Pesona Sastra Indonesia : Dekonstruksi Imaji Kesadaran Pemuda (Bagian 2)

images-15

Oleh : Barnadi Zakaria

Ihwal demikian pelak dan pasti meruang pada etape perjalanan sejarah berbangsa.  Bayang-bayang bangsa terjajah terepresentasi sebagaimana ditengarai oleh Homy Bhaba, orang-orang bekas jajahan tetap dikuasai oleh sindrom mimicry.

Keinginan meniru-niru Barat, Penjajahan teritorial. Penjajahan dalam bentuk lain yang berlaku, seperti penjajahan politik, ekonomi, dan, dalam konteks bahasa serta kebudayaan, penjajahan mental.

Juga, sebagaimana yang ditengarai oleh Frantz Fanon dalam Black Skin White Mask, untuk menutupi fakta bahwa kulit orang-orang hitam memang hitam (black skin), mereka berlagak seperti orang-orang kulit putih (white mask), sebagaimana yang tampak dalam novel-novel Chinua Achebe, sastrawan Afrika asal Nigeria. Penjajahan mental, dengan demikian, tetap berlaku.

Penulis menganggap bahwa wajah sastra Indonesia di tengah badai postmodernitas berhadap-hadapan dengan representasi kolonisasi Barat dalam bingkai kebudayaan di satu sisi, dan pada sisi lain berjubel budaya konsumerisme.

Hal yang sama diintroduksi oleh Edward Said yang mengatakan bahwa Barat akan selalu menancapkan dominasinya terhadap bangsa-bangsa lain dalam bentuk penjajahan teritorial atau penjajahan mental, termasuk di dalamnya bahasa.


Belum cukup di situ, wajah kebangsaan kita tercederai dengan maraknya tindakan anarkisme yang dilakukan oleh kaum muda. Pelajar terlibat tawuran dan NAFSA. Kampus bising oleh konflik sesama mahasiswa. Wajah kemahasiswaan pun terpecah, terberai, dan terburai. Menggeliat tak punya wajah yang orisinil dan otonom.

Di negeri kita, eksistensi kemahasiswaan disorot dengan streotipe yang compang-camping, ”intelektual yang gagap”, mahasiswa yang dulu dieja menjadi indung peradaban berbangsa, meretas arah dan cita-cita, kini mulai berkelahi dan berperang. Mereka berkelahi dengan pedang, busur, panah, bahkan mesiu.

Sementara pedang, busur, panah, dan mesiu yang mereka gunakan untuk melukai, merusak, membakar sesama, entahkah mahasiswa, polisi, aparat pemerintah, dan masyarakat. Kita tidak lagi berkelahi dan berperang dengan menggunakan pedang gagasan, busur cita-cita, dan bahkan mesiu ide. Yang kita lawan bukan lagi untuk sebuah cara berpikir baru dan paradigma baru, tetapi justru untuk sesuatu yang sentimentil, dan tidak pula untuk wacana yang memerdekakan.

Sungguh wajah kemahasiswaan kita telah dilumuri oleh bayang-bayang paradoks, kerikil tajam kemanusiaan, dan wirid pragmatisme. Seraya kita bersedu sedan akan wajah yang penuh bopeng itu,  mari kita sejenak mengenang kembali pada sosok Soe Hok Gie dalam mimpi-mimpi terakhirnya:


Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, sekiranya ia mengambil putusan yang mempunyai arti politis (walau bagaimana kecilnya), selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, golongan


Sisi lain, kemarahan, kebencian, banalitas, pragmatisme, dan anarkisme yang membiak adalah aransemen dari ketidakberdayaan dan kelumpuhan sistem pendidikan dan politik kita.

Pendidikan kita hanya mampu mencipta agitasi-agitasi, manusia-manusia yang senang meniru, bukan manusia yang berpikir dan bertindak besar. Pendidikan yang bergerak linier dan hampa spritualitas. Sistem politik kita pun tidak lagi menjadi hunian kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan tereduksi menjadi investasi kekuasaan.

Sebuah imperium yang tidak menyemai narasi pembelaan dan kesetiakawanan, melainkan lebih kepada mutasi kekuasaan lama menjadi baju kekuasaan baru. Betapa sistem pendidikan dan politik kita kering kemanusiaan dan gersang kebudayaan. Kebudayaan timur yang menyerupai westerland (kebudayaan barat).

Seperti yang sudah diramalkan oleh T.S, Elliot bahwa kebudayaan kita menjadi ”The Hollow Men”, gagah tapi kosong. Secara material, semakin banyak sekolah dan perguruan tinggi, sistem politik kita pun sudah semakin menganut leksem demokrasi kebarat-baratan, tetapi tidak sedikitpun perubahan yang dapat kita maknai, kita rengkuh, dan untuk kita pestakan.

Pesta demokrasi pun menjadi ajang musuh-musuhan, bentrok-bentrokan, bahkan perang dengan yang lain. Bukan pesta untuk kita saling merangkul,  berbagi kisah, berjabat penuh mesra, dan untuk saling mengingatkan. Kita pun menjadi ”The Lost Generation”, generasi yang hilang yang sindrom miimikri, seperti yang disinyalir Homi Bhaba.

Jika demikian adanya, pemuda sebagai pelapis peradaban bangsa berada pada tepian mana?. Zaman telah berubah menghadirkan tantangan melintang yang sudah berbeda pula. Eksistensi pemuda patutlah ditata-bangun senafas dengan ruh zaman (zeitgeis) yang tengah bergerak massif, secara rigid.  

Peran pemuda perlu dibongkar ulang agar tetap peka terhadap realitas yang melingkupi eksistensinya. Dekontruksi (meminjam Istilah Derrida) imaji kesadaran pemuda tentu harus bergerak pada spektrum bahasa dan karya sastra yang dihayati atau dicipta oleh kaum muda, entah sebagai pengarang atau pembaca.

Posisi ini mengandaikan bahwa bahasa dan sastra Nusantara telah berhasil membayangkan sebuah komunitas bangsa, menyulut kesamaan nasib, persamaan, dan cita-cita akan pentingnya melakukan keluar dari kerangkeng penjajahan demi terciptanya tatanan kebangsaan yang berdaulat.

Sastra di cacah menjadi taktik pergerakan.
Pembongkaran terhadap imaji kesadaran pemuda menjadi keniscayaan, untuk kemudian memosisikan momen historis mengandung sebuah tanggung jawab masa depan. Dengan sebuah ikhtiar signifikan dan sistemik, maka proses transliterasi kebudayaan dalam menata peradaban melalui kekuatan makna reflektif yang dimiliki oleh sastra, menjadi sesuatu yang mungkin. Sebagai tanggung jawab kontemporer, sastra Indonesia, harus meretas moda informasi yang memadai tentang perkembangan zaman dalam berbagai konteks.

Bersambung ke bagian 3…..

*Penulis adalah pengurus harian di PD Muhammadiyah Takalar