Revolusi Pengharapan (Bag. 1)

Oleh : Saifuddin Al Mughniy

Masa kesatriaan telah surut, digantikan dengan orang-orang yang pandai bicara, ahli-ahli ekonomi dan tukang-tukang hitung” (Edmund Burke)

Yang baik adalah selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan pada setiap saat, kapanpun” (Emil Brunner)

Apa masih ada harapan ?

Pengharapan salah satu elemen paling menentukan dalam menghasilkan perubahan sosial menuju kehidupan kesadaran dan akal budi yang lebih tinggi. Pengharapan di samping berwujud benda, juga berwujud kehidupan yang lebih penuh penghayatan hidup, yang lebih intens, pembebasan dari kebosanan yang tak kunjung berakhir.

Pengharapan bentuknya dapat seperti, Pertama , sikap pasif sebagai bentuk tersembunyi dari ketiadaan harapan dan ketakberdayaan. Digambarkan sebagai pengharapan waktu dan masa depan menjadi kategori sentral model ini. Tiada yang diharapkan pada saat sekarang semua hanya pada saat nanti, besok, tahun depan dan didunia lain nanti.

Kedua, sikap avonturisme dan sikap memaksakan apa yang sebenarnya tak dapat dipaksakan. Mereka lebih suka mati daripada harus mengaku kalah. Mereka tampil berani, polos dan ngogot, namun mereka sendiri kurang menyadari kalau mereka itu tidak realistis, mereka kurang punya strategi dan dalam arti tertentu juga kurang mencintai kehidupan dan Ketiga sikap kritis bahwa pengharapan selalu paradoksal sifatnya. Disini, berharap artinya siap sedia setiap saat untuk menerima apa yang belum lahir dan tidak menjadi kecewa kalau yang diharapakan itu tidak lahir pada saat kita hidup—tidak ada artinya mengharapkan yang sudah ada atau yang tidak mungkin akan ada.

Mereka yang memiliki pengharapan tidak duduk berpangku tangan, juga tidak lalu melakukan kekerasan. Mereka memiliki visi yang kuat dan menghargai semua tanda–tanda kehidupan baru,serta siap setia saat untuk membantu kehidupan baru yang siap lahir.Salah satunya yang paling penting ialah ketidakmampuan kita membedakan antara pengharapan yang disadari dan pengharapan yang tak disadari.

Berharap adalah suatu status keberadaan sebagai suatu kesediaan batin yang kuat namun bukan merupakan aktifitas. Konsep aktifitas merupakan gambaran manusia sukses dalam masyarakat industri modern. Kebudayaan kita kental dengan apa yang namanya aktifitas; aktifitas yang berarti menjadi sibuk—sibuk dalam arti bisnis (business busyness). Apa yang ditakutkan orang modern sekarang ialah ”tidak melakukan apa–apa”. Celakanya, banyak orang mengira diri mereka sangat sibuk, tetapi tidak menyadari, bahwa sebenarnya mereka itu sangat pasif.

Mereka terus-menerus membutuhkan rangsangan dari luar, menjadi buah bibir orang lain (public mania), menonton tv atau film-film, bepergian dan hal-hal lain yang lebih merupakan kesenangan konsumtif. Mereka menganggap diri amat sibuk, karena ada dorongan untuk melakukan sesuatu untuk keluar dari kecemasan yang mengepung saat mereka berhadapan dengan diri mereka sendiri.Pengharapan adalah kondisi psikis yang seiring sejalan dengan kehidupan dan perkembangan.Orang sakit berharap untuk sembuh.seorang tahanan berharap suatu saat menjadi orang merdeka dan orang lapar berharap untuk bisa makan.

Iman

Ketika harapan lenyap, kehidupan berakhir baik secara aktual maupun potensial. Harapan adalah elemen instrinsik struktur kehidupan—elemen instrinsik dinamika roh manusia. Harapan amat dekat kaitannya dengan elemen struktur kehidupan lain, yang juga amat penting, yakni iman (akal budi). Iman adalah keyakinan akan sesuatu yang belum ditunjukan,pemahaman akan kemungkinan nyata yang akan tiba, kesiapsiagaan menyambut lahirnya sesuatu.

Iman itu hadir sekalipun acuannya adalah pengetahuan tentang sesuatu yang belum ada, sebab iman didasarkan pada kemampuan akal budi dan pemahaman yang menembus permukaan dangkal dan melihat inti masalah.Kita tak perlu iman bila sesuatu yang diimani itu dapat di prediksi secara ilmiah. Iman juga tidak diperlukan untuk hal-hal yang sama sekali tidak mungkin.Iman didasarkan atas pengalaman hidup kita, pengalaman yang mengubah diri kita.Iman bahwa orang lain dapat berubah menjadi pengalaman bagi saya bahwa saya pun dapat berubah.

Sebagai elemen instrinsik dinamika roh manusia terdapat perbedaan penting antara iman rasional dan iman irasional. Kalau iman rasional merupakan hasil dari pergumulan batin seseorang, maka iman irasional ialah ketundukan pada sesuatu yang diberikan begitu saja—orang menerima begitu saja sebagai benar tanpa menilai terlebih dahulu apakah itu benar atau salah. Elemen yang mendasari semua iman irasional adalah karakter pasif. Objek imannya adalah sebuah berhala, seorang pemimpin atau suatu ideologi tertentu.
Bersambung……