Pluralisme di Hadapan Mayoritas

13882518_1623752314621951_8439822298199069079_n_editOleh : Muh. Farid Afandi Syam*

Pluralisme adalah pemahaman yang mencoba memberi dan membenahi arti sebuah perbedaan, dewasa ini banyak metode ilmu pengetahuan, yang hadir kemudian, untuk memberikan kepuasan akan hasrat pencarian manusia moderen akan kebenaran, kebaikan dan keindagan. Banyak hal yang di wacanakan oleh manusia moderen, salah satunya adalah wacana soal agama dan pertanyaan “apa esensi dari sebuah realita keagamaan ? “. Maka lahirlah sebuah pemahaman filsafati akan agama, yang mengkaji agama secara mendalam dan tentunya rasional, yang kemudian melahirkan beberapa rentetan metode lain, yang dalam kesederhanaan tulisan ini saya sebut sebagai pluralisme agama.

Di dalam studi fisafat yang menjadi induk dari pandangan pluralisme agama, manusia di gambarkan sebagai “manusia yang ragu akan agama”, mempertanyakan kebenaran dari sebuah agama dari sekian banyak agama yang mengajari manusia akan hidup dan kehidupan. Semua agama menawarkan kebenaran yang relatif berbeda secara hermeneutis, namun secara maknawiah sebenarnya sama yaitu mengajak manusia untuk bertuhan. Mungkin para pembaca yang budiman telah medefinisikan serta menyangka pluralisme agama adalah paham yang berintensi untuk menyatukan agama-agama (sinkretisme), dan saya rasa di titik itulah pluralisme harus dengan terpaksa menjelaskan dirinya sendiri.

Saya ingin memberikan analogi dan saya teringat dengan sebuah argumen fisika yang mengatakan “sabuah wilayah yang memiliki perbedan ketinggian (kontur), menyebabkan realitas waktu itu menjadi berbeda disetiap ketingianya”, apakah ketinggian 1000 mdpl di sulawesi?? itu sama dengan ketinggian 1000 mdpl di pulau jawa?? dari argumen dan pertanyaan di atas saya ingin mengajak pembaca yang budiman. untuk, memahami pluralisme agama dengan perumpaan diatas.

Pluralisme agama di tengah peradaban manusia, telah menjadi gaya hidup, keniscayaan sosiologis dan kosmik simbol dari sebuah negara. salah satunya Indonesia. Di Indonesia bukan hanya agama yang plural namun juga adat istiadat, bahasa, dan suku. Namun pluralitas agama menjadi problematika tersendiri untuk bangsa Indonesia, di sebabkan adanya perbedaan serta pembedaan antara agama mayoritas dan minoritas. Kategorisasi agama mayoritas dan minoritas telah menjadi aksioma dan pola sikap dalam kehidupan sosial-kegaamaan di bangsa ini. Mayoritas agama penduduk indonesia adalah islam. yang memiliki catatan sejarah panjang dan dipertajam dengan tata kehidupan.

Sekedar penggambaran umum, mayoritas islam scara persebaran wilayah itu menghuni daratan panjang atau tanah datar dalam istilah geologis, dan nonislam pada umumnya menghuni wilayah pegunungan.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan, apa jadinya jika pluralisme yang merupakan studi keberagaman itu di perhadapkan dengan mayoritas (ISLAM)??? Maka sebuah pertanyaan sederhana muncul dari kehidupan mayoritas (ISLAM), apakah yang setara itu berarti sama ?? dari bentuk ukuran?? dan juga pengetahuan??? pertanyaan yang juga di jawab dengab pertanyaan, yang merupakan realitas. Sebagaimana dalam pandangan islam memaknai pluralisme dapat di lihat dalam Qur’an Surah An-Nahal ayat 93, Al-Maidah ayat 48, Al-Baqarah ayat 148, dan Al-hujuurat ayat 13. saya rasa ini sudah cukup jelas untuk menjawab pertanya pertanya akan apa itu pluralisme menurut islam.

Pluralisme merupakan upaya baru dalam sebuah studi, untuk menghimpun keragaman agar kiranya dapat hidup harmonis dalam kesenadaan walaupun berbeda. Indonesia merupakan negara yang memiliki keistimewaan sebab Indonesia negara yang pluralistis dari segi kehudupan budaya bahasa suku dan juga agama. namun…

Baru-baru ini Indonesia kembali berduka, akibat hadirnya sebuah gerakan intoleransi yang berujung pada tindakan membabi-buta. Membakar rumah ibadah agama lain atas nama agama, seolah telah menyelesaikan masalah dan mempertegas bahwa hanya dialah yang lanyak untuk di hargai. Berceritra akan agama khususnya di Indonesia, maka hanya ada 2 kategori yang dikenal khalayak yaitu mayoritas dan minoritas, yang merupakan bahasa bagi kaum awwam, kaum yang tidak mengenali apa itu dimensi eksistensial dari setiap keyakinan agama.

kasus-kasus demikian sudah menjadi catatan hitam di negeri yang plural ini. mungkin kita bertanya-tanya akan apa motifnya, dan jawaban yang kita terima. itu cenderung spekulatif, itu di mungkinkan dan di sebabkan karena yang memberi pernyataan akan jawaban, merupakan kaum mayoritas yang mungkin miskin bacaan dan merasa seola-olah sangat bijaksana namun bermental pembajak.

Terlepas dari dogma agama, saya melihat sebuah realtas 98 dan muara angke. “itu terpupuk subur”. Di tengah tengah pluralitas akan wajah bangsa ini, ada sebuah masalah sosial yang kronis. yang dibalut dalam bentuk agama, ibarat pepaya yang di beri krim coklat yang membuat orang berargumen bahwa itu adalah 100 persen coklat, dan ada juga yang berargumen itu 100 persen pepaya. bagiku tidaklah salah argumen argumen itu, yang salah itu ketika kita mengatakan bahwa itu adalah coklat yang mengambil cita rasa pepaya.

Akhir catatan saya mengutip pesan Bug Karno ”Kepada singga sana hati nuranilah orang itu percaya”.

* Penulis adalah penggiat literasi di Kota Makassar