Covid-19 di Yogyakarta mencapai 64 orang dalam sehari, dengan total pasien terkonfirmasi 674 orang” katanya.

Berbicara dampak yang dialami oleh RSMA di Yogyakarta, Ahmad Faesol mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada tenaga kesehatan yang terpapar.

“Alhamdulillah sampai saat ini kami belum mendapatkan informasi adanya nakes konfirmasi positif. Kemudian dampak aspek psikologis luar biasa karena rasa ketakutan yang berlebihan, sehingga kami dari MPKU dan manajemen RSMA berusaha bersama-sama bagaimana caranya meningkatkan ketenangan psikologis dari pegawai kita,” katanya.

Dari aspek finansial, Ahmad Faesol menyatakan pendapatan rumah sakit praktis turun karena tingkat kunjungan pasien umum turun kurang lebih 47% sehingga berdampak pada kondisi finansial rumah sakit.

“Sementara untuk biaya operasional naik karena dengan membuat ruang isolasi khusus biayanya tidak sedikit, belum lagi operasionalnya biayanya juga tidak sedikit,” tambahnya.

Untuk menghadapi kondisi Covid-19, Ahmad Faesol mengungkapkan Business Continuity Plan yaitu dengan mempertahankan omzet, efisiensi dan menjaga cash flow.

“Efisiensi yang kami kerjakan biaya overhead kita upayakan untuk diefisienkan, kemudian biaya sumber daya insani, farmasi dan investasi sementara ditunda dulu,” ungkapnya. (Rls)