Puisi Sebagai Konstruksi Pembangun Jiwa dan Akar Sejarahnya

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah

KHITTAH.CO – Sastra sebagai ilmu seni atau estetik, menempati bahasa sebagai media atau sarana dalam keber-ada-annya. Mendewakan media (sarana seni) sebagai tujuan akhir mengapresiasi seni adalah kurang tepat. Karena seni dengan segala perdebatan di dalamnya, baik menggunakan paradigma otonomi sastra, sosiologi yang mengelilingi sastra, atau pembaca serta penulis sastra, akan selalu bermuara pada subjek (manusia). Olehnya itu, Cartesian mengungkap prinsip “I think, therefore I am”. Saya (subjek) lah yang menentukan muara makna, sejak berdialog dengan sebuah karya.

Penciptaan tertinggi dari karya disyaratkan membawa nikmat dan manfaat bagi manusia. Sebagaimana manusia mencipta sesuatu, manusia juga mengambil telaah kritis makna sebagai “values” dalam kehidupan manusia bersama anggota masyarakatnya yang lebih luas. “Values” atau makna yang ada dalam karya, akan terlepas dari bentuknya yang fisik (teks), ketika karya tersebut dibaca dan ditelaah oleh pembacanya.

Mengapa sebuah karya dapat hidup di luar bentuk teksnya? Menurut Foucault, bahasa adalah sistem tanda yang bersifat arbitrer, yang membentuk sendiri dunianya oleh manusia dan faktor lingkungan di luar pengguna sistem tanda (bahasa). Sebagai seperangkat tanda (sign), ia menempatkan diri sebagai wadah untuk bertarung pemikiran yaitu pertarungan kekuatan yang lebih besar kepada kekuatan yang lebih kecil (jika tak ingin disebut; lemah-marginal).

Sastra dengan bahasa sebagai medium, menghendaki tanda sebagai asal usul dari sastra khususnya material puisi. Bahasa juga adalah media untuk segala bentuk tulisan yang menggunakan sistem tanda ini. Kesemuanya itu berdasarkan kesepakatan umat manusia. Dalam perspektif tradisi Ke-Islam-an (termasuk agama monoteisme dan polyteisme), tuhan menyampaikan segala bentuk perintah, tata cara, dan ritus penyembahan kepada manusia melalui kalam atau kata. Kalam atau ayat-ayat tuhan menjadi perantara komunikasi tuhan dengan manusia. Seperti yang disebutkan di awal, tanda yang disuarakan oleh tuhan dimengerti oleh seorang yang ditunjuk oleh-Nya (Nabi) untuk disampaikan kembali pesan-pesan tersebut kepada manusia.

Dalam tradisi kemunculan peradaban manusia, manusia telah mengenal kekuatan yang maha besar berada di luar dirinya (jika Sufi menyadari sebaliknya; Tuhan berada di dalam setiap hati manusia). Manusia menyembah sang Causa Prima dengan ketundukan dan kepasrahan takzim dengan terlebih dahulu meyakini firman-firman tuhan.

Selain hidup di dalam pikiran pembaca, sastra juga hidup dan dilakoni secara saksama oleh pemeluk agama dari firman tuhan yang diyakini. Sastra yang terdiri dari puisi, novel, dan drama. Dimana dua yang disebutkan terakhir, baru muncul kemudian di abad-abad terakhir.

Sejak zaman yang lebih awal, manusia hanya mengenal puisi yang dikategorikan sebagai karya sastra dan bahasanya (ordinary language use). Sebagaimana diafirmasi Johann Gottfried Herder seorang filsuf Jerman (1744-1803): “Im Ersten Anfange Nichts Als Naturliche Poesie”, bahasa pada awal mulanya adalah hanya puisi alamiah saja (Teuw, 1984: 282-283). Pada awalnya manusia mengenal pesan dari bunyi sehingga menimbulkan kekaguman atau impresi bagi dirinya sebab oleh impresi itu datang dari luar dirinya sendiri.

Jika menelisik kembali sejarah novel, maka akan diketemukan bahwa novel dengan teks sejarah pun atau tulisan naratif lainnya tak terlalu dibedakan dan bahkan novel pada awalnya belum dikategorikan sebagai karya sastra jika dicarikan perbedaannya dengan prosa. Namun setelah perkembangan dan “social-judgement” masyarakat, ditentukanlah beberapa ciri khas dari bahasa sastra dibandingkan dengan jenis tulisan lainnya. Dimana pada awalnya, puisi adalah asal-usul dari bahasa.

Bahasa sebagai sistem tanda yang digunakan manusia berisi tanda baca, bunyi, arti, hingga makna adalah bagian entitas yang saling mempengaruhi tindak komunikasi masyarakat sejak zaman awal peradaban manusia. Olehnya itu, puisi adalah enigma pemecah tanda dari lapisan tanda dari bahasa yang digunakan oleh manusia terkhusus oleh seorang sastrawan kepada dunia.

Penulis adalah kritikus sastra dan Penulis Buku Sehimpun puisi “Secarik Rindu Untuk Tuhan” (2019).