Prof, Saatnya Berdayakan Pembangunan yang dimulai Pak Kiyai

ADVERTISEMENT

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Rektor Unismuh Makassar Periode 2020-2024, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag.

Betul, tidak ada angin tidak ada hujan. Tiada kedengaran desas-desus ataupun kasak ke sana kusuk ke sini. Serba hening dengan iringan bulan purnama dan bintang-bintang gemerlap memberi sinar menerangi persada bumi. Membaca undangan yang tersebar di beberapa media sosial, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., akan dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar periode 2020-2024. Pelantikan dijadwalkan diadakan pada pagi hari ini, Senin, 10 Agustus 2020 di Kampus Unismuh Tala’salapang, Makassar.

Karena selebaran postingan undangan yang beredar, sedikit “agak kabur”, kurang begitu terang, sehingga saya sempat memperjelas kedudukan undangan tersebut. Beberapa teman selaku informan yang layak dipercaya di berbagai wilayah, mulai dari Makassar hingga Yogyakarta, saya tanyakan terkait validitas informasi ini. Semua mengatakan valid. Bagi saya, jawaban tersebut, sudah cukup. Saya tak menanyakan hal lain lagi. Tak perlu dipersoalkan lagi; mengapa, ada apa, kenapa bisa, apa ini melanggar AD atau ART Muhammadiyah, dan seterusnya. Tak relevan lagi.

Saya meyakini seyakin-yakinnya bahwa penetapan Prof. Ambo adalah langkah yang paling tepat yang dilakukan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Saya tidak tahu dan tidak perlu tahu apa dan bagaimana prosesnya. Itu sudahlah. Karena Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah mengambil keputusan, tinggal kita laksanakan. Jangan habiskan waktu membicarakannya hal-hal yang menguras energi. Filosofinya sebuah keputusan dalam organisasi Muhammadiyah adalah untuk dilaksanakan, bukan untuk diperdebatkan. K.H. Ahmad Dahlan tak pernah mewariskan tata cara berdebat kepada kadernya. Yang ada adalah tata cara berbuat, beramal, dan bekerja, dengan motto yang sangat terkenal. Sedikit bicara banyak bekerja. Bahkan kita di Persyarikatan Muhammadiyah, sudah terkenal dengan istilah; sami’na wa atho’na. Dengar dan laksanakan. Berbeda di tempat lain: dengar dan bantah, debat, lawan.

Kepemimpinan Kakanda Prof. H. Abdurrahman Rahim selama empat tahun memimpin Unismuh, sangatlah memiliki arti yang begitu luas dan membumi. Perkembangan Unismuh semakin pesat dan membanggakan. Manajemen kepemimpinan dan jaringan yang luas, menjadi pembeda yang membuat amal usaha terbesar Muhammadiyah di Kawasan Timur Indonesia ini, semakin nyata dalam mengemban misi dakwah dan mencerahkan umat. Gebrakan beliau dalam memimpin Unismuh, begitu terang, begitu nyata. Amat memberi manfaat yang besar. Bukan hanya bagi sivitas akademika, juga kepada warga Muhammadiyah secara khusus pun masyarakat luas pada umumnya.

Di samping berbagai kemajuan yang diperoleh dalam bidang akademik selama kepemimpinannya, paling tidak saya ingin mencatat tiga hal prestasi yang dicapai Prof. Rahman.

Pertama, pembangunan Masjid Unismuh. Dalam tempo kurang lebih satu tahun, Unismuh telah memiliki masjid yang super megah. Saya belum pernah masuk dan salat di masjid ini, karena terlanjur berangkat ke Australia. Namun dari informasi dan berita yang saya baca, masjid ini, sangat cantik pun menawan hati. Tidak banyak universitas di Makassar yang bisa membangun masjid megah dalam tempo yang relatif singkat.

Bahkan, Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. Nurdin Abdullah, secara berseloroh sempat mengatakan: “Jika mau membangun masjid, contohlah Unismuh. Tiba-tiba sudah selesai”, katanya sebagaimana pernah dimuat dalam media online sesaat setelah peresmian masjid tersebut. Masjid di almamater saya dulu, Universitas Hasanuddin, butuh waktu belasan tahun untuk menyelesaikannya. Bahkan, almarhum B.J. Habibie, harus turun tangan ikut membantunya.

Kedua, penyelesaian pembangunan gedung pendidikan dan latihan Unismuh di kawasan Patalassang Kabupaten Gowa. Gedung ini sudah berfungsi dengan baik dan dimanfaat untuk berbagai kepentingan. Bukan hanya bagi warga Unismuh, tetapi warga setempat juga turut menggunakannya. Adik-adik Angkatan Muda Muhammadiyah telah berulang-ulang mengadakan acara perkaderan, forum permusyawaratan dan lain-lain di tempat ini.

Bahkan saya pernah melihat teman-teman dosen warga Muhammadiyah yang mengajar di UIN Alauddin Makassar, menggunakan acara ini untuk melaksanakan kegiatan Baitul Arqam atau semacam penyegaran pikiran dalam ber-Muhammadiyah.

