Politik dalam Poster

                                                       Sumber : Internet

Oleh: A. Hendra Dimansa*

 

Pada suatu sore di Dusun yang damai, berjalan sekelompok anak yang pulang dari mengaji bercerita ria dan sampailah mereka pada sebuah pohon besar yang lebat serta dipenuhi beragam poster mulai dari kredit “butuh dana cepat”, rental mobil hingga poster sepotong manusia ukuran foto yang menghiasi pohon besar tersebut.

Lalu, salah seorang dari sekelompok anak tersebut bertanya, “siapakah orang yang paling banyak sahabatnya di Dusun ini ?” sebagian dari sekelompok anak tersebut terdiam. Si Cunding lalu menyahut, “pastilah Si Upe janda pemilik warung Si Bahenol yang ramai dan terkenal, sehingga bukan hanya warga biasa sahabatnya di Dusun ini melainkan banyak pengawas proyek yang sering mangkal”. Jawaban yang diberikan Si Cunding begitu cepat di amini oleh yang lain, “aduh, kalian ini dari pagi sampai sore belajar terus, tapi otaknya tak encer-encer”, celotehnya.

Anak-anak yang lain begitu kompak menyahut, “lalu, siapa dong kalau bukan Si Upe Janda pemilik warung Si Bahenol ? masa kamu”, dengan menunjuk ke salah satu poster yang tertempel di pohon besar tersebut dijawabnya, “tuh, orang yang berada di poster dengan bertuliskan sahabat semua kalangan”. Dengan penuh keherangan serentak menjawab “siapa dia ?”.

Keberadaan poster yang menyelimuti dan menghiasi jalan-jalan menjadi sebuah pemandangan tersendiri, apalagi poster-poster yang beredar tersebut adalah poster bakal calon bupati sampai bupati ataupun bukan bupati yang hendak menjadi bakal calon gubernur. Kemunculan tokoh-tokoh politik yang terpublikasi melalui media poster dan baliho yang terpampang dibeberapa sudut, seolah menjadi pengganti ketidakhadiran fisik.

Melalui poster dan baliho, para politisi dengan begitu setia mengumbar senyum dan gestur bersahabat yang setia, walau terik matahari dan hujan deras mengguyur. Perjuangannya untuk senantiasa berada ditengah-tengah rakyat dipenuhi dengan begitu ikhlas, dalam rupa poster dan baliho yang membisu.

Kehadiran poster dan baliho yang menghiasi pertarungan demokrasi , tentu bukan sebuah peristiwa kebetulan melainkan menjadi sebuah petanda akan adanya budaya baru dalam tradisi berpolitik masa kini. Secara simbolik dapat dipahami bahwa kehadiran suatu poster dan baliho calon tertentu menandakan adanya simpatisannya di daerah tersebut. Sekaligus menjadi ajang untuk memperkenalkan dirinya, tentu apabila masyarakat kampung-kampung menyaksikan hal tersebut merasakan adanya suatu perubahan dalam kontekstasi politik.

Mengingat dalam budaya yang masih melekat dan memenuhi memori masyarakat yang berada di kampung, bahwa apabila ada calon pemimpin yang hendak maju biasanya menurut tradisi mendatangi ketua adat/kampung. Kemudian masyarakat berkumpul mendengarkan nasihat dan pertimbangan dari tokoh-tokoh adat/kampung, hingga menemukan kata mufakat apakah seseorang itu layak atau tidak . Namun, tradisi yang demikian telah berganti dan kalaupun ada yang dimintai nasihat dan pertimbangan mungkin hanya dari kalangan politisi dan parpol singkatnya masyarakat si pemilik kedaulatan hanya diharapkan memberikan penanda dukungan berupa tusukan pada gambar calon tertentu bila memakai paku maupun memberikan contrengan kala memakai pulpen. Sehingga demokrasi yang sepatutnya memberikan pandangan dan pendapat menjadi sebuah aktivitas keluar masuk bilik suara, tanpa merasakan dan menyuarakan apa keinginan rakyat, hingga tibalah saatnya calon tertentu menang dan menjadi pemimpin maka rakyat tak pernah menuai apa yang menjadi kehendaknya. Sebaliknya politisi yang terpilih ribut-ribut berebut proyek untuk uang kembali modal segaligus menguatkan posisi.

Kejadian semacam ini mungkin dapat dikategorikan sebagai sebuah keajaiban dunia, sebab hanya pada musim kampanyelah seorang politisi mampu memiliki sahabat, teman dan keluarga dihampir semua lini hingga kelingkup pemerintahan paling sempit pun yakni RT. Mungkin inilah satu-satunya momentum bersejarah yang bisa membuat seseorang begitu ikhlas dan tulus mengakui akan akar-akar DNA manusia yang bersumbur dari Adam dan Hawa hingga sampai pada satu titik yakni KITA KELUARGA.

Tak banyak momentum yang bisa membuat seperti ini dan selayaknya museum rekor muri Indonesia memberikan penghargaan kepada para politisi yang mampu mengumpulkan sahabat, teman dan keluarga dalam kurun waktu tertentu dengan hanya bermodalkan mengumbarkan janji dan menumbuhkan harapan dalam dada mereka.

 

*) Penulis adalah pengurus Profetik Institute dan ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Filsafat dan Ushuluddin UINAM.