Rohmatul Izad: Pentingnya Merawat Keragaman

Oleh: Rohmatul Izad (Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta).

KHITTAH.CO — Jika anda membenci seseorang atau kelompok tertentu, sudah pasti anda tidak hanya berurusan dengan perasan benci dalam diri anda sendiri, tetapi kelompok anda juga akan mendapat imbas dari perspeksi dan emosi negatif yang muncul akibat anda tak mampu mengendalikannya. Identitas kebencian itu selalu sama, ia berdampak negatif yang bentuk konkritnya memiliki daya rusak dan memberontak.

Seandainya ruang lingkup kebencian itu subjektif, dalam diri anda sendiri, mestinya tak ada seorangpun yang akan mendapat imbasnya. Tetapi faktanya, subjektifitas kita secara langsung atau tidak, merupakan bentuk identitas kultural bahkan politik yang dalam rasio kebudayaan merupakan bentuk endapan dari pikiran-pikiran yang mencair begitu ia berbaur dengan masyarakat, jika rasa kebencian itu meluap, maka pikiran itu akan pecah dan berimbas pada identitas kultural.

Karakter kebudayaan itu selalu kolektif, ia bersifat melingkupi dan ada cara kerja sendiri-sendiri di mana kebudayaan dapat hidup dalam suatu komunitas tertentu tanpa ada hubungan dialektis dengan komunitas yang lain. Betapapun kompleksnya keragaman budaya dalam masyarakat, ia pada dasarnya tak terhubung satu sama lain. Misalnya, budaya Jawa tak ada hubungan langsung dengan Sunda, Madura atau bahkan Bali. Tetapi semua itu, akan terhubung ketika muncul kekuatan dari luar yang bersifat menghimpun, menyatukan dan menciptakan suasana keragaman dalam perbedaan.

Dalam rasio objektif, keragaman memiliki makna fungsionalnya ketika ada perbedaan. Jika anda berbeda dengan saya, maka seketika itu anda bukan saya dan saya bukan anda. Anda tak akan pernah menjadi saya sebab kita berbeda dan kita tak menginginkan menjadi sama dalam ruang dan waktu tertentu, perbedaan itu seakan abadi untuk menentukan kepastian akan identitas kultural yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan benar dan salah. Itulah perbedaan, ia tak menginginkan menjadi sesuatu yang lain selain dirinya sendiri.
Ini baru pada tataran identitas kultural, di mana pikiran-pikiran kolektif berusaha menjaga dan memastikan bahwa memang demikianlah kebenarannya. Saya tak pernah menginginkan menjadi Arab sebab saya Jawa dan mungkin anda juga demikian, tetapi harus diakui bahwa identitas kultural itu bersifat lentur, ia sangat cair betapapun ia muncul dari pikiran manusia yang mengendap dalam ruang sejarah yang begitu panjang.
Sekarang, mari kita melihat perbedaan-perbedaan lain di luar identitas kultur yang sejak lahir menjadi bagian dari hidup dan menghidupi kita. Perbedaan yang paling mencolok dalam diri manusia adalah sikap subjektifitas absolut yang tak pernah mampu direnggut oleh identitas kolektif, seperti sudut pandang, keputusan-keputusan yang diambil dan perbedaan dalam memecahkan suatu masalah, ini contoh kecil.

Politik, dalam beberapa bentuknya, meracuni pikiran-pikiran manusia ketika ia digunakan dengan cara-cara yang keliru. Politik itu agung, ia tak hanya mampu membaca dunia atau memahaminya, tetapi ia mampu mengubahnya. Ia dapat merubah apapun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, sebab politik berhubungan langsung dengan kekuasaan, selain itu tidak, meskipun ada kecenderungan untuk mengarah pada kekuasaan sampai pada perubahan, seperti pengetahuan dan kebudayaan tentunya.

Sebagai makhluk sosial, kita tak pernah bisa hidup rukun tanpa dapat mengendalikan ketajaman perbedaan kita dengan yang lain, pengendailan itu disebut merawat. Anda boleh saja tidak suka dengan identitas tertentu di luar diri anda, tetapi anda tak akan mampu menolak bahwa perbedaan-perbedaan itu saling merawat satu sama lain tanpa ada motif saling menguasai atau mengendalikan.
Umumnya, motif kekuasaan itu muncul ketika sudah terjalin harmonisasi pemikiran di tingkat keragaman. Tujuannya hanya satu, agar setiap aspirasi dapat dilaksanakan secara bersama-sama tanpa ada yang dirugikan dan hanya berpihak pada satu kelompok tertentu. Misalnya, setiap identitas kultural tertentu, pasti memiliki kriteria tertentu dalam melihat mana yang baik dan mana yang buruk, hukum dibuat, lalu masuk ke semua lini kehidupan kita dengan tidak selalu melihat bentuk baik dan buruk yang kita yakini.
Dalam bentuknya yang paling filosofis, hukum tidak identik atau memiliki keterhubungan secara langsung dengan baik dan buruk, hukum tak ada kaitan dengan itu. Hukum hanya dibuat untuk memastikan kesepahaman bersama, membuat peraturan-peraturan yang dapat menjaga keseimbangan, dalam arti yang paling mewakili, hukum itu kesepakatan, pemberlakuan sesuatu yang selalu bersifat abritrer.

Merawat keragaman itu memiliki banyak bentuk, ia bisa berasal dari kesadaran kolektif, seperti pembentukan hukum dan politik yang mengikatnya, ia juga bisa berasal dari kesadaran individual yang menginginkan daya aman atau mencari aman dengan tidak menganggu identitas lain. Meski yang terakhir ini, tidak selalu terjadi, sebab banyak identitas kultural dalam arti individu, sangat susah dikendalikan dan maunya merusak, yang umumnya ia tak mewakili identitas kulturalnya.

Semakin kita berbeda dengan yang lain, semakin kita membutuhkan pengakuan atas perbedaan itu, maka merawat satu sama lain adalah suatu keniscayaan betapapun kita tak pernah bisa menerima keberadaannya secara esensial. Tak mengapa, bentuk konkrit itu tidak pernah mewakili kesejatian diri kita, maka kepura-puraan menjadi penting dan kitalah yang selalu menjadikan kepura-puraan itu bagian penting dalam menjalani hidup.
Anda memang baik, sebab anda tak pernah menyakiti diri saya, tetapi karena kita berbeda identitas kultural, bahkan berbeda dalam keyakinan, maka kita tak pernah sama. Di sini, ide kebaikan dimunculkan dari universalitas yang entah berasal dari mana, kita mengakuinya sebagai bentuk lain dari merawat dan menghindari konflik sosial.

Satu-satunya alasan mengapa kita menerima liyan, tak lain kecuali kita ingin terhindar dari konflik, dari perpecahan, dari kebencian yang mengarah pada kerusakan, bahkan jika kerusakan itu hanya mengakibatkan jatuhnya satu biji buah saja yang tertanam di halaman rumah kita. Jadi peperangan, tak pernah bisa diterima sebagai satu identitas dalam menjelaskan siapa itu manusia.

Perbedaan dalam hal sudut pandang dan perspesi yang mengarah pada penafsiran yang beragam, tidaklah menujukkan bahwa kita berbeda secara tegas, sebab penafsiran itu sifatnya cair, dalam satu soal atau hal lain, kita dapat menjadi sama sekali berbeda, tetapi akankah itu dapat mengurangi satu dari sekian banyak dimensi dari kedirian kita? tentu tidak. Esensi dari perbedaan, adalah ketika perbedaan itu dapat bersatu dan merawat satu sama lain.