PERNIK: Catatan Pinggir atas Fatwa Haram Rokok

KHITTAH.co – Pertama, rokok dan kretek itu berbeda. Selama ini keduanya dianggap sama, yaitu rokok. Sejarahnya, kretek ditemukan oleh Haji Djamhari. Ia mencampur gulungan tembakaunya dengan cengkeh. Saat membakar dan menghisapnya, terdengar bunyi letupan ‘tek kretek tek’ yang berasal dari cengkeh yang terbakar di dalamnya. Rokok hanya berbahan dasar tembakau tanpa campuran apapun.

Dalam perkembangannya, kretek tidak hanya campuran tembakau-cengkeh, juga ada sausnya yang berasal dari sari buah-buahan. Sehingga menimbulkan aroma dan rasa yang khas. Dari situ, kretek menjadi budaya negara kita. Kretek sejak masa kerajaan sudah dikenal dan lebih banyak digunakan penduduk pribumi hingga ke pedalaman pegunungan.

Catatan Pinggir atas Fatwa Haram Rokok
Anti Rokok, Sumber Foto: ariekris.files.wordpress.com

Kedua, Selama ini, dalil kesehatan menjadi alasan bagi argumen untuk mendiskriminasikan kretek/rokok maupun tembakau. Argumen seperti itu sangat diskriminatif serta tidak adil dalam kaidah keilmiahan. Sejarahnya, tembakau sudah ada dan dikonsumsi penduduk dunia sejak ribuan tahun lalu. Di Indonesia, kretek awalnya dipercaya sebagai obat penyembuh asma – karena kandungan cengkeh dan saus buah itu – dan dijual di apotek-apotek. Banyak orang, terutama yang usia lanjut, telah membuktikan kalau menghisap tembakau sama sekali tidak berpengaruh bagi kesehatan mereka.

Mereka bahkan bisa mencapai usia 70 hingga 80 meski setiap hari menghisap tembakau. Anda bisa temukan buktinya di buku Mereka yang Melampaui Waktu: Konsep Panjang Umur, Bahagia, Sehat, dan Tetap Produktif, penulisnya Sigit Budhi Setiawan. Buku itu merupakan dokumentasi orang-orang yang panjang umur meski menghisap tembakau. Bahkan fakta terbaru, di Amerika, sebuah lembaga penelitian menemukan bahwa tembakau bisa menjadi penangkal virus ebola.

Ketiga, berkembangnya kretek jadi industri besar seperti sekarang memberi manfaat ekonomi kepada jutaan penduduk Indonesia. Industri ini banyak menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir, yakni petani tembakau, buruh rajang (yang bertugas mengiris-iris tembakau), buruh angkut, buruh linting di pabrik-pabrik, hingga pedagang asongan.

Data International Labour Organization (ILO): industri rokok/kretek Indonesia mampu menyerap sekisar 1,3 juta orang bekerja di ladang-ladang tembakau; 1,5 juta orang di ladang cengkeh; dan 10 juta orang terlibat langsung dalam industri. Jumlah ini mencapai 30 persen dari jumlah tenaga kerja sektor formal, dan 10 persen dari tenaga kerja Indonesia secara keseluruhan. Jumlah keseluruhan 30,5 juta orang mendapat manfaat dari tembakau, baik langsung maupun tidak langsung.

Jadi, Muhammadiyah sebaiknya tetap menimbang aspek budaya dan sosial-ekonomi kretek, serta kritis terhadap dalil kesehatan yang selama ini dikampanyekan organisasi anti-tembakau (antirokok).
Accang Santiago, Koordinator Komunitas Kretek Makassar.