Puisi : Selalu Menurut Keinginan Perasaan

Khittah.co – Puisi by Al-Fian Dippahatang Selalu Menurut Keinginan Perasaan

Kendati pengembara Beber Maroko
melunasi janjinya atas nama rindu.
Aku keraskan perasaan tuk datang,
walau kau gurun, kau hutan,
kau lembah, kau pulau
dan aku selalu maut berbaik menjemput.
Meski, tak sedang rindu menemuimu.
Aku memilih melewati arah tanpa peta.
Aku menurut dengan perasaan belaka.

—Diriku: Mengembaralah, sebab jalan luka
berkantung penuh getah di hatinya
abadi ingin sekali lekat di tapak tanganku.

Gugurlah daun—sebab tanah lapang
yang luput dari sapu dan angin tercipta di muka bumi.
Terluka jika waktu punya daya membersihkan rindu.
Dunia adalah sekat yang pekat jika
kaki hanya mampu melangkah cepat
dan pelan bukanlah pilihan.

—Dirimu: Hatimu kembar mengkal jambu
yang dipetik setelah ingatan mengira kisaran hari.
Lalu, lupa seperti pekerjaan sepele yang dimudahkan
kata-kata penyair. Jambu itu pun masak dan jatuh membusuk.
Berkatalah hati yang dimudahkan.

Jauh dari singgah hatiku yang pindah
ke lain hati. Aku justru melamun mengingat
apa yang kulalui bukan hasil mengembara yang baik kepadamu.
Aku kejam yang dendam dengan diriku sendiri.

O pengembara, masihkah kau ada di hatiku
dan mengiringi cintaku yang ingin
memiliki riwayat pengembara luka?

Makassar, 2012-2015
Catatan:

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah (24 Februari 1304-1368) adalah seorang pengembara Berber Maroko. Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia.

Al-Fian Dippahatang adalah Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Bergiat di Komunitas Lamaruddani dan Komunitas Lego-Lego di Makassar. Tulisannya ikut dalam antologi pemenang (Jejak Sajak di Mahakam, 2013 Lanjong Art Festival), (Ground Zero, 2014 Diva Press), dan (Kitab Cinta Kota Batik Dunia, Festival Menulis Puisi Cinta Teater Kita-Dewan Kesenian Kota Pekalongan, 2015 Pustaka Cuwiri). Mengikuti workshop penulisan cerpen Kompas di Makassar Internasional Writers Festival 2015. Twitter: @pentilmerah