Ketiga, adalah, ini pun sangat menyentak alam pikiran saya. Peternakan ayam kampung, masih di kawasan Patalassang Kab. Gowa. Tampaknya ini adalah gerakan pertama yang dilakukan oleh sebuah universitas, membuat peternakan ayam kampung.

Ketika beberapa rektor di tempat lain baru sebatas wacana, akan begini dan akan begitu, Prof. Rahman bersama dengan stafnya yang sangat energik, sudah panen ribuan ayam kampung. Mengapa harus ayam kampung?

Ternyata ini dijadikan sebagai bagian dari hadiah lebaran bagi sivitas akademik Unismuh. Saat lebaran yang lalu, semua keluarga besar Unismuh mendapat dua ekor ayam kampung. Dalam momen lebaran, kita di Sulawesi Selatan, tidak ada satu keluarga pun yang tidak mau ayam kampung. Salah satu belanjaan ibu-ibu jelang lebaran, adalah ayam kampung. Pada saat itu, harga ayam kampung biasanya akan melonjak tajam.

Masih banyak lagi kesuksesan beliau dalam memimpin Unismuh selama empat tahun ini, termasuk pula dalam bidang akademik. Tentu tidak mungkin semua akan dikemukakan di sini, termasuk upayanya membangun dan merealisasikan kerjasama dengan Pemda Wajo dibawah kepemimpinan Bang Dr. H. Amran Mahmud.

Itulah sebabnya, saya melihat di beberapa media sosial, banyak ucapan selebaran berupa ucapan terimakasih atas kepemimpinan beliau. Saya juga yakin dan percaya, sebagai kader tulen Muhammadiyah, meskipun tidak lagi menjabat sebagai rektor, masih akan terus membantu dan ikut serta dalam membangun Unismuh dalam mengemban misi dakwah Muhammadiyah melalui jalur perguruan tinggi di masa-masa yang akan datang.

Adapun terhadap Prof. Ambo Asse, bagi saya, hampir tidak ada keraguan dalam kepemimpinannya. Saya sudah mengenal beliau sejak tiga puluh tahun lalu, baik di Persyarikatan Muhammadiyah maupun sebagai kolega saya sesama abdi negara di UIN Alauddin Makassar. Dua tahun lalu, Oktober 2008, kami sempat bersama melakukan kunjungan ke Bangkok Thailan, untuk melaksanakan perjalanan akademik.

Lima tahun lalu, beliau sempat datang menjenguk saya di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) Bangi, Kuala Lumpur, sesaat setelah saya ujian disertasi. Awal tahun 2000-an, saya pernah menemani beliau melanglang buana menjelajahi pelosok Sulawesi Selatan mengurus perguruan dasar dan menengah Muhammadiyah.

Pengalaman beliau yang bermula dari sekretaris jurusan hingga menjabat dekan dua kali di fakultas yang berbeda, akan menjadi modal penting baginya dalam memimpin Unismuh lima tahun ke depan. Bagi saya, seperti kata pepatah: jangan mengajari jeruk berduri, jangan mengajari ranting pohon menari. Beliau adalah sangat memahami dinamika sebuah perguruan tinggi, cakap dalam menyelesaikan masalah dan terdepan dalam mengemban misi dakwah.

Satu saja hal yang, mohon maafkan saya Prof, izinkan mengutarakan sedikit “kegelisahan” beberapa teman mantan aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah. Kalau boleh memberikan wacana adalah tentang gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Tamalanrea.

Ada persamaan kedudukan beliau dengan Ustadz K.H. Djamaluddin Amien (almarhum). Ketika awal tahun 1990-an, pembangunan gedung yang merupakan tanah wakaf Mr. H. Mustamin Dg. Matutu, S.H. (alm) ini, Pak Kiyai masih menjabat sebagai Rektor Unismuh dan sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Hingga pertengahan tahun 2000-an, Pak Kiyai menjadi Ketua BPH Unismuh sekaligus sebagai ketua pembangunan gedung tersebut. Ada sinergi antara kedudukan Pak Kiyai di Unismuh dengan pembangunan gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah ini. Pembangunan gedung atau ruangan di Unismuh berjalan, pembangunan gedung dakwah turut berjalan.

Saat ini, secara fisik pembangunan gedung tersebut sudah selesai. Kita semua senang dan turut bersyukur. Sekarang Prof. Ambo sebagai Rektor Unismuh sekaligus menjabat sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, tinggal meningkatkan kualitas dan pemberdayaan-pemanfaatan gedung yang sangat fenomenal ini. Melanjutkan cita-cita orang-orang yang telah mendahului kita. Melaksanakan dan menjaga amanah pemberi tanah wakaf. Mengirimkan amal jariah kepadanya atas tanah yang dipercayakan kepada Persyarikatan Muhammadiyah.

Mengutip harapan seorang sahabat saya, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang sekarang menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Dr. H. M. Imran Hanafi, M.A., M.Ec., : menjadikan gedung ini sebagai Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dalam arti yang sebenarnya. Walla’alam.

Wassalam
Keiraville, 10 Agustus 2020, ba’da Subuh
Penulis adalah mantan staf Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan tahun 1990-2010 / saat ini sedang bermukim di Wollongong, NSW, Australia.