Pesan Haedar Nashir dalam Syawalan Muhammadiyah Sulsel

KHITTAH.co, Makassar- Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir memberikan hikmah Syawalan dalam acara Silaturahim Keluarga Besar Muhammadiyah Sulsel, Senin, 16 Oktober 2022, di Balai Sidang Muktamar Muhammadiyah Kampus Unismuh Makassar.

Menurut Haedar, dari sekian banyak hikmah, ada lima nilai dari hikmah silaturahim di Idulfitri yang mesti ia uraikan.

Pertama, nilai ukhuwah organisasi yang utama. Menurut Haedar, silaturahim yang bersifat personal akan dengan mudah untuk terus dibina.

Jika hubungan personal ini merenggang, bisa untuk segera dibina atau sambung kembali. “Tetapi yang sering tidak mudah dan butuh perjuangan terus-menerus adalah membangun ukhuwah jam’iyyah kita,” ungkap Guru Besar UMY ini.

Di satu pihak, lanjut Haedar, hubungan itu harus selalu semakin baik, tetapi di pihak lain juga ada masalah (musykilah) yang menuntut untuk harus selalu mencari solusi dan penyelesaian yang juga maslahah.

Usaha menyambung silaturahim organisasi ini harus selalu diperjuangkan. Hal ini karena hadis Rasulullah yang menegaskan bahwa silaturahim sejati bukan menghubungkan persaudaraan yang sudah tersambung baik, melainkan menyambung yang putus.

“Itulah silaturhim yang hakiki. Kenapa hakiki? karena kita harus bisa mengeleminasi ego-ego kita, baik personal, lebih-lebih yang terkait banyak orang, yang terkadang itu tidak mudah untuk kita rajut kembali di saat sudah retak dan putus,” kata Haedar.

Merekat silaturahim yang bersifat ijtimaiyyah (keorganisasian) dan yang bersifat jam’iyyah atau yang berkaitan dengan orang banyak itu memerlukan kesabaran dam kesungguhan karena silaturahimnya melibatkan orang banyak.

“Inilah yang harus kita hidupkan, bagaimana kita bisa silaturahmi semakin baik hubungan kita, wilayah, daerah, cabang, dan ranting, kemudian juga hubungan antarpersonal kita dalam konteks sistem,” ungkap Haedar.

Haedar mengingatkan, seringkali penyebab masalah adalah persepsi yang sebenarnya bisa diubah bersama tetapi dibuat tidak mudah.

“Karena persepsinya tetap diawetkan untuk menjadi persepsi sendiri-sendiri. Misalnya masa Covid-19, ada warga dan tokoh yang menolak Tarjih karena keyakinan tertentu. Nah, mengubah persepsi seperti ini yang tidak mudah, padahal demi kepentingan orang banyak,” kata Haedar.

Di saat inilah, kita harus mengingat hadis Rasulullah, jika kita ingin merekat hubungan yang terputsu karena masalah-maslaah, kuncinya ada di jiwa dan ruhani yang rif’ah.

“Rif’ah itu rohani tingkat tinggi. Kata Nabi carilah rif’ah. Cirinya tiga, menyambung hubungan yang terputus, baik antarego yang pasti masing-masing punya ego. Kata Rumi kan, ibu dari semua masalah,” kata Haedar.

Ciri rif’ah kedua, kata Nabi, jika ada sesuatu yang diharamkan, dalam arti orang tidak boleh menjamahnya atau mengambilnya lalu dijadikan halal atau dibolehkan.

“Hal yang tadinya tidak boleh diambil lalu kita jadikan boleh, benar, dan jadikan baik. Itu yang tidak gampang apalagi kalau barang itu sangat berharga,” jelas Prof Haedar.

Cir rif’ah ketiga adalah lemah lembut. Lanjut Haedar, ciri itu yakni bermaklum pada orang yang berbuat kasar, buruk, jelek, dan nista kepada kita.

“Karena memang ada yang merasa berhak untuk marah ke kita. Marah menjadi karakter mereka, merasa tidak menjadi dirinya, jika tidak marah. Mengubah untuk itu menjadi rif’ah, itu yang tidak gampang,” kata Haedar.

Prof Haedar juga menegaskan, nilai-nilai ihsan ini harus dihidupkan dalam kehidupan Muhammadiyah . Seringkali, lanjut Haedar, kerikil-kerikil itu kecil saja, tapi membuat kita jatuh.

“Misalya, hubungan amal usaha dengan PWM, PDM, dengan PCM, coba cari solusi. Sara’nya, saling belajar untuk memberi, jangan menuntut. Itu intinya kita silaturahim,” tutup Haedar.

(Fikar)