Refleksi 55 Tahun IMM, Adibah: Interpretasi Gerakan IMM di Pergulatan ke-Indonesiaan

Adibah. L. Najmy

Oleh: Adibah L. Najmy

(Ketua Bidang Organisasi PC IMM Makassar Timur)

Upaya Memperingati Kelahiran IMM 14 Maret 1964

KHITTAH.CO —  Di usia ke 55 tahun, IMM senantiasa responsif dalam menyoal dinamika keindonesiaan yang pada dasarnya hal itu menjadi agunan bersama secara kemasyarakatan.

Gerakan akan selalu muncul dalam kehidupan masyarakat sampai kapan pun. Hal ini disebabkan karena sebuah gerakan memiliki fungsi yang sangat penting dalam negara, seperti fungsi untuk melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah. Tak lain agar kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak bertentangan dengan konstitusi negara dan tidak merugikan masyarakat. Gerakan selalu dipengaruhi oleh zamannya dengan pelbagai kemajuan zaman pun gerakan semakin berubah terutama akibat kamajuan teknologi.

Gerakan sosial selalu dipengaruhi oleh kondisi sistem politik dalam negara. Ini karena sistem politik bisa menekan gerakan sosial untuk mematikan maupun berusaha untuk membatasi ruang lingkup suatu gerakan. Dalam sistem otoriter gerakan sosial yang dibentuk oleh elemen-elemen bangsa, sangat sulit untuk melakukan tugas dan fungsinya karena rezim otoriter tidak menyukai adanya bermacam gerakan, sebab takut membahayakan kekuasaanya. Sedangkan dalam sistem politik demokrasi, gerakan selalu muncul dan ruang lingkupnya tidak bisa dibatasi. Dengan kata lain, sistem demokrasi memberikan hak kepada masyarakat untuk membentuk organisasi.

Esensi tujuan IMM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah termasuk ke dalam gerakan yang terorganisir. Menilik dari tujuan: Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulai dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Secara garis besar, hal terpenting yang harus dilakukan oleh keder IMM adalah “Menjadi dan membentuk masyarakat islam yang sebenar-benarnya” yang merupakan tujuan dari Muhammadiyah yang ingin dicapai oleh kader IMM.

Esensi dari tujuan IMM amatlah mulia. Begitu banyak akademisi, namun tidak sepenuhnya berakhlak mulia. Begitupun jika menilai dari keberislaman seseorang. Banyak yang mengaku beragama islam, namun tidak semua menjalankan keberislaman sesusi syariat.

Pergulatan keindonesiaan

Realitas kebangsaan belakangan ini terasa menggelitik, semakin memprihatinkan dan memilukan. Selain persoalan kesenjangan dan ketimpangan sosial, juga benturan dengan persoalan kepanikan menghadapi pilkada, perlakuan diskriminasi terhadap perempuan bercadar yang saat ini masih terus menjadi pembahasan hangat di ruang-ruang diskusi, penistaan pancasila, dan sebagainya pun semakin menunjukkan siapa yang hendak memakan siapa. Apalagi, umat juga harus kembali didera dengan pemberitaan kerakusan para pejabat yang yang belum usai diberitakan.

Kegiatan kemasyarakatan dalam hal ini juga termasuk dalam kegiatan high politics, yang secara tidak langsung, bisa memengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force). Hal ini bisa dilihat dari kiprah Muhammadiyah, yang meski tanpa menjadi parpol (atau berafiliasi dengan parpol) yang berorientasi kekuasaan, namun Muhammadiyah mampu membangun kekuatan masyarakat yang cerdas dan mandiri.

Namun, apakah indikator keberhasilan membangun bangsa dapat diukur dengan hanya ketika menjadi pejabat negara? Tentu tidak. Membangun bangsa bukanlah perkara perebutan kekuasaan atau politik praktis belaka. Itu hanya salah satu jalan mewujudkan cita-cita bangsa.

Interpretasi Gerakan IMM

Ranah Gerakan sosial IMM sangat luas, termasuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan memberikan pemberdayaan masyarakat melalui kader-kader yang telah diberikan tugas oleh pimpinannya dalam memberdayakan umat.

IMM berperan penting dalam segala sektor-sektor negara, khususnya dalam sektor sosial, ekonomi politik dan budaya. Peran IMM dalam hal sosial sangatlah besar, bagaimana negara kita masih berada pada bawah garis kemelaratan, di sinilah IMM harus bergerak sebagaimana triologi gerakan yang salah satunya menekankan pada kemasyarakatan.

Saat ini, IMM berada pada zaman yang heroik. Para kader maupun pimpinan perlu penguatan sektor politik yang sudah menghadapi tahun politik. Peran kader sebagai politisi, tak lain untuk menjaga maruwah dan merawat keindonesiaan sebagaimana kapasitas nilai-nilai yang sudah ditanamkan.

Tentu, hal itu menjadi bahan refleksi bahwa sesungguhnya generasi muda pada umumnya dan kader IMM pada khususnya yang harus bersiap menempa diri dalam berjibaku membangun sendi-sendi bangsa yang lebih kukuh. Hal itu juga berkaitan dengan peran kaum kader IMM yang seyogianya mampu memfilter perilaku-perilaku negatif dan merugikan.

Semarak milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang 55 tahun merupakan usia yang sangat mumpuni untuk menjadi tokoh-tokoh peradaban keindonesiaan. Pergelaran milad yang diperingati di sejumlah daerah menggaunkan tema: Meneguhkan Nalar Gerakan untuk Indonesia Berkeadilan.

Di usia yang berkepanjangan ini, IMM diharapkan turut andil, bukan hanya sebagai pemerhati ketimpangan sosial dan politik yang menjadi keresahan masyarakat bertahun-tahun lamanya. Namun lebih dari itu, yakni sebagai aktor yang mampu merawat keindonesiaan di tangan para kader IMM dengan nilai keislaman, kemahasiswaan, dan kemasyarakatimman.