Romansa “Om telolet Om”

tersenyum

Oleh : Ma’ruf Nurhalis

KHITTAH.co – “Om telolet om”…Begitulah teriakan gerombolan anak-anak di pinggir jalan saat bus malam lewat menghampiri mereka. Jika sopir bus malam menanggapi teriakan antusias dari mereka, maka bus itu akan mengeluarkan bunyi klakson yang di bentuk menjadi kalimat “telolet.” Tindakan mereka yang sangat antuisias untuk mendengarkan “telolet” ini rupanya mendapat tanggapan yang antusias juga di sosial media dan menjadi tagar nomor satu di Twiter yang merepresentasikan perhatian dunia. Singkatnya, “Om Telolet om” menjadi Istilah yang sedang naik daun.

“om telolet om” itu adalah mainan anak-anak di Jawa sana, sedangkan anak-anak yang bermain di sekitar daerah Kawasan Industri Makassar tempat tinggalku, bunyi “telolet” dari mobil kontainer adalah bunyi yang lumrah dan menjadi bunyi yang biasa terdengar di telinga mereka.

Di sini anda tak harus berteriak “ om telolet om” untuk mendapatkan bunyi “ telolet” Karena tanpa di minta pun mereka akan membunyikan klakson jika ada kendaraan yang menghalangi. Jadi hampir setiap waktu bunyi “telolet” yang versi kami menyebutnya bunyi “ tara didi tara didi” terdenagr lewat kesibukan lalu lalang mobil pengangkut barang sepanjang jalan Kapasa Raya.

Namun “om Telolet om” dengan cara lain menyita perhatianku, berkat kepopulerannya aku jadi kembali kemasa lalu. Kelakuan anak-anak di jawa sana berteriak “Om telolet om” memiliki keserupaan dengan kelakuan ku di masa kecil dulu. Izinkan aku menggambarkannya.

Aku tinggal di sebuah kampung, namanya Bontojai yang saat itu yang terkena rencana pemerintah untuk membangun kawasan Industri. Di Bontojai ada lorong dengan jalan yang beraspal. Jalan itu penuh dengan polisi tidur.

Setiap jarak 50 m pasti akan ada polisi tidur dengan panjang dan ketinggian yang berbeda. Warga sengaja membuat polisi tidur agar kendaraan bermotor melaju pelan Karena kami anak- anak kampung sering bermain di jalan.

Jalan ini biasanya sudah ramai dengan gerombolan anak yang bengal. Begitu jam sekolah selesai. Lewat jam 12.00 siang. Biasanya kami bermain padende atau balap sepeda. Kadang menjadi seorang kriminal yang menyusun rencana untuk melempar mangga punya orang dan berlomba lari dengan pemiliknya jika rencana itu rupanya gagal. Kadang pula kami hanya duduk di sana bermain wayang, atau sedikit meminggir di bawan pohon mangga dan bermain Baguli. Hingga maghrib tiba.

Di antara kesibukan kami bermain di jalan, ada permainan kami yang mirip dengan “om Telolet om”. Namun bedanya, permainan ini bukan hasil dari janji untuk berkumpul di pinggir jalan lalu berteriak “om telolet om” sambil memberi kode kepada sopir mobil. Permaian kami berjalan secara alami. Baiklah, akan saya jelaskan.

Permainan itu juga menggunakan kendaraan bermobil yang sedang melaju di jalan. Tetapi Tentu saja bukan bus malam, Karena jalan kampung kami cuman seluas 3 meter dan tembus ke persawahan. tetapi sebuah kendaraan “mobil open cap” istilah kami, muat di jalan untuk lalu lalang keluar masuk kampung. Mobil itu biasanya lewat membawa beras atau bahan baku bangunan. Dengan mobil itu, kami menguji ketangkasan dan keberanian dengan menaiki pantat mobil yang sedang melaju.

Agar dapat naik dengan mudah kami menunggu di polisi tidur dan turun di polisi tidur yang berikutnya. Tetapi untuk lebih menegangkan, saat ban belakang mobil itu sudah melewati polisi tidur dan siap untuk tancap gas, barulah kami berlari mengejar agar dapat naik di pantatnya. Itu punya nilai tersendiri di mata anak perempuan bahwa kami adalah lelaki yang pemberani.

Jika anda ingin mencobanya dirumah, aku sarankan pada detik-detik anda akan mendarat di pantat mobil usahakan telapak tangan dulu yang mendarat baru kaki, dan ada baiknya kaki kanan anda mendahuli yang kiri. Teknik ini sangat perlu anda perhatikan. Karena jika kaki yang lebih dulu menderat resiko untuk “ ta’panyu’nyu ( model jatuh dengan wajah yang lebih dulu menyentuh daratan) sangat tinggi”.

Jika anda berhasil naik, maka anda harus pertahankan posisi hingga mencapai polisi tidur berikutnya. Untuk turun dari pantat mobil juga harus menggunakan teknik yang benar. Anda harus mendarat dengan kaki tentunya. Dan lepaskanlah tangan anda ketika posisi polisi tidur berada di antara ban depan dan ban belakang mobil. Jika terlalu cepat, anda mungkin akan kehilangan gigi depan jika melepaskan genggaman pada saat ban depan baru menyentuh polisi tidur. Dan jika terlalu lambat anda harus mencoba turun di polisi tidur yang berikutnya, jika selalu gagal maka anda akan berakhir di tangan orang dewasa. Minimal kena semprot, Telinga jadi merah atau berita kenakalan anda sampai di radio rumah dan anda jadi kena marah habis-habisan di rumah.

Berbeda dengan “Om telolet om” permainan ini menguras fisik dan mental dan tentu saja tergolong permainan yang ekstrim, Karena pikir saja jika pegangan kami tidak kuat maka kami akan terjatuh dan mendarat di aspal yang tidak cocok untuk kulit. Karean jika aspal bertemu dengan kulit, Paling tidak kulit jadi tergores dan berdarah, butuh seminggu darah putih menjalankan perananya tetapi luka itu akhirnya meninggalkan jejak ingatan. Namun itulah jiwa anak-anak. Jika tak berani mencoba maka kenanganmasa kecil hanya akan di penuhi oleh rasa takut.

Begitulah “om telolet om” membawa berkah, Karena aku jadi ingat moment di masa lalu. Kembali menebak identitas teman-teman masa kecil yang berlari mengejar pantat mobil open cap. Namun kini satu persatu aku dan mereka putus jejak. Namun tetap mengingat kenakalan masa kecil yang memupuk keberanian dan kedewasaan.

Beginilah aku memaknai viral “om telolet om” yang rupanya hanya menunjukkan kesederhanan anak-anak yang masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Anak-anak yang berteriak “om telolet om” itu rupanya sedang berdialektika dan mengangumi sebuah bus malam yang dapat mengeluarkna bunyi “telolet” yang menjadi musik indah bagi mereka. Dan begitu juga dengan diriku di masa kecil dulu yang memaknai pantat mobil sebagai ajang kejantanan dan polisi tidur sebagai garis pembuktian.

Dengan “om telolet om” ini kita bisa kembali ke masa kanak-kanak kita, dalam arti bahwa kita mampu kembali kepada kesederhanan dan kejujuran hidup. Mengagumi sesuatu sampai rela menunggu setiap bus malam yang lewat demi bunyi “telolet”. Atau anda juga bisa menjadi pengagum pantat mobil. Patutlah kiranya kita bersyukur Karena hal yang sederhana mampu untuk menyita perhatian dunia.